Lewati ke konten

Semangat Kampung Pancasila Giatkan Gerakan Pilah Sampah Warga Simokerto Jaga Kelestarian Kali Tebu

| 6 menit baca |Kali Tebu | 5 dibaca
  • Pendampingan Kampung Mozaik oleh Ecoton sukses mengubah perilaku warga Simokerto, Surabaya. Limbah dapur kini diolah mandiri demi kelestarian Kali Tebu dan Kampung Pancasila 2026.
  • Guna menyambut Lomba Kampung Pancasila 2026, warga Simokerto gencar memilah sampah organik. Kolaborasi bersama Ecoton ini terbukti ampuh menjaga kebersihan lingkungan bantaran Kali Tebu.
  • Riset AKSA mencatat sampah organik warga Simokerto mencapai 45,5 persen. Berkat pendampingan intensif Ecoton, limbah rumah tangga kini diubah menjadi kompos serta eco-enzyme.
  • Bukan sekadar mengejar juara Lomba Kampung Pancasila 2026, Kelurahan Simokerto dan Ecoton fokus menggerakkan kesadaran swadaya warga dalam mengelola sampah di sepanjang Kali Tebu.
  • Hasil audit kemasan di Simokerto dorong penerapan Extended Producer Responsibility. Bersama Ecoton, warga perkuat pengelolaan sampah mandiri demi mewujudkan kawasan bersih bebas limbah.

PENDAMPINGAN Kampung Mozaik sukses menggiatkan perubahan perilaku warga Kelurahan Simokerto, Surabaya, dalam mengelola sampah rumah tangga. Program yang didampingi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) ini, secara konsisten telah memperkuat pengelolaan sampah di sepanjang aliran Kali Tebu.

Langkah ini selaras dengan persiapan Kelurahan Simokerto menyambut Lomba Kampung Pancasila 2026 yang diikuti sebanyak 1.360 RW digelar Pemerintah Kota Surabaya dan berlangsung bulan September – Desember 2026 .

Lurah Simokerto, Arief Insani, mengungkapkan bahwa aktivitas pengelolaan sampah di wilayahnya sebenarnya sudah berjalan lama. Kesadaran warga terutama terlihat pada pemilahan sampah anorganik. Meski demikian, ia mengakui adanya kendala terkait keterbukaan dan kebiasaan warga di tengah masyarakat.

“Wargaku itu apa ya, kalau dibilang sudah kesehariannya seperti itu. Cuman dalam segi beberapa hal kayak Kampung Madani itu sudah berjalan, cuman terkadang warga itu kan tidak open ya. ‘Aku nyumbang kok diketok-ketokno Kelurahan,’ lah kayak gitu loh,” ujar Insani saat dihubungi, Jumat (18/9/2026).

Selain masalah keterbukaan, lanjut Insani, pengolahan sampah organik juga kerap menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. “Yang agak berat itu sampah organik, sampah rumah tangga,” lanjutnya.

Insani menjelaskan, hadirnya pendampingan dari Ecoton sangat membantu warga. Rata-rata warga, kini sudah memahami metode penanganan sampah organik dari rumah. Melalui edukasi intensif, masyarakat mulai terbiasa mengolah sampah dapur menjadi kompos hingga eco-enzyme.

Tak hanya soal sampah, berbagai aksi sosial dan layanan kesehatan masyarakat juga terus berjalan rutin di tingkat RW. Insani menyebutkan, pilar-pilar kegiatan sosial seperti penanganan gotong royong warga telah lama terwujud.

BACA JUGA:  KSH Kapasmadya Baru Surabaya Perkuat Pengelolaan Sampah Organik Mandiri dari Rumah

“Kader Surabaya Hebat (KSH) juga rutin menggelar pemeriksaan jentik nyamuk setiap hari Jumat, disertai pemantauan stunting secara berkala,” ungkapnya.

Fasilitas Posyandu Keluarga (Posga) juga turut dilengkapi sarana penunjang seperti tensimeter, alat tes gula darah, hingga asam urat. Sementara untuk capaian Identitas Kependudukan Digital (IKD), pihak kelurahan terus mengejar penyelesaian target walau secara data telah mencapai 100 persen.

“IKD kita secara data memang sudah 100 persen. Cuman kan kalau yang di luar kota itu masih belum kita jangkau,” kata Insani menambahkan bahwa pendaftaran warga yang berada di luar kota akan dilakukan secara bertahap saat mereka pulang.

Lurah Simokerto Arief Insani memegang mikrofon saat menyampaikan pandangannya dalam kegiatan Kampung Pancasila 2026. | Dok. Tonis Afianto

#Data AKSA dan Brand Audit Kemasan

Berbagai inisiatif ini menandai melesatnya kesadaran lingkungan warga Simokerto. Hal tersebut terbukti di RT 04 RW 13 berdasarkan riset Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) yang dilakukan selama delapan hari.

Riset yang digelar pada 16–23 Juli 2026 yang melibatkan 55 rumah tangga saat itu. Telah mencatat timbulan sampah yang terkumpul mencapai 354,58 kilogram, dengan rata-rata 0,8 kilogram per rumah tangga setiap harinya.

Hasil analisis sampah organik mencapai 45,5 persen dari total timbulan. Sampah daur ulang berada pada angka 34,5 persen dengan jenis meliputi botol plastik PET, kaleng, kertas, dan logam. Sementara sisanya berupa sampah residu dan popok yang ditemukan dalam jumlah signifikan.

Dalam kegiatan AKSA juga melakukan brand audit terhadap sampah kemasan rumah tangga. Hasilnya mencatat sejumlah merek produsen dengan jumlah temuan tertinggi, antara lain Wings sebanyak 471 kemasan, disusul Indofood 378, Mayora 186, dan Ajinomoto 178. Temuan berikutnya meliputi Java Prima Abadi (128), Unilever (94), Santos Jaya Abadi (93), P&G (76), Motasa Indonesia (64), serta Tirta Freshindo Jaya (60).

BACA JUGA:  Menghukum dengan Perahu: Cara Unik Surabaya Mendisiplinkan Warga Kali Tebu

Laporan riset ini menilai, warga Kelurahan Simokerto, telah menunjukkan bahwa persoalan sampah erat kaitannya dengan pola konsumsi dan desain kemasan industri. Karena itu, laporan merekomendasikan perlunya tanggung jawab produsen melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR).

Selain itu AKSA juga mencatat dalam audit, kemasan makanan dan pembersih, ditemukan kemasan rokok, seperti Djarum (78 temuan), Marlboro (18), Gajah Baru (17), dan Chief (8).

Praktisi zero waste ECOTON, Tonis Afrianto, memaparkan hierarki pengelolaan sampah kepada peserta pelatihan Kampung MOZAIK di Kelurahan Simokerto, Surabaya. Materi menekankan pentingnya mengurangi sampah sejak dari sumber sebelum penggunaan kembali dan daur ulang. | Dok ECOTON

#Pendampingan Menyasar Lingkungan dan Kali Tebu

Sementara itu, Praktisi Zero Waste Ecoton, Tonis Afianto, menjelaskan bahwa konsep Kampung Mozaik memiliki keterkaitan erat dengan pilar Kampung Pancasila. Pendampingan tersebut difokuskan pada pilar lingkungan hidup sekaligus merawat budaya gotong royong.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kata Tonis, tiga kelurahan yang didampingi Ecoton meliputi Kelurahan Simokerto di Kecamatan Simokerto, Kelurahan Kapas Madya Baru di Kecamatan Tambaksari, serta Kelurahan Tanah Kalikedinding di Kecamatan Kenjeran.

“Ecoton di Surabaya melalui kerja sama dengan DLH sudah menawarkan kerja sama,” ujar Tonis.

Tonis memaparkan, pilar lingkungan dalam Kampung Pancasila mencakup berbagai indikator penting. Di antaranya adalah pemilahan sampah, pengurangan limbah, pengelolaan sampah organik, serta keaktifan kader bank sampah.

Kelestarian sungai juga menjadi poin krusial dalam penilaian pilar lingkungan. Melalui pilar ini, warga didorong memastikan sampah domestik maupun kotoran, tidak dibuang langsung ke aliran sungai (zero ODF).

Kelurahan Simokerto sendiri menaungi 14 RW, dengan RW 13 dan RW 14 yang kawasannya bersentuhan langsung dengan aliran Kali Tebu. Pendampingan Ecoton saat ini berfokus di RW 13 yang berada di tepi sungai utama, sedangkan RW 14 berada di sekitar anak sungai yang lebih kecil.

BACA JUGA:  Hasil Audit Merek Kelurahan Mrican Kota Kediri: Wings dan Mayora Jadi Produsen Sampah Terbanyak

Di luar pendampingan utama, inisiatif mandiri juga tumbuh dari warga. Di RW 10 misalnya, warga secara swadaya membangun sumur komposter untuk mengolah sampah daun kering dari taman. Tak hanya itu, ketertarikan warga untuk mengembangkan budidaya maggot juga kian meningkat.

Sampah organik mendominasi timbulan rumah tangga Simokerto, mencapai 45,5% dan menjadi fokus pengelolaan dari rumah. | Desain AI

#Kampung Pancasila Jadi Ruang Perluasan Edukasi

Tonis menambahkan bahwa Kampung Pancasila tak hanya menilai sektor lingkungan, tetapi juga mencakup pilar ekonomi, sosial masyarakat, dan kemasyarakatan.

Pilar ekonomi mengukur potensi UMKM dan geliat usaha di kawasan kelurahan. Pilar sosial menyoroti kepedulian serta aksi gotong royong antarwarga. Sementara itu, aspek kemasyarakatan menilai tingkat keamanan lingkungan, seperti keaktifan pos kampling dan keberadaan CCTV.

Atas rekam jejaknya, Ecoton dipercaya Pemerintah Kota Surabaya untuk menjadi salah satu tim juri Lomba Kampung Pancasila 2026. Kepercayaan ini, kata Tonis, menjadi ruang strategis memperluas edukasi pengurangan sampah ke wilayah yang lebih luas.

Prinsip zero waste akan terus dikampanyekan Ecoton, meliputi pengurangan sampah, penggunaan wadah guna ulang, hingga pengolahan 3R.

“Mikroplastik, kemudian menjaga sungai supaya lestari, dan banyak lagi,” kata Tonis.

Terkait target ajang Lomba Kampung Pancasila 2026 ini, Insani mengungkapkan harapan agar Kelurahan Simokerto bisa meraih gelar juara. Meski demikian, ia menegaskan, kemenangan merupakan bonus semata. Bagi seorang lurah, menggerakkan partisipasi dan kesadaran warga dalam menjaga lingkungan merupakan capaian tertinggi dan hadiah yang paling berharga.

“Juara ini saya anggap bonus. Tapi kalau warga saya mau bergerak dan melakukan kegiatan ini, itu sudah alhamdulillah, hadiah yang terindah bagi seorang lurah,” ujar Insani.

Ia menambahkan, apabila kelurahannya berhasil membawa pulang hadiah yang dijanjikan Wali Kota Surabaya (Eri Cahyadi), hal ini menurut Insani, akan menjadi nilai tambah yang memicu semangat warga untuk semakin gencar menjaga lingkungan.

“Kalau dapat bonus warga saya meraih hadiah yang diutarakan Pak Wali, itu tambah bonus lagi. Warga tentu makin senang dan makin kencang semangatnya,” lanjutnya. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *