Lewati ke konten

Sensus Ikan Kali Surabaya 2026: Jendil Mendominasi, Ikan Betina Tiga Kali Lebih Banyak

| 6 menit baca |Advertisement | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: ADV Editor: Supriyadi
  • Kelestarian Sungai Sensus Ecoton di Kali Surabaya menemukan 71 ekor ikan dari 7 jenis. Ikan Jendil mendominasi populasi hingga 62 persen.
  • Ketimpangan Populasi Populasi betina mendominasi Kali Surabaya hingga 77,6 persen, sekitar 3,5 kali lipat lebih banyak daripada jumlah ikan jantan.
  • Ukuran Ikan Rengkik menjadi jenis ikan terbesar yang ditemukan dalam sensus Kali Surabaya 2026, dengan panjang rata-rata mencapai 51 sentimeter.
  • Kategori Ikan Selain Jendil dan Rengkik, sensus mencatat keberadaan ikan ekonomis penting seperti Bader Merah, Bader Putih, Nilem, Palung, dan Muraganting.
  • Harapan Ekosistem Hasil sensus menjadi dasar penting pemulihan Kali Surabaya. Upaya restocking harus dibarengi dengan perbaikan kualitas habitat secara berkala.

KEHIDUPAN ikan di Kali Surabaya masih menyisakan harapan. Hasil sensus ikan yang dilakukan Lembaga konservasi lahan basah Ecoton kerja bareng dengan PT Petrokimia Gresik (Persero), melalui program Petro Tirta menemukan 71 ekor ikan dari tujuh jenis di empat segmen sungai.

Jendil (Pangasius polyuranodon) menjadi jenis yang paling banyak ditemukan dengan populasi 44 ekor atau sekitar 62 persen dari seluruh ikan yang tercatat. Selain Jendil, sensus menemukan Bader Merah (Barbonymus rubripinnis), Bader Putih (Barbonymus gonionotus), Nilem (Osteochilus hasseltii), Rengkik (Hemibagrus nemurus), Palung (Hampala macrolepidota), dan Muraganting (Lobocheilos hasselti).

Koordinator Program Petro Tirta, Amalia Fibrianty, mengatakan temuan dalam sensus yang digelar pada 12–13 September ini, menunjukkan Kali Surabaya masih memiliki kehidupan ikan yang dapat dipertahankan. Kondisi itu, menurut dia, membuka peluang untuk mendorong upaya pemulihan populasi ikan lokal, termasuk melalui restocking dan perbaikan budidaya.

“Hasil sensus menunjukkan masih ada kehidupan ikan di Kali Surabaya. Ini menjadi harapan bahwa upaya pemulihan ekosistem masih bisa dilakukan, termasuk melalui restocking dan penguatan budidaya ikan lokal,” kata Amalia.

BACA JUGA:  Sachet dan Subsidi Terselubung Negara di Balik Krisis Lingkungan Indonesia
Wadah budidaya ikan lokal disiapkan sebagai bagian dari upaya pelestarian dan penguatan populasi ikan asli Kali Surabaya. | Foto: Fully Syafi

Menurut Amalia, keberadaan berbagai jenis ikan perlu diikuti dengan upaya menjaga kualitas habitatnya. Restocking, kata dia, tidak cukup jika kondisi sungai sebagai tempat hidup ikan tidak diperbaiki.

Restocking harus berjalan, juga harus kita lakukan perbaikan habitat. Ikan sangat membutuhkan sungai yang sehat, agar tumbuh, juga berkembang biak, sehingga bisa mempertahankan populasinya,” ujarnya, Rabu, (16/9/2026).

#Betina Mendominasi, Jantan Hanya 22,4 Persen

Dari 71 ikan yang tercatat, jenis kelamin berhasil diidentifikasi pada 67 ekor. Hasilnya menunjukkan ikan betina mendominasi dengan 52 ekor atau 77,6 persen, sedangkan ikan jantan berjumlah 15 ekor atau 22,4 persen.

Sebanyak 71 ekor ikan tercatat dalam Sensus Kali Surabaya 2026, tersebar di empat segmen dari Perning hingga Legundi. | Sumber: Sensus Kali Surabaya 2026

Dengan komposisi tersebut, jumlah ikan betina sekitar 3,5 kali lebih banyak dibandingkan ikan jantan. Empat ikan lainnya tidak dimasukkan dalam perhitungan karena jenis kelaminnya tidak berhasil diidentifikasi.

Komposisi jenis kelamin tersebut menjadi salah satu informasi penting dalam membaca kondisi populasi ikan. Namun, angka tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan struktur populasi ikan Kali Surabaya secara keseluruhan karena hasil sensus merupakan gambaran berdasarkan lokasi, waktu, dan ikan yang berhasil ditemukan.

Komposisi ikan dalam Sensus Kali Surabaya 2026 menunjukkan 52 ekor betina (77,6%) dan 15 ekor jantan (22,4%) dari 67 ikan yang teridentifikasi jenis kelaminnya. | Sumber: Sensus Kali Surabaya 2026

#Rengkik Punya Ukuran Terbesar

Selain jumlah dan komposisi jenis kelamin, sensus juga mengukur panjang serta berat ikan. Hasilnya menunjukkan adanya variasi ukuran yang cukup lebar antarjenis.

Rengkik menjadi ikan dengan rata-rata panjang total terbesar, yakni 51 sentimeter, dengan rata-rata berat 1,398 kilogram dari empat individu yang ditemukan.

Jendil, sebagai ikan yang paling dominan, memiliki rata-rata panjang 35,3 sentimeter dan berat 0,623 kilogram dari 44 individu.

Bader Putih memiliki rata-rata panjang 28 sentimeter dan berat 0,361 kilogram. Palung memiliki rata-rata panjang 25 sentimeter dengan berat 0,226 kilogram. Sementara Bader Merah dan Nilem masing-masing memiliki rata-rata panjang 23,5 sentimeter dan berat 0,218 kilogram.

BACA JUGA:  Perum Jasa Tirta I Dukung Zero Waste Academy 2026

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Rata-rata panjang ikan dalam Sensus Kali Surabaya 2026 bervariasi, dengan Rengkik mencapai 51 cm, Jendil 35,3 cm, dan Bader Putih 28 cm. | Sumber: Sensus Kali Surabaya 2026

Muraganting juga tercatat memiliki berat 0,218 kilogram, tetapi hanya ditemukan satu individu. Karena itu, data tersebut belum dapat menggambarkan karakteristik populasi Muraganting secara umum.

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, yang memimpin langsung kegiatan penelitian bersama empat nelayan asal Jombang, mengatakan sensus tidak hanya bertujuan menghitung jumlah ikan. Data tersebut juga digunakan untuk melihat jenis ikan yang masih bertahan serta ukuran individu yang ditemukan di Kali Surabaya.

“Kami ingin melihat kehidupan yang masih bertahan di Kali Surabaya. Nelayan memiliki pengetahuan lapangan yang penting karena mereka berinteraksi langsung dengan sungai. Dari sensus ini kita bisa mengetahui jenis ikan apa yang masih ditemukan, berapa jumlahnya, dan bagaimana ukurannya,” kata Prigi.

Rata-rata berat ikan dalam Sensus Kali Surabaya 2026 bervariasi. Rengkik memiliki bobot rata-rata tertinggi 1,398 kg, disusul Jendil 0,623 kg dan Bader Putih 0,361 kg. | Sumber: Sensus Kali Surabaya 2026

Menurut Prigi, keberadaan ikan lokal menjadi salah satu indikator yang penting dalam melihat perubahan kondisi sungai. Karena itu, pencatatan secara berkala diperlukan agar perubahan populasi dapat diketahui dari waktu ke waktu.

“Sungai bukan hanya soal kualitas air yang diukur dari parameter kimia. Keberadaan ikan juga memberikan cerita tentang kondisi ekosistem. Kalau kita ingin memulihkan Kali Surabaya, maka ikan lokal harus menjadi bagian dari perhatian,” ujarnya.

#Tujuh Jenis Ikan, Dasar Data Sensus Lanjutan

Secara keseluruhan, sensus mencatat tujuh jenis ikan dengan total 71 individu. Selain Jendil sebagai jenis yang paling dominan, terdapat Bader Merah, Bader Putih, dan Nilem yang dalam materi sensus disebut sebagai ikan ekonomis penting.

Sementara Rengkik, Palung, dan Muraganting tercatat sebagai jenis asli lainnya yang ditemukan selama sensus.

BACA JUGA:  MOZAIK: Operasi Bersih Trash Boom Kali Tebu Surabaya, Angkat 13 Ton Sampah
Hasil Sensus Ikan Kali Surabaya 2026 mencatat 71 ekor dari tujuh jenis. Jendil mendominasi, sementara ikan betina mencapai 77,6 persen. | Sumber: Sensus Kali Surabaya 2026

Amalia mengatakan data tersebut dapat menjadi data dasar untuk pemantauan berikutnya. Sensus yang dilakukan berulang dengan lokasi dan metode yang terukur dapat membantu melihat apakah populasi ikan mengalami peningkatan, penurunan, atau perubahan komposisi.

“Data ini adalah titik awal. Ke depan perlu ada sensus secara berkala sehingga kita bisa melihat perubahan populasi ikan di Kali Surabaya. Dari sana, upaya pemulihan bisa dilakukan berdasarkan data, bukan hanya perkiraan,” kata Amalia.

Temuan sensus sekaligus memperlihatkan bahwa pemulihan sungai tidak dapat dipisahkan dari keberadaan organisme yang hidup di dalamnya.

“Ketika ikan masih ditemukan, peluang untuk mempertahankan dan memulihkan ekosistem tetap terbuka, tetapi keberlanjutannya bergantung pada kondisi habitat, kualitas air, ketersediaan pakan, serta perlindungan terhadap ruang hidup ikan,” ujar Amalia menjelaskan. ***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *