Perum Jasa Tirta I mendukung Zero Waste Academy sebagai upaya kolaboratif lintas wilayah untuk memperkuat pengendalian sampah dan menjaga keberlanjutan Sungai Brantas.
Perum Jasa Tirta I menegaskan pentingnya kolaborasi lintas wilayah dalam pengendalian sampah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Sungai yang membentang dari hulu hingga hilir ini tidak bisa dikelola secara parsial, karena pencemaran di satu wilayah akan berdampak langsung pada wilayah lain.

“Sungai Brantas adalah satu kesatuan dari hulu sampai hilir. Kalau pengelolaan sampah tidak dilakukan bersama-sama, pencemaran akan terus berpindah dari satu daerah ke daerah lain,” ujar Aulia Agusta Alamsjah dari Perum Jasa Tirta I saat menjadi pemateri dalam kegiatan Zero Waste Academy (ZWA) yang digelar ECOTON Foundation di Kota Kediri, Kamis (29/1/2026).
Pernyataan tersebut menjadi dasar dukungan Perum Jasa Tirta I terhadap Zero Waste Academy, sebuah program pembelajaran strategis yang mendorong penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis pengurangan dari sumber.
Peserta yang hadir hingga hari terakhir, Sabtu, (31/1/2026), perwakilan dari 10 kota dan kabupaten di Jawa Timur yang berada di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, antara lain Kota Kediri, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Gresik, Kota Surabaya, dan Kota Batu.
Serta Kota Malang, Kabupaten Jombang, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, terdapat satu peserta dari luar Jawa Timur, yakni Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Kegiatan yang melibatkan unsur Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah desa dan kelurahan, akademisi, serta komunitas.
Zero Waste Academy dirancang sebagai ruang belajar lintas sektor untuk menyatukan perspektif kebijakan, teknis, dan praktik lapangan dalam menghadapi krisis sampah yang semakin menekan ekosistem sungai, khususnya Sungai Brantas.

#Praktik Nyata Pengelolaan Sampah dari Hulu
Sebagaimana dalam berita sebelumnya, kegiatan Zero Waste Academy dibuka oleh Direktur Eksekutif ECOTON, Dr. Daru Setyo Rini. Hadir pula Asisten II Pemerintah Kota Kediri, Drs. Hery Purnomo, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri, Indun Munawaroh, S.STP.
Dalam sambutannya, Asisten Wali Kota Kediri menyampaikan, Pemerintah Kota Kediri menyambut baik pelaksanaan Zero Waste Academy. Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti pada diskusi, melainkan menghasilkan praktik konkret yang dapat direplikasi di masyarakat.
“Zero Waste Academy harus mampu mendorong penerapan langsung di lapangan. Bukan hanya menjadi forum berbagi gagasan, tetapi menghasilkan perubahan nyata dalam pengelolaan sampah,” ujar Hery Purnomo.
ECOTON melalui ZWA menekankan bahwa pendekatan pengurangan sampah dari sumber merupakan kunci utama untuk mengatasi pencemaran sungai. Pengelolaan sampah tidak bisa lagi bertumpu pada tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi harus dimulai dari rumah tangga, desa, dan komunitas.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPendekatan ini sejalan dengan tantangan nyata di wilayah DAS Brantas, di mana beban sampah sebagian besar berasal dari aktivitas domestik, sementara sistem pengelolaan di tingkat desa masih lemah.
#Sampah Tekan Fungsi Vital Sungai Brantas
Sebagai badan usaha milik negara (BUMN) yang mengelola sumber daya air, Perum Jasa Tirta I memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas Sungai Brantas.
Tugasnya meliputi pengelolaan air baku, irigasi pertanian, pengendalian banjir, hingga operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Namun dalam praktiknya, Perum Jasa Tirta I juga harus menangani sampah yang terlanjur masuk ke badan sungai. Upaya tersebut dilakukan melalui pemasangan trash barrier di titik-titik strategis untuk mencegah sampah masuk ke infrastruktur penting seperti bendungan dan waduk.
“Sampah yang terkumpul kami angkut secara rutin dan dibuang ke tempat pembuangan akhir. Di Waduk Sengguruh saja, volume sampah yang kami tangani mencapai sekitar 35.000 meter kubik per tahun,” jelas Aulia dalam sesi workshop.
Menurut Aulia, Sungai Brantas yang mengaliri 17 kabupaten dan kota di Jawa Timur kini menghadapi tekanan serius akibat timbulan sampah domestik dan plastik. Sampah tidak hanya merusak ekosistem sungai, tetapi juga mengganggu layanan air, irigasi, dan pembangkit listrik yang sangat bergantung pada kondisi sungai.
Data Konsorsium Brantas periode 2019–2024 menunjukkan sekitar 57,1 persen limbah padat di wilayah Sungai Brantas berasal dari aktivitas rumah tangga. Ketimpangan layanan pengelolaan sampah juga masih tinggi. Di wilayah perkotaan, cakupan layanan pengumpulan sampah mencapai sekitar 64 persen, sementara di pedesaan baru sekitar 15 persen. Kondisi ini mendorong praktik pembuangan sampah langsung ke sungai.
Ancaman lain yang tidak kalah serius adalah mikroplastik. Aulia mengungkapkan bahwa mikroplastik, yang berasal dari degradasi plastik dan serat tekstil, telah ditemukan pada ikan di Sungai Brantas. “Ini berpotensi masuk ke rantai makanan manusia,” ujarnya.
Peserta Zero Waste Academy dari Dinas Lingkungan Hidup Jombang, Luthfi, menilai pendekatan zero waste sebagai kunci pencegahan pencemaran. “Selama ini sungai sering dianggap hanya sebagai penerima dampak. Lewat Zero Waste Academy, kami diingatkan bahwa perlindungan sungai harus dimulai dari darat, dari rumah dan desa,” katanya.
Melalui Zero Waste Academy, Perum Jasa Tirta I mendorong penguatan pengelolaan sampah dari hulu, terutama di desa-desa tepian Brantas. Dukungan ini menegaskan bahwa perlindungan Sungai Brantas membutuhkan kerja bersama antara pengelola sumber daya air, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil agar kualitas sungai tetap terjaga secara berkelanjutan.***

*) Jofan Ahmad Arianto, mahasiswa Fakultas Kesehatan Sains dan Psikologi Universitas Sunan Gresik, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Satmata, dan aktif di Ecological Observation dan Wetlands Conservation (Ecoton)