Lewati ke konten

Menolak Punah di Tengah Tekanan Manusia: Dari Satwa Langka Andes hingga Ironi Plastik Kali Surabaya

| 6 menit baca |Eksploratif | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadjaya Editor: Marga Bagus

Tikus rawa Andes, ikan Peru, sampai Kali Surabaya penuh plastik, muncul di tengah krisis ekologi dan tekanan manusia global.

Kabut turun pelan di Alto Mayo, Peru utara. Aroma tanah basah naik dari sela akar, lumut, dan batang pohon tua yang lembap. Dari kejauhan, kawasan pegunungan yang menghubungkan Andes dan Amazon itu tampak hijau dan tenang. Burung bersahut dari kanopi hutan. Air rawa mengalir pelan di sela semak.

Tapi ketenangan itu tipis.

Kebun kopi terus naik ke lereng. Ladang jagung buka petak baru. Jalan tanah masuk makin jauh ke kawasan hutan. Permukiman tumbuh rapat di beberapa titik yang dulu masih tertutup pepohonan.

Begitulah suasana yang digambarkan Eli Wizevich dalam laporan panjang di Smithsonian Magazine pada 23 Desember 2024. Tulisan itu mengikuti hasil ekspedisi Conservation International di Alto Mayo, Peru, kawasan yang justru menyimpan ledakan biodiversitas saat tekanan manusia makin besar.

Selama 38 hari pada 2022, tim peneliti menyusuri sungai kecil, rawa, lantai hutan, sampai lereng pegunungan yang sulit dijangkau. Hasilnya membuat banyak ahli terdiam.

Ada 27 spesies baru yang muncul dari kawasan dengan aktivitas manusia cukup padat. Empat mamalia, delapan ikan, tiga amfibi, dan sepuluh kupu-kupu.

Laporan setebal 474 halaman itu memotret satu kenyataan yang terasa ironis. Alam kadang menyembunyikan kehidupan paling rapuh tepat di wilayah yang nyaris kalah oleh tekanan ekonomi.

“Orang dulu menduga pengaruh manusia yang masif membuat tingkat keanekaragaman hayati rendah,” kata Direktur Senior Biodiversitas dan Ilmu Ekosistem Conservation International, Trond Larsen. “Yang kami lihat justru berbeda.”

Tim peneliti mencatat 2.046 spesies flora dan fauna. Dari jumlah itu, 49 spesies masuk kategori terancam menurut International Union for Conservation of Nature atau IUCN.

Ada monyet wol kuning berekor Peru. Ada pula monyet titi San Martin yang kini masuk kategori kritis. Primata-primata itu hidup di fragmen hutan yang terus menyempit.

Pembukaan lahan jadi ancaman paling terasa.

Dalam satu dekade terakhir, bentang Alto Mayo berubah cepat. Dari udara, kawasan hijau tampak pecah oleh jalan tanah, kebun kopi, dan ladang jagung. Di beberapa titik, suara mesin gergaji terdengar lebih dominan dibanding suara satwa liar.

Di sela rawa kecil yang tersisa, tim peneliti menemukan salah satu hewan paling ganjil dari ekspedisi tadi. Seekor tikus amfibi langka dengan kaki berselaput.

Hewan pengerat karnivora itu hidup di rawa dangkal yang makin terdesak ekspansi kebun.

Larsen menyebut tikus tadi punya reputasi “mitologis” di kalangan ahli mamalia.

“Sangat sulit ditemukan,” ujar Larsen.

Peneliti cuma menemukan satu populasi kecil di petak rawa terisolasi. Jika kawasan itu hilang, peluang spesies tadi ikut punah sangat besar.

Temuan lain muncul dari sungai pegunungan Peru. Seekor ikan lele lapis baja dari genus Chaetostoma menarik perhatian lantaran bentuk kepalanya aneh. Di bagian hidung muncul tonjolan besar seperti gumpalan daging.

Pakar ikan dari Louisiana State University, Prosanta Chakrabarty, menduga organ itu dipakai mendeteksi mangsa di dasar sungai berbatu. Sampai sekarang fungsi pastinya belum jelas.

Yang menarik, masyarakat adat Awajun ternyata sudah lama mengenal ikan tadi. Bagi warga lokal, makhluk itu bukan spesies baru. Sains modern yang datang terlambat mencatat.

Di banyak wilayah hutan tropis, pengetahuan masyarakat adat sering kali jauh lebih tua dibanding arsip ilmiah.

Supriyadi dan Prigi Arisandi hanyut mengikuti arus Kali Surabaya. Di sepanjang perjalanan, mereka merekam plastik, bantaran rusak, dan ancaman bagi ikan sungai. | Dok Ecoton

#Sungai Menyimpan Arsip Kehidupan Sunyi

Cerita lain datang dari Afrika Barat.

Sungai Corubal membelah Guinea dan Guinea-Bissau sepanjang sekitar 560 kilometer. Salah satu sungai bebas terakhir di kawasan itu. Belum banyak bendungan besar. Kota besar juga nyaris tak ada.

Manuel Lopes-Lima dari University of Porto datang ke lokasi itu dengan pendekatan berbeda dibanding ekspedisi biologi lama. Timnya memakai environmental DNA atau eDNA.

Teknologi tadi memungkinkan peneliti melacak jejak kehidupan hanya lewat sampel air sungai.

Air menyimpan serpihan biologis seperti sel kulit, lendir, darah, hingga air liur dari makhluk hidup yang melintas di dalamnya. Semua terbawa arus lalu dibaca di laboratorium.

Cara itu jauh lebih aman dibanding menyelam di sungai yang penuh buaya Nil dan kuda nil.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Kami tak menyangka menemukan keragaman sebesar ini,” kata Lopes-Lima.

Dari sampel air saja, tim berhasil mengidentifikasi 125 spesies vertebrata.

Ada simpanse barat berstatus kritis. Ada kelelawar buah Mesir. Ada pula burung gray-throated rail yang sebelumnya belum pernah tercatat hidup di Guinea-Bissau.

Teknologi eDNA perlahan mengubah cara ilmuwan membaca ekosistem sungai. Dulu peneliti harus menangkap ikan, masuk hutan, atau memasang perangkap kamera selama berbulan-bulan. Sekarang setetes air bisa membuka peta biodiversitas yang selama puluhan tahun gelap.

Sungai ternyata menyimpan arsip kehidupan tanpa suara.

Dulu hidup di Kali Brantas, kini sulit ditemukan. Sungai tercemar membuat banyak ikan lokal menghilang satu per satu. | Dok Ecoton

#Di Indonesia, Kisah Sungai Membawa Ironi Jauh Lebih Dekat.

Sabtu pagi, 30 Mei 2026, dari Pintu Air Mlirip, Mojokerto menuju Wringinanom, Gresik. Tim “Ngintir Kali Surabaya” yang hanya mengenangkan pelampung, menyusuri aliran sungai sambil mencatat kondisi bantaran.

Cuaca cukup terik. Permukaan air tampak cokelat keruh. Plastik tersangkut di ranting pohon seperti kain kusam yang hanyut saat banjir.

Bau limbah muncul ketika arus melambat di tikungan sungai.

Di beberapa titik, plastik menggantung tinggi di dahan pohon. Tanda air sungai sempat naik membawa sampah dari kawasan hulu.

“Kalau plastik sudah gantung di pohon-pohon bantaran, artinya sungai sedang membawa luka dari hulu sampai hilir,” kata Prigi.

Tim “Ngintir” menemukan sekitar 180 pohon terlilit plastik sekali pakai. Ada 80 titik pembuangan sampah liar. Sedikitnya 120 bangunan berdiri terlalu dekat dengan sempadan sungai.

Kali Surabaya selama puluhan tahun jadi sumber air baku bagi jutaan warga Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.

Di saat sama, aliran itu juga menerima limbah domestik, deterjen rumah tangga, limbah industri, tinja, sampai mikroplastik.

Air minum dan limbah bercampur dalam arus yang sama.

Riset Abdul R. Faqih yang rilis Maret 2026 memperlihatkan tekanan ekologi tadi lewat data ikan air tawar.

Di kawasan hulu seperti Mlirip, peneliti masih menemukan 34 spesies ikan. Ketika pengamatan mencapai Jagir di hilir Surabaya, jumlahnya tinggal 17 spesies.

Separuh biodiversitas hilang sepanjang aliran sungai.

Beberapa ikan lokal masih mampu bertahan. Ada rengkik atau baung, lele Jawa, hampala, julung-julung, dan wader cakul.

Jenis lain perlahan menghilang dari catatan lapangan.

Naturalis Pieter Bleeker pada abad ke-19 pernah mencatat banyak ikan asli Jawa di kawasan Sungai Brantas dan Kali Surabaya. Kini sebagian besar sulit ditemukan.

Leptobarbus hoevenii, Crossocheilus cobitis, Barbichthys laevis, sampai Cyclocheilichthys armatus seperti lenyap diam-diam di bawah air keruh.

Tak ada alarm ketika spesies sungai menghilang. Ikan mati pelan di bawah permukaan air yang terlihat tenang.

Masalah datang dari banyak sisi. Habitat berubah akibat pembangunan pintu air. Jalur migrasi ikan terputus. Spesies asing masuk lewat budidaya. Limbah domestik dan industri terus mengalir setiap hari.

Di beberapa titik, Kali Surabaya terlihat biasa saja dari permukaan. Padahal kandungan mikroplastik dan residu deterjen terus naik.

Prigi menyebut ruang alami sungai makin sempit akibat padatnya bangunan di bantaran.

“Kalau ruang sungai terus dipersempit, kemampuan sungai memulihkan diri makin kecil,” ujar Prigi.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *