Lewati ke konten

Nyaris Seabad Tersimpan di Belanda, Rekaman Lagu Flores Tahun 1930 Kembali “Bernapas” di Kupang

| 3 menit baca |Rekreatif | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Marga Bagus
  • Rekaman lagu Flores tahun 1930 kini kembali dikenali warga melalui program repatriasi arsip budaya NTT.
  • Nyaris seabad tersimpan di Belanda, rekaman musik kuno Flores akhirnya kembali menyapa warga di Kupang.
  • Musik kuno Jaap Kunst hidup kembali! Ingatan warga NTT melengkapi kekosongan dokumen arsip sejarah Flores.
  • Mengungkap rahasia rekaman Flores 1930, masyarakat menemukan kembali identitas dan sejarah tradisi yang sempat hilang.
  • Repatriasi arsip suara Jaap Kunst mempertemukan kembali masyarakat Flores dengan musik warisan tradisi leluhur mereka.

SEBANYAK 182 lagu daerah Flores hasil rekaman etnomusikolog asal Belanda, Jaap Kunst, pada tahun 1930 kembali diperdengarkan dan dikenali oleh masyarakat pemilik tradisinya. Momen bersejarah ini berlangsung dalam kegiatan Talkshow dan Workshop Pengarsipan Jejak Bunyi dan Sejarah yang diselenggarakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 27–28 Juli 2026.

Kegiatan kolaboratif antara Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC), Universitas Amsterdam, dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT tersebut menjadi ajang penting dalam mempertemukan kembali arsip berusia hampir satu abad dengan komunitas pewarisnya.

Associate Professor Cultural Musicology Universitas Amsterdam, Dr. Barbara Titus, menegaskan bahwa proses digitalisasi hanyalah langkah awal dalam pengarsipan budaya.

“Digitalisasi hanyalah langkah pertama. Arsip menjadi hidup ketika kembali bertemu dengan orang-orang yang masih mengenali bahasa, syair, musik, dan tradisi yang melahirkannya,” ujar Barbara, dalam rilis yang diterima TitikTerang, Kamis (30/7/2026).

Katy Kunst-Van Wely dan Jaap Kunst tinggal di Hindia Belanda selama 1919–1934. | Dok

#Ingatan Komunitas Melengkapi Kekosongan Sejarah

Dalam sesi workshop, anggota komunitas Lamaholot yang bermukim di Kupang mendengarkan ulang rekaman lilin Jaap Kunst dari daerah Riangkroko, Lewoloba, dan Tengahdai. Tidak hanya mengenali bahasa dan asal lagu, para peserta juga mampu menjelaskan fungsi sosial serta ritual adat yang mengiringi lagu-lagu tersebut—mulai dari tradisi pembagian tanah, pesta panen, pembangunan rumah, hingga prosesi pernikahan.

Informasi lisan dari ingatan kolektif masyarakat ini berhasil mengisi kekosongan data sejarah yang tidak pernah tercatat dalam dokumen arsip formal sejak 1930.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT, Prisila Q. Parera, menyampaikan bahwa arsip bukan sekadar tempat menyimpan dokumen tua, melainkan penjaga identitas bangsa.

“Arsip bukan hanya menyimpan informasi, tetapi juga menjaga identitas suatu masyarakat. Arsip menjadi bukti autentik perjalanan sejarah sekaligus sumber pengetahuan bagi generasi yang akan datang,” ungkap Prisila.

Foto karya Jaap Kunst dalam koleksi Allard Pierson Museum, Universiteit van Amsterdam. | Dok

#Menuju Repatriasi ke Desa-Desa di Flores

Arsip yang tersimpan di Universitas Amsterdam ini dikumpulkan Jaap Kunst melalui 75 silinder lilin, disertai dokumentasi foto dan film. Setelah melalui proses restorasi panjang, hasilnya kini dapat diakses publik di fasilitas Jaap Kunst Hoek, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT.

Ke depan, program repatriasi arsip ini direncanakan akan membawa salinan dokumen suara dan visual langsung ke desa-desa lokasi perekaman di Flores, sebagaimana yang telah sukses diterapkan di Nias pada pertengahan tahun 2025 lalu. Langkah ini diharapkan memberi hak penuh kepada masyarakat lokal untuk menjaga dan memanfaatkan warisan leluhur mereka.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *