Riuh tawar-menawar masih terdengar di Pasar Atom Surabaya, pusat niaga lawas yang bertahan dari gelombang mal modern, menyimpan jejaring pedagang dan memori kolektif kota.
Gerbang Pasar Atom berdiri dengan ornamen merah khas Tionghoa, mencolok di tengah kepadatan kawasan perdagangan lama Surabaya. Arsitektur itu menjadi penanda sejarah panjang aktivitas niaga yang telah berlangsung jauh sebelum bangunan pasar berdiri.
Kawasan di sekitarnya, yang berdekatan dengan Jembatan Merah, pernah menjadi simpul perdagangan penting sejak masa kolonial.
Lorong-lorong sempit Pasar Atom hari ini masih memancarkan denyut yang sama. Bau kain baru bercampur plastik, suara pedagang menawarkan harga, dan langkah pembeli yang hilir mudik menciptakan suasana yang sulit ditemukan di pusat perbelanjaan modern. Aktivitas berlangsung nyaris tanpa jeda, dari pagi hingga malam.
Pada masa awal kemerdekaan, Surabaya berkembang sebagai kota industri sekaligus perdagangan. Kebutuhan akan pusat niaga terorganisir mendorong pembangunan Pasar Atom pada awal 1970-an. Konsep bangunan tertutup dan bertingkat menjadi pembeda dari pasar tradisional terbuka, meski interaksi khas tetap dipertahankan.
“Dulu waktu saya mulai jualan, suasananya sudah ramai seperti ini. Bedanya, pembeli sekarang lebih banyak pilihan tempat, tapi Pasar Atom tetap punya langganan sendiri,” kata Sumarno, pedagang yang membuka kios sejak 1980-an, saat memulai ceritanya, Rabu (15/4/2026).
Nama “Atom” lahir dari semangat zaman. Era itu mengaitkan istilah atom dengan kemajuan dan energi. Harapan besar disematkan pada pasar ini sebagai pusat ekonomi baru yang dinamis. Kios-kios kecil menjadi unit penggerak yang menyatukan aktivitas perdagangan dalam skala besar.
Seiring waktu, Pasar Atom berkembang menjadi salah satu pusat grosir terbesar di Surabaya. Pedagang dari berbagai daerah datang untuk kulakan. Barang dagangan beragam, dari tekstil hingga perabot rumah tangga, menjadikan pasar ini rujukan utama bagi pelaku usaha kecil hingga menengah.
“Sejak dulu orang luar kota datang ke sini. Mereka sudah tahu, harga di sini bisa bersaing,” ujarnya.
Keberadaan komunitas Tionghoa memberi warna tersendiri. Jaringan distribusi yang terbangun lintas generasi memperkuat posisi Pasar Atom sebagai pusat perdagangan yang solid. Relasi dagang tidak hanya berbasis transaksi, tetapi juga kepercayaan.
“Yang bikin bertahan itu kepercayaan. Pembeli datang bukan cuma cari barang, tapi karena sudah kenal dan yakin dengan penjualnya,” ucap Sumarno.
#Bertahan di Tengah Gempuran Modernitas
Perubahan lanskap kota mulai terasa sejak akhir 1990-an. Pusat perbelanjaan modern bermunculan dengan konsep yang lebih nyaman dan rapi. Pendingin udara, tata ruang luas, serta kehadiran merek internasional mengubah preferensi konsumen.
Gelombang itu sempat memunculkan kekhawatiran akan surutnya aktivitas Pasar Atom. Sebagian pengamat memprediksi pasar tradisional dalam bangunan lama akan kehilangan daya tarik. Kenyataan di lapangan menunjukkan hal berbeda.
“Dulu sempat khawatir waktu mal-mal besar mulai ramai. Banyak yang bilang Pasar Atom bakal sepi. Tapi kenyataannya, pembeli tetap ada karena di sini lebih fleksibel, bisa tawar, bisa grosir,” kata Hendra, pedagang tekstil generasi kedua.
Lorong Pasar Atom tetap hidup. Pembeli masih berdatangan, terutama mereka yang mencari harga grosir atau barang tertentu yang sulit ditemukan di mal. Pedagang pun menyesuaikan strategi, menjaga relasi dengan pelanggan lama sambil menarik pembeli baru.

Pengembangan Pasar Atom Mall menjadi salah satu upaya adaptasi. Konsep lebih modern diperkenalkan tanpa sepenuhnya menghapus karakter lama. Renovasi dilakukan di beberapa bagian untuk meningkatkan kenyamanan, termasuk perbaikan fasilitas dan penataan kios.
“Perubahan pasti ada. Pembeli sekarang lebih banyak membandingkan harga lewat ponsel. Tapi kalau soal kualitas dan kepercayaan, mereka tetap kembali ke sini,” katanya.
Adaptasi juga terlihat dalam pemanfaatan teknologi. Sejumlah pedagang mulai menggunakan platform daring untuk memperluas jangkauan pasar. Foto produk dikirim melalui aplikasi pesan, transaksi dilakukan tanpa harus bertatap muka. Meski begitu, banyak pelanggan tetap memilih datang langsung.
Pengalaman fisik menjadi daya tarik tersendiri. Menyusuri lorong sempit, menyentuh bahan kain, dan bernegosiasi harga menghadirkan sensasi yang tidak tergantikan. Interaksi itu membangun hubungan yang lebih personal antara penjual dan pembeli.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelKetahanan Pasar Atom tidak lepas dari fleksibilitas sistem perdagangan. Harga bisa dinegosiasikan, jumlah pembelian dapat disesuaikan, dan variasi barang sangat luas. Model seperti ini memberi ruang bagi berbagai lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi.
“Sekarang kami juga ikut menyesuaikan. Jualan tetap di kios, tapi juga lewat online. Meski begitu, banyak pelanggan tetap datang karena ingin lihat langsung barangnya dan ngobrol seperti biasa,” ujar Hendra.
#Jaringan Pedagang dan Memori Kota
Kekuatan utama Pasar Atom terletak pada jejaring pedagang yang telah terbangun selama puluhan tahun. Banyak kios dikelola oleh keluarga yang mewariskan usaha dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pengetahuan tentang barang, pemasok, hingga pelanggan menjadi modal yang terus dijaga.
Relasi sosial terbentuk seiring waktu. Pembeli tidak sekadar datang untuk bertransaksi, tetapi juga menjalin hubungan yang berkelanjutan. Kepercayaan menjadi fondasi utama yang sulit digantikan oleh sistem belanja modern.
“Langganan saya sudah dari orang tua mereka. Sekarang anaknya yang datang,” ujar Lina, pedagang perabot rumah tangga. “Hubungan seperti itu tidak bisa dibangun dalam waktu singkat.”
Pasar Atom juga mencerminkan keberagaman Surabaya. Pedagang dan pembeli berasal dari berbagai latar belakang budaya. Interaksi berlangsung cair, tanpa sekat yang kaku. Tradisi tawar-menawar menjadi ruang pertemuan yang egaliter.
Kawasan ini memiliki keterkaitan erat dengan jalur distribusi barang di Surabaya. Kedekatannya dengan Pelabuhan Tanjung Perak memudahkan arus logistik. Barang dari berbagai daerah dan luar negeri masuk, lalu didistribusikan kembali ke berbagai wilayah.
Perubahan zaman tidak menghapus peran tersebut. Pasar Atom tetap menjadi bagian dari sistem ekonomi lokal yang dinamis. Skala mungkin tidak sebesar masa kejayaan, tetapi fungsinya masih relevan.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan Pasar Atom menjadi pengingat bahwa ruang ekonomi rakyat memiliki daya tahan tersendiri. Struktur yang terbentuk dari relasi sosial, pengalaman, dan adaptasi membuatnya mampu bertahan.
Lorong-lorong pasar menyimpan lapisan waktu. Setiap sudut menghadirkan cerita tentang perubahan, krisis, dan kebangkitan kembali. Aktivitas yang terus berlangsung menjadikan sejarah itu hidup, tidak membeku.
Suasana senja menghadirkan pemandangan berbeda. Lampu-lampu kios mulai redup, tetapi aktivitas belum sepenuhnya berhenti. Beberapa pedagang masih melayani pembeli terakhir, sementara yang lain bersiap menutup dagangan.
“Kalau dihitung, pasar ini sudah melewati banyak masa sulit. Krisis ekonomi, perubahan tren, sampai persaingan dengan mal. Tapi tetap bertahan,” kata Sumarno.
Pasar Atom terus bergerak mengikuti ritme kota. Tidak selalu cepat, tetapi konsisten. Ketika pusat perbelanjaan modern menawarkan kemewahan, tempat ini menghadirkan kehangatan relasi dan kepercayaan.
Cerita yang tersimpan di balik lorong tidak pernah benar-benar selesai. Setiap hari menghadirkan bab baru, ditulis oleh pedagang dan pembeli yang datang silih berganti. Sejarah itu hidup bersama mereka yang menjaga dan menghidupkannya.
Pasar Atom berdiri sebagai saksi perjalanan Surabaya. Bukan hanya sebagai tempat berbelanja, tetapi sebagai ruang yang merekam dinamika sosial dan ekonomi kota. Dari masa kolonial hingga era digital, keberadaannya terus berlanjut.
Langkah kaki yang menyusuri lorong-lorongnya seakan menapaki jejak waktu. Setiap kios, setiap transaksi, menjadi bagian dari narasi panjang yang belum usai. Pasar Atom tetap buka, tetap bernapas, dan terus bercerita.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.