Lewati ke konten

Lampu Proyektor Tua Padam, Sinema Rakyat Surabaya Ikut Tergusur

| 8 menit baca |Rekreatif | 7 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis:  Shella Mardiana Putri Editor: Marga Bagus

Transformasi Bioskop Kranggan menjadi BG Junction menandai hilangnya ruang hiburan rakyat dan memudarnya jejak ingatan warga Surabaya perlahan.

Surabaya terus bergerak membangun wajah modernnya. Di tengah ekspansi pusat perbelanjaan, apartemen, dan jaringan hiburan digital, satu demi satu ruang budaya lama perlahan menghilang dari peta kota. Salah satu yang paling membekas dalam ingatan warga adalah Bioskop Kranggan, bioskop independen legendaris yang dahulu menjadi pusat hiburan rakyat di kawasan Jalan Kranggan.

Kini, bangunan yang pernah menjadi tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat itu telah hilang sepenuhnya. Lahan bekas bioskop tersebut telah melebur ke dalam kompleks komersial BG Junction Mall. Yang tersisa hanyalah fragmen cerita, arsip foto lawas, dan ingatan warga yang pernah menghabiskan malam minggunya di depan layar lebar sederhana dengan karcis murah.

Bagi sebagian warga Surabaya, hilangnya Bioskop Kranggan tak hanya sebagai pergantian fungsi bangunan semata. Perubahan itu dipandang sebagai simbol bergesernya ruang publik kota dari ruang komunal yang inklusif menuju ruang yang semakin konsumeris.

Penampakan fisik pusat perbelanjaan BG Junction Mall Surabaya yang mengintegrasikan lahan eks-Bioskop Kranggan ke dalam struktur komersial modern. Foto : Shella

#Dari Bioskop Rakyat Menjadi Koridor Konsumsi

Pada dekade 1970-an hingga akhir 1990-an, Bioskop Kranggan menjadi salah satu simpul hiburan populer di Surabaya. Lokasinya yang strategis membuat bioskop ini mudah dijangkau warga dari berbagai kawasan, terutama masyarakat kelas pekerja di wilayah utara dan pusat kota.

Gedung bioskop dengan wajah bangunan yang khas, serta arsitektur pertengahan abad ke-20 itu berdiri sebagai bagian penting dari denyut hiburan urban Surabaya. Sebelum jaringan bioskop modern berkembang di pusat perbelanjaan, bioskop independen seperti Kranggan menjadi pilihan utama warga untuk menikmati film nasional maupun impor.

Film-film aksi, komedi, musikal dangdut, hingga film drama populer pernah memenuhi layar bioskop tersebut. Pada masa itu, menonton film bukan sekadar aktivitas hiburan individual, melainkan bagian dari interaksi sosial warga kota.

Di depan gedung bioskop, pedagang makanan kaki lima, penjual rokok, hingga calo tiket membentuk ekosistem ekonomi kecil yang hidup setiap akhir pekan. Kawasan Kranggan pada malam hari berubah menjadi ruang sosial yang ramai dan cair.

Supardi (65), warga Bubutan yang mengaku rutin datang ke Bioskop Kranggan sejak muda, masih mengingat suasana kawasan itu dengan detail.

“Dulu, di depan Bioskop Kranggan ini kalau malam minggu rasanya seperti ada pasar malam kecil yang tidak pernah sepi. Bau berondong jagung tradisional, kepulan asap rokok para penonton yang mengantre, hingga teriakan para calo tiket yang saling bersahutan itu adalah musik harian yang membuat kawasan ini terasa sangat hidup dan bertenaga,” ujarnya.

Menurut Supardi, daya tarik bioskop rakyat bukan terletak pada kemewahan fasilitas, melainkan pada suasana kolektif yang tercipta di dalam dan sekitar gedung bioskop.

Ia mengatakan, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat duduk berdampingan tanpa sekat sosial yang kentara. Buruh, mahasiswa, pedagang, hingga pegawai kantor berada dalam ruang yang sama untuk menikmati hiburan murah.

Namun, memasuki awal tahun 2000-an, perubahan mulai terasa. Peredaran VCD bajakan, munculnya televisi kabel, dan berkembangnya jaringan bioskop modern perlahan mengurangi jumlah pengunjung bioskop independen.

Teknologi digital juga mengubah sistem distribusi film nasional. Bioskop-bioskop kecil kesulitan bersaing dengan jaringan besar yang memiliki akses distribusi lebih kuat dan fasilitas yang lebih modern.

Tekanan ekonomi semakin besar ketika nilai lahan di kawasan pusat kota meningkat drastis. Banyak bioskop lama akhirnya dijual atau dialihkan menjadi bangunan komersial baru.

Hal itu juga terjadi di Kranggan. Lahan bioskop lama tersebut akhirnya masuk dalam pengembangan kawasan BG Junction Mall, salah satu pusat perbelanjaan besar di Surabaya.

Transformasi itu menghapus hampir seluruh jejak fisik bioskop lama. Tidak ada lagi bangunan tunggal yang menandai keberadaan Bioskop Kranggan sebagai ruang budaya populer masa lalu.

“Saat industri beralih ke format digital dan lahan ini akhirnya dibeli untuk dibangun BG Junction Mall, kami di Kranggan langsung tahu bahwa hari-hari kami sudah habis. Penonton rakyat perlahan terusir, digantikan oleh gaya hidup konsumtif baru, hingga akhirnya hari di mana kami harus mematikan mesin proyektor untuk terakhir kalinya menjadi momen yang memutus urat nadi sejarah hiburan rakyat di sini,” kata Supardi.

Kini, di lokasi geografis yang sama, aktivitas menonton film memang masih berlangsung. Namun formatnya berubah total. Bioskop modern hadir di dalam kompleks mal dengan sistem digital, kursi premium, dan pola konsumsi yang jauh berbeda dibanding era bioskop rakyat.

#Kota Modern dan Hilangnya Ruang Memori Kolektif

Perubahan Bioskop Kranggan menjadi bagian dari pusat perbelanjaan modern memunculkan pertanyaan mengenai arah pembangunan ruang urban Surabaya. Di satu sisi, pembangunan mal dianggap sebagai simbol pertumbuhan ekonomi kota. Di sisi lain, transformasi itu juga memicu hilangnya ruang-ruang memori kolektif warga.

Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Kranggan. Sejumlah bioskop independen lain di Surabaya mengalami nasib serupa. Sebagian ditutup, sebagian berubah fungsi menjadi pertokoan, gudang, rumah ibadah, hingga bangunan komersial baru.

Pengamat budaya populer menilai hilangnya bioskop rakyat menunjukkan lemahnya perhatian terhadap pelestarian ruang budaya urban. Bangunan-bangunan lama yang memiliki nilai sosial sering kali dianggap tidak lagi produktif secara ekonomi.

Dian (21), mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada sinematografi dan sejarah budaya kota, menilai Bioskop Kranggan memiliki posisi penting dalam perkembangan budaya populer Surabaya.

“Bioskop Kranggan adalah mesin waktu visual yang merekam fase krusial transisi kebudayaan masyarakat Surabaya. Ketika sebuah situs sejarah budaya populer diruntuhkan secara total dan digantikan oleh bangunan mal besar seperti BG Junction, kita sebenarnya sedang membiarkan satu bab penting dalam buku sejarah kebudayaan populer arek-arek Suroboyo hilang dan terprivatisasi oleh kepentingan modal,” ujarnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Menurut Dian, persoalan terbesar bukan hanya hilangnya bangunan lama, tetapi juga hilangnya fungsi sosial ruang tersebut. Ia menilai banyak ruang publik di kota besar perlahan berubah menjadi ruang yang sepenuhnya berbasis transaksi ekonomi.

Kondisi itu membuat masyarakat kehilangan ruang interaksi yang lebih egaliter dan spontan. Aktivitas hiburan semakin terikat pada kemampuan konsumsi individu.

Ia juga menyoroti minimnya pendekatan adaptive reuse dalam pembangunan kota di Surabaya. Konsep tersebut sebenarnya memungkinkan bangunan lama tetap dipertahankan sambil disesuaikan dengan kebutuhan baru.

“Tantangan terbesar kota metropolitan seperti Surabaya adalah kecenderungan menyelesaikan masalah bangunan tua dengan meruntuhkannya dan membangun mal baru, alih-alih melakukan adaptive reuse yang mempertahankan fasad historisnya. Jika kawasan bersejarah terus diintegrasikan secara ekstrem menjadi pusat belanja, nilai edukasi dan identitas lokal akan luntur, digantikan oleh budaya seragam global yang serba instan,” katanya.

Menurutnya, kota modern semestinya tidak hanya mengejar pembangunan ekonomi, tetapi juga menjaga kesinambungan identitas budaya lokal. Tanpa upaya pelestarian, generasi muda akan kehilangan referensi sejarah ruang sosial kota mereka sendiri.

Perubahan pola hiburan masyarakat juga mempercepat hilangnya pengalaman kolektif yang dulu melekat pada bioskop rakyat. Teknologi digital membuat aktivitas menonton semakin individual dan praktis.

BG Junction Mall kini berdiri di atas lahan bekas Bioskop Kranggan, ruang hiburan rakyat yang pernah menjadi denyut budaya populer Surabaya. | Foto: Shella

Masyarakat kini dapat menonton film melalui platform daring tanpa harus datang ke ruang publik. Situasi tersebut mengubah hubungan emosional warga dengan ruang hiburan kota.

Di masa lalu, bioskop rakyat menjadi salah satu titik temu sosial yang penting. Orang datang bukan hanya untuk menonton film, tetapi juga untuk bertemu teman, mencari hiburan murah, dan merasakan suasana kota pada malam hari.

Kini, pengalaman itu digantikan oleh sistem hiburan yang lebih tertutup dan eksklusif di dalam pusat perbelanjaan.

#Modernisasi Kota dan Pertanyaan Tentang Identitas

Transformasi kawasan Kranggan memperlihatkan bagaimana modernisasi kota sering berjalan bersamaan dengan penghapusan jejak ruang lama. Dalam logika pembangunan perkotaan, lahan di pusat kota dipandang memiliki nilai ekonomi tinggi yang harus dimaksimalkan.

Akibatnya, banyak bangunan dengan nilai sejarah sosial akhirnya kalah oleh kebutuhan investasi dan ekspansi komersial. Bioskop Kranggan menjadi salah satu contoh paling jelas dari proses tersebut.

Secara ekonomi, kehadiran pusat perbelanjaan baru memang menghadirkan aktivitas bisnis dan lapangan pekerjaan. Namun, perubahan itu juga memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang sebenarnya diakomodasi oleh wajah baru kota.

Bioskop rakyat dahulu memungkinkan masyarakat kelas pekerja menikmati hiburan tanpa tekanan gaya hidup konsumtif. Harga tiket murah dan suasana terbuka menjadikannya ruang hiburan yang relatif inklusif.

Sebaliknya, ruang hiburan modern di dalam mal cenderung menghadirkan standar ekonomi baru. Pengunjung tidak hanya membayar tiket film, tetapi juga masuk ke dalam ekosistem konsumsi yang lebih luas.

Di tengah perubahan tersebut, sebagian warga masih berusaha menjaga ingatan mengenai Bioskop Kranggan melalui cerita dan dokumentasi sejarah kota. Arsip foto lawas kawasan Kranggan menjadi bukti bahwa lokasi itu pernah menjadi pusat budaya populer Surabaya.

Meski bangunan fisiknya telah hilang, memori kolektif mengenai bioskop rakyat belum sepenuhnya padam. Bagi warga yang pernah mengalami era tersebut, Kranggan tetap dikenang sebagai ruang yang menghadirkan kedekatan sosial di tengah hiruk-pikuk kota.

Jalan Kranggan hari ini mungkin telah berubah menjadi koridor ekonomi modern yang padat kendaraan dan aktivitas belanja. Namun di balik dinding pusat perbelanjaan yang berdiri di sana, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana warga Surabaya pernah membangun budaya hiburannya secara lebih sederhana dan terbuka.

Transformasi itu menjadi pengingat bahwa pembangunan kota selalu memiliki konsekuensi sosial dan budaya. Ketika ruang-ruang lama hilang tanpa dokumentasi dan pelestarian memadai, kota perlahan kehilangan sebagian identitasnya sendiri.

Bioskop Kranggan mungkin telah lama mematikan lampu proyektornya. Namun, bagi sebagian warga Surabaya, layar itu belum benar-benar gelap. Layar itu tetap hidup dalam ingatan mereka, tentang masa, di mana ketika menonton film menjadi pengalaman bersama yang murah, akrab, dan dapat diakses siapa saja.***

*) Shella Mardiana PutriMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *