Di balik wisata religi Ampel, jejak pers pergerakan dan percetakan antikolonial perlahan hilang tertutup industrialisasi pariwisata massal Surabaya.
Surabaya selama ini mengenal kawasan Ampel sebagai pusat spiritual yang tak pernah tidur. Ribuan peziarah datang setiap hari menyusuri Jalan Sasak dan Jalan KH Mas Mansyur, melewati toko kitab, penjual parfum Arab, rumah makan, hingga deretan pedagang kurma yang memenuhi lorong-lorong sempit menuju kompleks Masjid Sunan Ampel.
Namun, di balik aroma gaharu dan kepadatan wisata religi itu, kawasan Ampel menyimpan jejak penting sejarah pers pergerakan bumiputera yang kini nyaris terlupakan. Kawasan yang hari ini dikenal sebagai sentra ekonomi religi itu pernah menjadi ruang lahirnya diskusi intelektual, penyebaran pamflet politik, hingga distribusi surat kabar antikolonial pada awal abad ke-20.
Di sepanjang koridor Jalan Sasak hingga KH Mas Mansyur, gagasan tentang emansipasi pribumi pernah dirumuskan secara diam-diam. Toko kitab dan ruang singgah para ulama tidak hanya menjadi pusat pembelajaran agama, tetapi juga tempat bertemunya pemuda, santri, dan intelektual muslim yang mulai mempertanyakan dominasi pemerintah Hindia Belanda.
“Dulu itu, kawasan Ampel terutama di sepanjang Jalan Sasak dan KH Mas Mansyur bukan cuma tempat orang datang mengaji atau beli kitab,” kata Faisal (60), pedagang yang telah lama tinggal di kawasan tersebut, Rabu, 10 Juni 2026.
“Di awal abad ke-20, area ini justru jadi dapur redaksi yang luar biasa sibuk. Para pemuda dan intelektual berkumpul di balik toko-toko kitab klasik ini, mendiskusikan ide-ide pembaruan dan antikolonial yang lagi ramai di Timur Tengah, lalu mereka terjemahkan ke surat kabar lokal seperti Oetoesan Hindia atau majalah-majalah Muhammadiyah awal,” ujarnya.

#Mesin Cetak di Tengah Aroma Gaharu
Bagi kelompok pergerakan bumiputera, surat kabar pada masa kolonial bukan sekadar medium informasi. Pers menjadi alat konsolidasi politik sekaligus ruang pendidikan publik yang efektif untuk membangun kesadaran kebangsaan.
Ampel menjadi salah satu titik penting karena memiliki jaringan literatur Islam yang kuat. Kitab-kitab dan pemikiran pembaruan dari Timur Tengah masuk melalui jalur perdagangan dan pendidikan, lalu didiskusikan kembali di Surabaya sebelum menyebar ke berbagai daerah.
Kawasan ini juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh tokoh-tokoh Islam modernis seperti K.H. Mas Mansyur. Di tengah tekanan pemerintah kolonial, aktivitas menulis dan mencetak gagasan politik dilakukan secara hati-hati.
Menurut Faisal, suasana khas Ampel justru membantu para aktivis menyamarkan distribusi pamflet dan koran perjuangan.
“Bisa dibilang, menulis di zaman Belanda itu taruhannya nyawa. Sensornya ketat sekali,” katanya.
“Tapi lucunya, aroma wangi gaharu dan minyak wangi yang pekat di gang-gang sempit Ampel ini sering jadi penyelamat. Bau-bauan itu dipakai buat menyamarkan bungkusan pamflet dan koran pergerakan biar nggak ketahuan intelijen Belanda.”
Ia mengatakan, tulisan-tulisan yang beredar dari kawasan tersebut perlahan memengaruhi kesadaran sosial masyarakat pelabuhan dan kalangan santri.
“Tinta yang dicetak diam-diam di lorong sunyi ini punya daya ledak luar biasa; dari sinilah santri dan buruh pelabuhan mulai sadar buat berserikat dan melawan,” ujarnya.
Di masa itu, Surabaya memang berkembang sebagai kota pelabuhan yang padat dengan aktivitas politik dan perdagangan. Perjumpaan antar-etnis, arus barang internasional, serta perkembangan organisasi pergerakan menjadikan kota ini salah satu pusat dinamika nasionalisme awal.
Ampel berada di tengah lanskap itu. Meski dikenal sebagai kawasan religius, denyut politik di dalamnya tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan sosial masyarakat.

#Narasi Wisata yang Menyingkirkan Sejarah
Perubahan mulai terasa ketika kawasan Ampel berkembang menjadi destinasi wisata religi massal. Pertumbuhan ekonomi berbasis ziarah mendorong perubahan fungsi ruang secara besar-besaran.
Toko kitab klasik perlahan tergeser oleh pusat oleh-oleh, gudang logistik, dan perdagangan komersial. Ruang-ruang yang dahulu menjadi tempat diskusi intelektual kini berubah menjadi area transaksi cepat yang beroperasi hampir tanpa henti.
Di tengah perubahan itu, memori tentang sejarah pers pergerakan ikut memudar.
Deretan pedagang memenuhi koridor utama kawasan. Kendaraan bermotor silih berganti masuk ke area sempit yang sebelumnya menjadi ruang interaksi sosial warga. Di banyak sudut, bangunan lama bertahan tanpa penanda sejarah yang memadai.
Dina (23), mahasiswa Universitas Negeri Surabaya yang menaruh perhatian pada sejarah media, menilai penyederhanaan identitas Ampel menjadi semata kawasan wisata religi berpotensi menghilangkan dimensi penting sejarah kota.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Secara sosiologis, Ampel adalah salah satu laboratorium pers terbaik di Jawa Timur karena di sinilah jurnalisme berpadu erat dengan jaringan teologis yang kuat,” katanya saat ditemui di kawasan Sunan Ampel.
Menurut Dina, narasi resmi tentang Ampel terlalu fokus pada aspek spiritual dan kuliner, sementara sejarah intelektualnya nyaris tidak diperkenalkan kepada publik.
“Jika pemerintah kota hanya mempromosikan Ampel dari aspek spiritualitas makam dan kuliner Timur Tengahnya saja, maka kita sedang melakukan pemiskinan sejarah secara struktural terhadap peran intelektual muslim Surabaya dalam mendesain konsep kebangsaan,” ujarnya.
Ia menilai, kawasan tersebut seharusnya diperlakukan sebagai ruang sejarah yang memiliki lapisan identitas lebih kompleks dibanding sekadar destinasi ziarah.
Minimnya dokumentasi visual dan penanda cagar budaya juga mempercepat hilangnya jejak sejarah pers di kawasan tersebut. Banyak bangunan lama berubah fungsi tanpa kajian konservasi yang jelas.
“Banyak bangunan eks-percetakan kuno dan rumah singgah tokoh pergerakan di sekitar Ampel yang kini beralih fungsi menjadi gudang ekspedisi atau toko grosir tanpa ada penanda cagar budaya yang layak,” kata Dina.

#Menjaga Ingatan Kota Pahlawan
Bagi pegiat sejarah urban, hilangnya jejak pers pergerakan di Ampel bukan hanya persoalan bangunan fisik, tetapi juga hilangnya memori kolektif masyarakat kota.
Padahal, sejarah pers di Surabaya memiliki posisi penting dalam perkembangan nasionalisme Indonesia. Surat kabar bumiputera pada awal abad ke-20 menjadi medium kritik sosial yang efektif di tengah ketatnya pengawasan kolonial.
Di Ampel, tradisi religius dan aktivitas politik pernah tumbuh berdampingan. Suara azan dan aktivitas percetakan berjalan dalam ruang sosial yang sama.
“Kita membutuhkan museum literasi atau setidaknya plakat sejarah di setiap sudut gang untuk mengingatkan publik bahwa di sinilah tempat pemikiran K.H. Mas Mansyur dan jurnalis bumiputera lainnya digodok,” ujar Dina.
Menurutnya, pelestarian kawasan bersejarah tidak cukup dilakukan dengan menjaga situs makam dan bangunan ibadah semata. Narasi intelektual yang lahir dari kawasan tersebut juga perlu dipulihkan.
Ampel hari ini memang tetap hidup sebagai pusat ekonomi dan spiritual masyarakat urban. Jutaan orang masih akan datang membawa doa-doa pribadi ke kompleks makam Sunan Ampel.
Namun, di sela kepadatan wisata religi itu, lorong-lorong sempit kawasan tersebut menyimpan jejak lain yang lebih sunyi. Dinding-dinding tua, toko kitab, dan gang sempit di kawasan utara Surabaya itu pernah menjadi saksi bagaimana gagasan kemerdekaan dirumuskan melalui tulisan dan percakapan sederhana.
Ingatan tentang sejarah pers pergerakan di Ampel menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan tidak selalu lahir di medan perang. Sebagian tumbuh dari ruang kecil tempat orang membaca, menulis, berdiskusi, lalu menyebarkan gagasan secara diam-diam.
“Ampel mengajarkan kita bahwa ruang sakral dan ruang pergerakan bisa melebur dengan sangat indah,” kata Dina.
“Jika kita terus membiarkan narasi pers ini terkubur oleh industrialisasi pariwisata yang serba transaksional, maka Ampel akan kehilangan kedalaman jiwanya dan tumbuh menjadi sekadar pasar religi yang kering akan nilai-nilai emansipasi.”
Di tengah arus modernisasi kota, jejak itu memang makin samar. Tetapi selama ingatan tentang pers pergerakan masih dirawat, lorong-lorong Ampel akan tetap menyimpan suara lain tentang Surabaya: kota yang pernah mempertaruhkan kemerdekaan lewat tinta, pamflet, dan keberanian berpikir.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.