Lewati ke konten

Temuan Ecoton dan FK UNAIR: Mikroplastik Masuk Sistem Sirkulasi dan Reproduksi Manusia

| 5 menit baca |Mikroplastik | 14 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus

Mikroplastik terdeteksi dalam darah, sperma, dan air ketuban, mengungkap paparan luas dari limbah tekstil yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia sejak dalam kandungan.

Benda berukuran tak tembus penglihatan kini bergerak dalam tubuh manusia. Mikroplastik, fragmen plastik berukuran kurang dari lima milimeter, telah melampaui batas lingkungan dan masuk ke sistem biologis manusia.

Sumbernya tersebar luas. Kantong plastik, kemasan makanan, botol minuman, hingga produk rumah tangga seperti pasta gigi dan bahan pembersih, semuanya berkontribusi pada terbentuknya partikel mikro. Dalam proses degradasi, plastik terurai menjadi serpihan halus yang terus mengecil hingga tak terlihat.

Partikel ini dengan mudah melewati sistem penyaringan air, mengalir ke sungai, laut, lalu kembali ke tubuh manusia melalui air minum, makanan, hingga udara.

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) bersama peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menemukan bukti yang menguatkan kekhawatiran ini. Mikroplastik terdeteksi dalam darah manusia.

Penelitian yang melibatkan 30 perempuan berdomisili di Blitar, Pacitan, Magetan, Lamongan, dan Malang, terdiri atas 20 pekerja sampah dan 10 mahasiswa, menunjukkan rata-rata 9 partikel mikroplastik dalam setiap satu mililiter darah.

Staf Pengajar FK Universitas Airlangga, Dr, dr Lestari Sudaryanti., Mkes menyatakan, ukuran partikel menjadi faktor kunci dalam kemampuan penetrasi. “Partikel berukuran 0,40 hingga 10 mikron dapat menembus pembuluh darah terkecil dan berinteraksi langsung dengan sel tubuh,” ujar ahli kebidanan ini dalam rilisnya, Kamis, (9/4/2026).

Ukuran tersebut berada di bawah diameter kapiler manusia. Partikel dapat bergerak bebas dalam sistem sirkulasi dan menjangkau jaringan terdalam.

Komposisi polimer memperlihatkan dominasi polyester sebesar 28 persen. Material ini dikenal sebagai bahan utama industri tekstil modern. Selain itu ditemukan polyisobutylene 24 persen, polyethylene mencapai 32 persen, serta PET sebesar 16 persen.

Partikel mikroplastik berukuran sekitar 6,7 mikrometer terdeteksi di bawah mikroskop, menunjukkan bagaimana fragmen plastik yang tak kasat mata dapat masuk dan beredar dalam tubuh manusia. | Dok. Ecoton

#Reaksi Tubuh: Dari Hemolisis Hingga Peradangan Kronis

Masuknya partikel sintetis ke dalam darah memicu respons biologis yang kompleks. Interaksi antara mikroplastik dan komponen darah menghasilkan gangguan yang berpotensi serius.

Sel darah merah menjadi salah satu yang terdampak langsung. Kontak dengan mikroplastik dapat memicu hemolisis, yaitu pecahnya sel darah merah. Proses ini melepaskan hemoglobin ke dalam plasma dan meningkatkan risiko penggumpalan.

Kondisi ini membuka kemungkinan penyumbatan pembuluh darah dan gangguan distribusi oksigen ke seluruh tubuh.

Direktur Ecoton, Dr Daru Setyorini., Dipl EM., S.Si., MSi dalam sebuah kesempatan mengingatkan bahwa dampaknya tidak berhenti pada satu mekanisme. “Reaksi tubuh terhadap mikroplastik memicu peradangan kronis yang melelahkan sistem imun,” katanya dalam pekan ini, Senin 6 April 2026.

Sel darah putih, terutama makrofag, berusaha menelan partikel tersebut. Upaya ini berujung pada kegagalan karena plastik tidak dapat dihancurkan. Tubuh kemudian terus memproduksi sinyal inflamasi dalam jangka panjang.

Gangguan juga terjadi pada sistem pembekuan darah. Interaksi mikroplastik dengan trombosit memicu pembentukan trombus atau gumpalan. Risiko penyakit jantung koroner dan stroke meningkat seiring akumulasi partikel dalam tubuh.

Sementara itu, Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti menjelaskan, sel tubuh menghadapi beban tambahan. “Energi sel terkuras untuk merespons partikel asing, sehingga mempercepat penuaan seluler,” ujarnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Proses pembentukan sel darah baru ikut terganggu, memengaruhi keseimbangan sistem hematologi manusia.

Ilustrasi menunjukkan partikel mikroplastik berukuran 0,40–10 mikron yang mampu menembus kapiler terkecil dan berinteraksi langsung dengan sel darah, menjadi ancaman tersembunyi bagi kesehatan manusia. | Desain AI

#Jejak Tekstil dalam Darah dan Reproduksi

Dominasi polyester dalam temuan mikroplastik mengarahkan perhatian pada industri pakaian. Serat sintetis yang terlepas saat pencucian menjadi salah satu sumber utama pencemaran.

Serat mikro tersebut masuk ke aliran air, mengendap di lingkungan perairan, lalu kembali ke tubuh manusia melalui rantai konsumsi.

Di sisi lain, pendiri Ecoton, Prigi Arisandi menyampaikan keterkaitan langsung antara gaya hidup dan paparan mikroplastik. “Pakaian yang digunakan setiap hari berkontribusi terhadap paparan yang terus berlangsung,” ujarnya, Jumat, (10/4/2026).

Dampak mikroplastik meluas hingga sistem reproduksi. Laporan Ecoton menunjukkan partikel plastik ditemukan dalam air ketuban ibu hamil di Gresik. Seluruh sampel dalam penelitian tersebut terdeteksi mengandung mikroplastik.

Temuan ini menandakan partikel mampu menembus penghalang biologis dan mencapai lingkungan janin. Risiko yang muncul mencakup gangguan perkembangan, inflamasi, hingga potensi kelahiran prematur.

Data lain menunjukkan puluhan partikel mikroplastik ditemukan dalam sampel amnion. Kondisi ini memperlihatkan paparan telah terjadi sejak fase awal kehidupan manusia.

Studi awal juga mengidentifikasi keberadaan mikroplastik dalam sperma. Paparan ini dikaitkan dengan gangguan perkembangan sel sperma dan penurunan kesuburan.

Oleh karena itu Lestari Sudaryanti menegaskan dampak jangka panjang yang perlu diwaspadai. “Paparan mikroplastik sejak dalam kandungan berpotensi memengaruhi kesehatan generasi berikutnya,” katanya.

Mikroplastik kini tidak lagi berada di luar tubuh manusia. Partikel ini telah menjadi bagian dari sistem internal yang paling vital.

Industri tekstil muncul sebagai salah satu sumber dominan yang selama ini kurang mendapat perhatian. Produksi massal bahan sintetis dan pola konsumsi mempercepat akumulasi partikel mikro di lingkungan.

Perubahan menjadi kebutuhan mendesak. Pengelolaan limbah, inovasi material ramah lingkungan, serta kesadaran konsumsi menjadi langkah yang harus berjalan bersamaan.

Dalam hal ini Daru Setyorini juga menyampaikan peringatan tegas. “Temuan ini adalah alarm bagi kesehatan manusia. Dampaknya akan terus meluas tanpa perubahan nyata,” ujarnya.

Dalam tubuh manusia, partikel itu bergerak tanpa suara. Tidak terlihat, tidak terasa, dan terus menetap. Sebuah penanda bahwa krisis lingkungan telah masuk ke dalam kehidupan manusia sendiri.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *