Lewati ke konten

Siswa SMAN 1 Driyorejo Minta Pemkab Gresik Sediakan Water Refill Station Lewat Gagasan TEPAR

| 4 menit baca |Ide | 16 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Realease Editor: Supriyadi

Siswa SMAN 1 Driyorejo mendorong solusi TEPAR di Hari Bumi 2026, menyoroti kesenjangan kesadaran dan fasilitas pengurangan plastik di Kabupaten Gresik.

Tiga siswa SMAN 1 Driyorejomengajukan program pengelolaan sampah terintegrasi kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada peringatan Hari Bumi, 22 April 2026 ini.

Usulan yang bertemakan TEPAR itu mencakup penguatan TPS3R, pembentukan polisi sampah, dan penyediaan water refill station di ruang publik.

Tiga siswa itu di antara Junnatun Nafiah, Krisna Wahyu Sahaja, dan Chantika Amira Ramadhani. Mereka menyampaikan gagasan dalam audiensi bersama pejabat DLH Gresik.

Mereka menilai persoalan sampah plastik di wilayah Gresik berkaitan dengan kesenjangan antara pengetahuan dan praktik sehari-hari, sangat mengkhawatirkan.

“Kami melihat masih banyak masyarakat yang bergantung pada plastik sekali pakai. Kami juga sering membawa tumbler, tetapi kesulitan menemukan fasilitas isi ulang air,” kata Junnatun Nafiah, ketika berkesempatn bicara di depan pejabat DLH Gresik pada Rabu, (22/4/2026).

Para siswa juga menunjukkanhHasil angket internal yang memperkuat temuan itu. Sebanyak 98 persen responden mengetahui dampak negatif plastik sekali pakai, tetapi penggunaan tetap tinggi.

“Faktor kepraktisan serta keterbatasan fasilitas, menjadi penyebab utama perilaku tersebut bertahan, “ ujarnya.

Junnatun Nafiah, Krisna Wahyu Sahaja, dan Chantika Amira Ramadhani menunjukkan policy brief pembatasan plastik sekali pakai saat audiensi dengan DLH Gresik pada peringatan Hari Bumi 2026. | Dok.

#Kesenjangan Kesadaran dan Fasilitas

Para siswa menilai kesadaran lingkungan di kalangan pelajar sudah berkembang, tetapi belum diikuti dukungan sistem yang memadai. Mereka mencontohkan praktik pemilahan sampah yang sering terhenti pada tahap awal.

“Sampah dari rumah sudah dipilah, tetapi sering dicampur lagi pada proses berikutnya,” ujar Chantika Amira Ramadhani.

Kondisi itu membuat upaya pengurangan sampah kehilangan efektivitas. Lingkungan sekolah juga terdampak. Siswa menyebut sampah yang tidak terkelola dengan baik menimbulkan bau dan mengganggu kenyamanan belajar.

“Kalau sampah dicampur itu bau dan mengganggu. Lingkungan belajar jadi tidak nyaman,” tegas Krisna Wahyu Sahaja.

Kegiatan sederhana di sekolah turut menjadi pemicu munculnya kesadaran kolektif. Para siswa mengaku mulai tertarik pada isu lingkungan setelah mengikuti nonton bareng video edukasi.

“Awalnya hanya nobar, lalu muncul keinginan untuk bergerak lebih jauh,” sebut Krisna Wahyu Sahaja.

Dari kegiatan tersebut, lahir berbagai inisiatif, termasuk gerakan pemilahan sampah di lingkungan sekolah. Upaya tersebut berkembang hingga mendorong mereka merumuskan solusi berbasis sistem yang diajukan ke pemerintah daerah.

#TEPAR: Tiga Pilar Solusi

Program TEPAR dirancang sebagai pendekatan terintegrasi. Pilar pertama adalah penguatan TPS3R sebagai pusat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di tingkat desa. Para siswa menilai fasilitas ini perlu ditingkatkan agar proses pemilahan berjalan konsisten hingga tahap akhir.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pilar kedua adalah pembentukan polisi sampah. Konsep ini mengandalkan partisipasi masyarakat, termasuk ibu rumah tangga dan karang taruna, untuk mengawasi serta mengedukasi penggunaan plastik sekali pakai.

Pilar ketiga adalah penyediaan water refill station di ruang publik. Fasilitas ini diharapkan mendukung kebiasaan membawa tumbler sekaligus mengurangi konsumsi air kemasan sekali pakai.

“Kami melihat di kota lain fasilitas ini sudah tersedia. Di Gresik belum, padahal penting untuk mengurangi sampah plastik,” sambung Junnatun Nafiah.

Program tersebut dirancang sebagai solusi praktis yang dapat diterapkan secara bertahap. Para siswa berharap pemerintah daerah dapat mempertimbangkan usulan itu sebagai bagian dari kebijakan pengelolaan lingkungan.

Siswa SMAN 1 Driyorejo menunjukkan policy brief pembatasan plastik sekali pakai saat audiensi dengan DLH Gresik dalam rangka Hari Bumi 2026. | Dok.

#Respons DLH dan Arah Kebijakan

Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kabupaten Gresik, Muhamad Ainul Mubarak, menilai keterlibatan pelajar penting dalam membangun budaya peduli lingkungan. Menurut dia, sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan sejak dini.

“Adiwiyata adalah komitmen membentuk karakter peduli lingkungan. Semua warga sekolah harus terlibat, mulai dari pengelolaan sampah hingga penggunaan air secara bijak,” ujarnya.

Ainul juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menangani persoalan sampah. Pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat perlu bergerak bersama agar program berjalan efektif.

Perwakilan DLH Gresik lainnya, Any Mardiyani, menyampaikan apresiasi atas inisiatif siswa tersebut. Dia menilai gagasan TEPAR relevan dengan kondisi di lapangan, terutama di wilayah Gresik Selatan.

“Kami membutuhkan generasi muda untuk menjadi pengawas lingkungan. Usulan ini akan kami sampaikan ke kepala dinas dan dibahas bersama bupati,” kata Any.

DLH Gresik saat ini tengah mendorong penguatan sistem pengelolaan sampah dari hulu melalui pengembangan TPST. Program tersebut dikombinasikan dengan pendekatan ekonomi sirkular serta kampanye pengurangan plastik.

Audiensi tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali program Adiwiyata di SMAN 1 Driyorejo. Sekolah itu sebelumnya pernah meraih predikat Adiwiyata Mandiri, tetapi status tersebut tidak berlanjut karena tidak diperpanjang.

Melalui inisiatif siswa, sekolah berupaya membangun kembali gerakan lingkungan berbasis aksi. Para pelajar berharap langkah kecil yang mereka mulai dapat mendorong perubahan yang lebih luas.

“Kami ingin lingkungan yang bersih dan sehat, dimulai dari sekolah lalu meluas ke masyarakat,” tegas Junnatun Nafiah.

Momentum Hari Bumi 2026 dimanfaatkan sebagai titik awal penguatan gerakan tersebut. Para siswa menilai perubahan perilaku membutuhkan dukungan kebijakan serta fasilitas yang memadai agar dapat berjalan konsisten.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *