Lewati ke konten

MOZAIK: Alga Jeruk Penangkap Mikroplastik Kali Tebu?

| 5 menit baca |Ide | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Ilmuwan Amerika mengembangkan alga beraroma jeruk yang mampu menggumpalkan mikroplastik di air, menawarkan harapan baru bagi pemulihan Kali Tebu Surabaya.

Plastik sekali pakai, popok bekas, dan limbah rumah tangga terus mengalir di permukaan Kali Tebu Surabaya menuju laut.

Dalam tiga hari ini, 11 – 13 Mei 2026, relawan Monitoring Zona Air Kita (MOZAIK) bentukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), mengangkat lebih dari dua ton sampah dari sungai yang membelah kawasan padat penduduk di Surabaya Utara itu.

Di balik tumpukan sampah yang terlihat, ancaman lain berukuran jauh lebih kecil terus lolos dari perhatian, yaitu mikroplastik. Partikel ukuran kurang dari lima milimeter itu tidak tampak di permukaan air, tetapi tetap mengalir bersama arus menuju tambak, laut, hingga air minum.

Sebagaimana diketahui, mikroplastik berasal dari pecahan kantong plastik, botol, popok sekali pakai, serat tekstil, dan berbagai limbah sintetis lain. Benda itu pecah karena terpapar panas matahari dan gesekan air.

Kini, para ilmuwan di University of Missouri menawarkan pendekatan baru yang terdengar tidak biasa. Mereka merekayasa alga yang menghasilkan aroma jeruk untuk menangkap partikel plastik mikroskopis di air.

Temuan ini, tentu memberi harapan baru, bagi sungai-sungai tercemar, termasuk Kali Tebu.

Tim MOZAIK meniriskan sampah plastik yang berhasil diangkat dari Kali Tebu, Surabaya, sebelum diangkut ke TPS3R Kedung Cowek, Bulak, untuk proses pemilahan dan pengelolaan lebih lanjut. | Foto: Supriyadi

#Alga dengan Aroma Jeruk

Penelitian yang dipimpin Susie Dai, profesor di College of Engineering sekaligus peneliti utama di Bond Life Sciences Center itu. Telah memodifikasi alga agar memproduksi limonene, minyak alami yang memberi aroma khas pada kulit jeruk.

Limonene mengubah permukaan alga menjadi bersifat hidrofobik atau menolak air. Karakter ini sama dengan mikroplastik yang juga cenderung tidak larut dalam air. Ketika keduanya bertemu, partikel plastik menempel pada alga seperti tertarik magnet.

Setelah menempel, alga dan mikroplastik membentuk gumpalan padat yang tenggelam ke dasar. Gumpalan ini kemudian dapat dipisahkan dan diangkat dengan lebih mudah.

“Mikroplastik adalah polutan yang ditemukan hampir di seluruh lingkungan, seperti di kolam, danau, sungai, air limbah, serta pada ikan yang kita konsumsi, ” kata Susie Dai yang dilansir sciencedaily, 12 Mei 2026.

Saat ini, instalasi pengolahan air limbah umumnya hanya mampu menyaring partikel plastik berukuran besar. Mikroplastik yang sangat kecil lolos dari proses tersebut dan tetap mencemari sumber air.

“Saat ini, sebagian besar instalasi pengolahan air limbah hanya mampu menghilangkan partikel plastik berukuran besar. Namun, mikroplastik sangat kecil sehingga dapat lolos dari proses penyaringan, kemudian berakhir di air minum, mencemari lingkungan, dan merusak ekosistem, ” jelasnya.

Dai juga menyebut, teknologi ini dirancang untuk menyelesaikan tiga persoalan sekaligus: menangkap mikroplastik, membersihkan air limbah, dan mendaur ulang plastik yang terkumpul menjadi bahan bioplastik yang lebih aman.

Di laboratoriumnya, Dai telah menggunakan bioreaktor berkapasitas 100 liter yang dijuluki “Shrek.” Sistem ini sebelumnya dipakai untuk mengolah gas buang industri. Tahap berikutnya, memperbesar kapasitas alat, agar dapat diintegrasikan ke fasilitas pengolahan air limbah perkotaan.

#Relevansi bagi Kali Tebu

Temuan Dai memiliki arti penting bagi Kali Tebu, salah satu sungai paling tercemar di Surabaya. Sungai ini menerima limpasan sampah dari permukiman padat di kawasan Kelurahan Kapas Madya Baru, Simokerto, Sidotop Wetan, Tanah Kali Kedinding, dan Bulak Banteng, serta Tambak Wedi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Setiap hari, plastik yang mengambang perlahan terurai menjadi fragmen jauh lebih kecil. Pendiri Ecoton, yang juga seorang peneliti, Prigi Arisandi berulang kali mengingatkan bahwa sampah plastik di sungai akan berubah menjadi mikroplastik. Kemudian masuk ke rantai makanan. Ikan, kerang, hingga garam laut dapat menjadi jalur paparan bagi manusia.

“Setiap plastik yang terbuang ke Kali Tebu, tidak berhenti sebagai sampah yang terlihat di permukaan. Tetapi plastik itu akan terpecah menjadi mikroplastik, masuk ke tubuh ikan dan kerang, lalu kembali ke meja makan manusia melalui makanan. Terutama air yang kita konsumsi,” kata Prigi.

Sebagaimana, selama operasi pembersihan pekan ini, tim MOZAIK mengangkat 1,5 ton sampah pada hari pertama dan lebih dari satu ton pada hari berikutnya.

Popok sekali pakai mendominasi temuan, disusul kantong plastik, botol, sandal, dan styrofoam. Material-material itu merupakan sumber utama mikroplastik sekunder, ketika mengalami pelapukan.

Tim MOZAIK mengevakuasi sampah hasil penirisan dari cegatan barakuda di Kali Tebu, Surabaya. Setelah ditimbang, total sampah yang berhasil diangkat mencapai 1,4 ton, menunjukkan besarnya beban pencemaran yang terbawa arus sungai setiap hari. | Foto: Supriyadi

Teknologi alga beraroma jeruk menawarkan pendekatan yang berbeda dari kegiatan pembersihan manual. Jika relawan mengangkat sampah yang terlihat, alga bekerja pada polutan tak kasatmata yang tetap bertahan di kolom air.

Dr. Trisha Pasricha, kolumnis Ask a Doctor untuk The Washington Post, menulis bahwa paparan partikel dan bahan kimia dari plastik sering membuat masyarakat merasa kewalahan. Karena kontaminasi plastik terasa begitu meluas dan sulit dihindari.

Pernyataan itu menggambarkan situasi Kali Tebu, tempat sampah yang tampak di permukaan hanya sebagian kecil dari ancaman yang sesungguhnya.

Menurut Pasricha, penelitian-penelitian baru memberi harapan, perubahan teknologi dan kebiasaan dapat menurunkan paparan plastik dalam waktu relatif singkat. Inovasi alga dari University of Missouri memperluas optimisme tersebut. Tentu dengan cara menawarkan untuk menangani sumber pencemar langsung di badan air.

Bagi Surabaya, penerapan teknologi semacam ini masih memerlukan waktu. Penelitian Dai berada pada tahap awal dan belum digunakan secara komersial. Meski begitu, konsep tersebut membuka kemungkinan baru bagi pengelolaan sungai perkotaan.

Jika sistem bioreaktor diterapkan di saluran drainase atau instalasi pengolahan limbah, air dari Kali Tebu dapat diproses untuk menangkap partikel yang selama ini lolos dari penyaringan konvensional. Mikroplastik yang berhasil dikumpulkan kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik komposit.

Kondisi Kali Tebu menunjukkan, penanganan sampah tidak dapat berhenti pada pengangkutan karung-karung plastik. Fragmen yang telah terpecah hingga ukuran mikroskopis memerlukan pendekatan ilmiah yang lebih canggih.

Alga beraroma jeruk itu mungkin terdengar sepele, tetapi prinsip kerjanya menggabungkan rekayasa genetika, kimia permukaan, dan teknologi pengolahan air.

Dari laboratorium di Missouri hingga tepian Kali Tebu, pesan yang dibawa riset ini jelas: solusi terhadap persolan plastik dapat muncul dari organisme kecil yang selama ini dipandang biasa.

Bila upaya warga membersihkan sungai bertemu dengan inovasi ilmiah seperti ini, Surabaya memiliki peluang lebih besar untuk memulihkan kualitas airnya. Di tengah tumpukan sampah yang terus diangkat dari Kali Tebu, secercah harapan datang dari alga yang berbau jeruk.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *