Lewati ke konten

MOZAIK: “Ambon” Menjaga Martabat Surabaya dari Kali Tebu

| 4 menit baca |Highlight | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Di tengah bau lumpur dan tumpukan plastik Kali Tebu, Ambon, lulusan SMP dari Tambak Wedi, mengangkat sampah sambil merintis TEKAT untuk memulihkan martabat Surabaya.

Bau lumpur menyergap. Genangan air keruh dan plastik yang tersangkut di bibir Kali Tebu menjadi pemandangan yang akrab selama tiga hari terakhir. Di atas Barakuda, pencegat sampah yang membelah arus, seorang pemuda bertubuh kurus berdiri tegak. Sepatu bot menutup kakinya. Wearpack safety membungkus tubuhnya. Kedua tangannya terlindungi sarung tangan karet.

Gerakannya cekatan mengeksekusi sampah yang menumpuk di permukaan air. Di bawah sengatan matahari Kenjeran yang membakar, senyumnya tetap terjaga. Aroma busuk sungai terus menusuk penciuman, tetapi tidak mengendurkan ritme kerjanya. Tanpa jeda, sampah demi sampah diangkat, ditiriskan, lalu dikumpulkan bersama relawan lain.

Warga pesisir Surabaya lebih mengenalnya dengan satu nama, Ambon.

Padahal, orang tuanya memberi nama Muhammad Nur Alim Kusuma. Usia Ambon kini 23 tahun. Dia tinggal di RT 01 RW 01 Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran, Surabaya.

Ambon tidak mengenyam pendidikan tinggi. Pendidikan formalnya berhenti di bangku sekolah menengah pertama. Akan tetapi, jalan hidupnya melampaui batas yang sering ditentukan oleh selembar ijazah.

Bagi Ambon, nama panggilan itu membawa energi yang sulit diterangkan dengan logika. “Kalau dipanggil Ambon, badan saya terasa sehat. Tenaga seperti bertambah dan kerja jadi lebih semangat,” kata Ambon dengan logat Madura yang kental, Rabu, 13 Mei 2026.

Sebaliknya, nama Alim menimbulkan kesan berbeda. Tubuhnya terasa lebih cepat letih, seolah tenaga mendadak berkurang. Dengan nada bercanda yang memancing tawa relawan lain, Ambon berkata, “Meski saya kurus, tapi kan sehat.”

Ambon mengevakuasi sampah Kali Tebu setelah dipunguti dari permukaan air untuk dipindahkan ke tempat pengolahan. | Foto: Supriyadi

Panggilan Ambon telah tumbuh menjadi identitas yang meneguhkan keyakinannya. Di lingkungan keluarga Madura, Ambon dibesarkan dengan nilai taretan—persaudaraan yang menempatkan solidaritas sebagai kekuatan utama. Nilai itu tertanam kuat dalam cara pandangnya terhadap kehidupan dan lingkungan.

“Kalau sesama taretan (saudara) bergerak bersama, pekerjaan berat terasa ringan,” ujar Ambon.

Bagi Ambon, menjaga Kali Tebu bukan hanya urusan mengangkat sampah. Sungai itu merupakan bagian dari kehormatan kampung. Ketika air dipenuhi plastik dan limbah rumah tangga, yang tercemar tidak hanya aliran sungai, tetapi juga martabat warga yang hidup di sekitarnya.

Dari keyakinan itulah Ambon terus bekerja di bawah matahari, dengan tubuh kurus dan senyum yang tak mudah pudar. Dari tepian Kali Tebu, pemuda yang mengaku kerap hidup di hutan itu menunjukkan bahwa kekuatan terbesar sering lahir dari rasa persaudaraan dan tekad untuk menjaga tanah tempat tumbuh.

#Di Balik Gunungan Sampah

Meski Ambon lahir dan besar di dekat kawasan Kali Tebu, dia tidak mengetahui sejarah sungai. Yang dia pahami, ketika beranjak dewasa, Kali Tebu telah berubah menjadi aliran air yang keruh, bau, dan dipenuhi sampah.

Bagi Ambon, kenyataan itu menyakitkan. Sungai tetap dipandang sebagai bagian dari harga diri. Menurutnya, ketika air tertutup sampah, wajah kota ikut tercoreng.

“Kalau sungai kotor, Surabaya ikut malu,” tegas Ambon.

Ambon bersama relawan lain mengevakuasi sampah Kali Tebu yang telah diangkat dari permukaan air untuk ditiriskan sebelum dibawa ke tempat pengolahan. | Foto: Supriyadi

Selama tiga hari terakhir, Ambon berjibaku mengevakuasi sampah. Sejak pagi hingga sore, plastik, kayu, dan lumpur diangkat dari perangkap sungai. Sampah ditiriskan terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke kendaraan pengangkut.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pekerjaan itu menguras tenaga dan menahan haus. Terik matahari yang menyengat membuat tubuhnya, yang terbungkus wearpack safety, dipenuhi keringat.

Kondisi itu tidak menyurutkan semangat Ambon. Baginya, setiap karung sampah yang berhasil diangkat merupakan upaya nyata memulihkan martabat Surabaya di mata publik.

“Sungai harus bersih, karena air itu mencerminkan kemuliaan kota,” ucap Ambon.

Ucapannya memancing tawa relawan lain. Mereka menganggap kalimat itu terlalu bijak dan filosofis.

“Saya ini bicara serius,” sahut Ambon.

Setelah itu, Ambon mengungkapkan keinginannya membentuk komunitas TEKAT.

Menurut Ambon, TEKAT lahir dari kegelisahannya melihat kondisi Kali Tebu. TEKAT merupakan akronim dari Tretan Kali Tebu, yang berarti Saudara Kali Tebu. Komunitas tidak hanya ditujukan bagi warga Madura, melainkan terbuka bagi siapa pun.

“Siapa pun boleh bergabung. Tidak kita lihat asal daerahnya,” jelas Ambon.

Ambon ingin membicarakan gagasan itu terlebih dahulu dengan Ketua Rukun Warga. Dia memahami, keterlibatan RW sangat penting, agar gerakan TEKAT memiliki dukungan masyarakat.

Ambon berencana merintis komunitas, menegaskan jika semangat persaudaraan dalam menjaga sungai itu penting.

“Nanti saya kumpulkan teman-teman. Saya juga akan bicara dulu dengan Pak RW,” ujarnya. “Kalau punya tekat, sungai ini bisa kembali bersih.”

Dia ingin kepedulian terhadap lingkungan menjadi kerja rutin warga, bukan seremonial belaka. Warga harus merasa bahwa Kali Tebu tanggung jawab bersama.

Meski lulusan SMP, Ambon memiliki pengetahuan pergaulan cukup kuat. Dia memahami dinamika arus dan karakter masyarakat pesisir. Ambon meyakini perubahan hanya dapat tumbuh dari dalam masyarakat secara konsisten.

Semangat kebersamaan itulah yang diyakininya sebagai kunci menjaga kelestarian Kali Tebu dan memulihkan martabat Surabaya dari ancaman sampah plastik.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *