Lewati ke konten

Menuju Transportasi Ideal: Pelajaran dari Wira-Wiri Surabaya

| 4 menit baca |Rekreatif | 3 dibaca

Wira-Wiri Suroboyo hadir sebagai solusi last-mile, tetapi rute berputar, waktu tempuh panjang, dan ketidakpastian jadwal memberi pelajaran penting bagi perbaikan sistem transportasi publik kota.

Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, terus berupaya meningkatkan sistem transportasinya demi kenyamanan dan efisiensi warganya. Salah satu inovasi yang diharapkan mampu menjadi solusi last-mile adalah layanan Wira-Wiri Suroboyo, armada pengumpan yang menghubungkan kawasan permukiman dengan jalur utama bus kota.

Setelah berjalan selama tiga tahun, sistem ini menunjukkan sejumlah pelajaran berharga yang bisa dijadikan acuan untuk menuju transportasi yang lebih baik.

#Apa Itu Wira-Wiri Suroboyo?

Wira-Wiri adalah layanan angkutan kecil yang didesain sebagai feeder atau pengumpan bagi penumpang dari area permukiman ke jalur utama bus kota. Dengan cat berwarna merah mencolok dan fasilitas AC yang nyaman, armada ini tampil modern dan menarik. Tujuannya jelas, memudahkan warga mendapatkan akses ke transportasi umum tanpa harus berjalan jauh atau menggunakan kendaraan pribadi.

Namun, kenyataannya tidak selalu seindah penampilan. Sistem ini menghadapi tantangan terkait efisiensi rute dan waktu tempuh yang tidak menentu. Banyak pengguna merasa bahwa rute yang terlalu memutar dan jalur yang tidak langsung justru membuat perjalanan mereka jadi lebih lama dan kurang praktis.

#Paradoks Rute “Pintu ke Pintu”

Secara teori, konsep feeder seperti Wira-Wiri seharusnya menjadi solusi ideal, bisa mengantarkan penumpang dari titik tinggal langsung ke jalur utama tanpa repot. Sayangnya, praktiknya berbeda. Banyak rute Wira-Wiri justru memutar ke berbagai titik yang tidak relevan bagi kebanyakan penumpang, sehingga waktu perjalanan pun membengkak.

Putri (29), seorang karyawan swasta yang tinggal Surabaya, mengungkapkan pengalaman pribadinya: “Aku tadi naik Wira-Wiri dari rumah, tapi muter banget. Harusnya 15 menit, jadi hampir 40 menit.” Ia menyatakan bahwa meskipun konsepnya bagus dan mendukung program pengurangan penggunaan motor pribadi, rutenya sering kali tidak masuk akal.

Sementara itu, Adi (35), pekerja lepas yang rutin menggunakan layanan ini, juga mengeluhkan hal serupa. “Kalau ditanya nyaman atau nggak, ya nyaman. Tapi kalau ditanya cepat atau nggak, itu beda cerita,” ujarnya sambil tertawa kecil. Ia bahkan pernah melakukan percobaan kecil: jaraknya dekat di peta namun jalurnya memutar ke sana kemari sebelum akhirnya sampai tujuan.

#Pelajaran dari Pengalaman Pengguna

Pengalaman pengguna seperti Putri dan Adi memberikan gambaran nyata tentang tantangan yang dihadapi sistem feeder saat ini. Mereka menunjukkan bahwa meskipun tujuan awal adalah meningkatkan efisiensi dan mengurangi kemacetan serta emisi karbon, realitas di lapangan masih jauh dari kata optimal.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Salah satu pelajaran penting adalah perlunya evaluasi rute secara berkala agar sesuai dengan kebutuhan riil warga. Rute harus dirancang berdasarkan pola perjalanan mayoritas pengguna dan bukan sekadar memperluas cakupan wilayah tanpa mempertimbangkan waktu tempuh.

Selain itu, transparansi jadwal dan estimasi waktu tunggu juga harus diperbaiki agar penumpang bisa merencanakan perjalanan dengan lebih baik. Teknologi seperti GPS dan aplikasi pemantauan bisa membantu dalam hal ini, memberikan informasi real-time mengenai keberangkatan dan kedatangan armada.

#Menuju Transportasi Lebih Baik

Kendati mengalami berbagai tantangan, keberadaan Wira-Wiri tetap memiliki potensi besar jika diperbaiki secara menyeluruh. Surabaya bisa belajar dari pengalaman kota-kota lain di dunia seperti Seoul atau Singapura yang menerapkan sistem feeder dengan rute terencana ketat serta penggunaan teknologi canggih untuk optimisasi.

Dari pengalaman pribadi maupun statistik terbaru—menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, sekitar 60% warga Surabaya masih bergantung pada transportasi umum—penting bagi pemerintah kota untuk terus memperbaiki layanan ini agar benar-benar menjadi solusi “pintu ke pintu” yang efektif.

Pelajaran dari perjalanan Wira-Wiri Surabaya menunjukkan bahwa inovasi dalam transportasi harus didukung oleh perencanaan matang dan adaptif terhadap kebutuhan pengguna. Jangan sampai infrastruktur canggih hanya menjadi simbol tanpa manfaat nyata di lapangan. Dengan evaluasi rutin, integrasi teknologi terbaru, serta mendengarkan suara pengguna langsung, Surabaya punya peluang besar untuk mewujudkan sistem transportasi umum yang efisien dan nyaman—menuju transportasi ideal yang benar-benar melayani seluruh warga kota.***

*) Shella Mardiana PutriMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *