Lewati ke konten

Ultra Maraton Sungai Watch Lawan Polusi Plastik

| 4 menit baca |Ekologis | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Realease Editor: Supriyadi

Ultra maraton lintas Jawa sejauh 1.260 kilometer digelar untuk menggalang dana dan membersihkan sungai, mendorong perhatian nasional terhadap krisis polusi plastik Indonesia.

Tiga pendiri Sungai Watch, Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib, melintasi Pulau Jawa dalam sebuah ekspedisi lari ultra-maraton yang menyasar krisis polusi plastik. Mereka menargetkan jarak 1.260 kilometer selama 57 hari, dari Bali hingga Jakarta, sembari menggalang dana sebesar 1 juta dolar Amerika Serikat.

Perjalanan dimulai pada 28 Maret 2026. Dalam enam hari pertama, tim menyelesaikan etape Bali sejauh 145 kilometer. Saat ini, mereka telah memasuki wilayah Jawa Timur, termasuk kawasan industri dan aliran sungai dengan tingkat pencemaran tinggi. Setiap hari, tim berlari rata-rata 25 kilometer.

Selain berlari, tim juga menggelar aksi bersih sungai, bertemu komunitas lokal, dan berdialog dengan pemerintah daerah. Hingga hari ke-10, tanda kelelahan mulai terlihat. Di sisi lain, dukungan publik terus meningkat, memperluas jangkauan kampanye yang mereka sebut “Run for Rivers”.

Gary Bencheghib mengatakan kegiatan ini menggabungkan ketahanan fisik dengan aksi lapangan. “Kami tidak hanya berlari 25 kilometer setiap hari. Tim kami memantau titik pembersihan, turun ke sungai, dan bekerja bersama masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, pada Rabu, 8 April 2026, yang dikirim ke TItikTerang, Jumat, (24/4/2026).

Ekspedisi ini dirancang melintasi sekitar 30 kota dan wilayah. Tim juga menargetkan bertemu sejumlah kepala daerah untuk membahas sistem pengelolaan sampah dan peluang ekspansi program.

#Menggalang Dana dan Memetakan Krisis

Run for Rivers bertujuan mengumpulkan dana 1 juta dolar untuk memperluas operasi Sungai Watch di Pulau Jawa. Dana tersebut akan digunakan untuk pemasangan penghalang sampah di sungai serta penguatan fasilitas pengolahan limbah.

Setiap donasi 1 dolar setara dengan pengangkatan 1 kilogram sampah dari sungai. Dalam 10 hari pertama, kampanye ini telah mengumpulkan lebih dari 56 ribu dolar melalui platform daring resmi mereka.

Kelly Bencheghib menyebut perjalanan ini menjadi sarana pemetaan kondisi sungai secara langsung. “Lari ini membantu memetakan realitas limbah dan sungai di seluruh Jawa, sehingga arah ekspansi berikutnya menjadi jelas,” katanya.

Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib melintasi pematang sawah dalam perjalanan Run for Rivers, menggabungkan aksi lari jarak jauh dengan kampanye penyelamatan sungai di Indonesia. | Dok. Sungai Watch

Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait sampah plastik. Data global menunjukkan sebagian besar plastik laut berasal dari aliran sungai. Kondisi ini diperparah praktik pembakaran terbuka dan sistem pengelolaan sampah yang belum merata.

Melalui ekspedisi ini, tim berupaya menampilkan kondisi lapangan secara nyata kepada publik dan pembuat kebijakan. Target akhir perjalanan berada di Jakarta, dengan agenda membawa temuan lapangan ke pemerintah pusat.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sam Bencheghib menyatakan momentum perhatian terhadap polusi plastik perlu segera diterjemahkan menjadi tindakan konkret. “Kami berlari untuk mendorong solusi dan pendanaan agar jangkauan program dapat diperluas,” ujarnya.

#Dukungan Publik dan Dampak Nyata

Ekspedisi ini menarik perhatian berbagai tokoh nasional. Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan dukungannya saat bertemu tim di Jakarta pada Maret lalu. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai upaya penting dalam meningkatkan kesadaran publik.

“Saya berharap bisa ikut berlari. Ini upaya luar biasa untuk menggalang dana dan kesadaran masyarakat,” kata Sandiaga.

Dukungan juga datang dari kalangan pemerintahan yang melihat pentingnya penanganan polusi plastik secara sistematis. Kampanye ini diproyeksikan menjangkau lebih dari 100 juta penayangan melalui media sosial dan dokumentasi harian.

Sejak berdiri pada 2020, Sungai Watch telah memasang lebih dari 400 penghalang sampah di sungai, terutama di Bali dan Jawa Timur. Organisasi ini mengklaim telah mengangkat lebih dari 4,6 juta kilogram sampah dan memobilisasi puluhan ribu relawan.

Operasi mereka mencakup pemasangan penghalang, pemilahan sampah, hingga pengolahan material menjadi produk bernilai ekonomi. Pendekatan ini menggabungkan pencegahan di hulu dengan penguatan ekonomi sirkular.

Dalam ekspedisi kali ini, seluruh biaya perjalanan ditanggung secara mandiri oleh organisasi. Skema tersebut memungkinkan seluruh donasi publik digunakan langsung untuk kegiatan lapangan.

Perjalanan panjang ini direncanakan berakhir pada akhir Mei 2026 di kawasan Monumen Nasional, Jakarta. Setiap kilometer yang ditempuh diharapkan memperkuat kesadaran publik sekaligus mendorong perubahan kebijakan.

Gary Bencheghib menegaskan bahwa aksi ini membawa pesan sederhana. “Setiap langkah kami adalah upaya menghentikan plastik sebelum mencapai laut,” ujarnya.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *