Lewati ke konten

Menghukum dengan Perahu: Cara Unik Surabaya Mendisiplinkan Warga Kali Tebu

| 6 menit baca |Eksploratif | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus

Proyek 3 kilometer di bantaran Kali Tebu dipacu 20 hari. Di balik ambisi wisata air, tersimpan pertarungan lama antara kebiasaan membuang sampah dan disiplin kota.

Tulisan 3

Di tepian Kali Tebu, waktu seperti dipaksa berlari lebih cepat. Di bawah terik Surabaya Utara, suara alat berat bersahutan dengan hitungan kasar yang terlontar di lokasi: 50 meter per hari, 3.000 meter total, dibagi menjadi 20 hari kerja. Logika proyek diperas hingga ke titik paling efisien.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, tidak memberi ruang bagi ritme lambat birokrasi. Targetnya terang: jalan tembus sepanjang sekitar 3 kilometer di dua sisi Kali Tebu harus selesai dalam tempo singkat. Barat dan Timur, semua diaspal. Tidak ada separuh langkah.

Jika diurut dari titik pandang itu – dari tempat Eri berdiri, maka wilayah-wilayah ini tersusun Bulak Banteng sebelah barat dan Tambak Wedi sebelah timur, Sidotopo Wetan sebelah barat dan Kali Dinding berada di sebelah timur dan Kapas Madya sebelah barat, sebelah timur Simokerto.

“Maka nanti ini akan kita aspal mulai titik rumah pompa sampai habisnya ujung jalan sekitar 3 kiloan. Barat timur kita aspal semuanya,” kata Eri pada Selasa, 21 April 2026.

Ambisi ini lahir dari satu diagnosis lama, kemacetan ruang. Bertahun-tahun, bantaran Kali Tebu terjebak dalam okupasi liar. Palet kayu, rongsokan, bangunan tanpa izin, semuanya menutup akses seperti plak di pembuluh darah kota. Jalan menyempit, mobilitas tersendat, dan sungai berubah fungsi menjadi tempat buangan sampah dan limbah.

Proyek ini mencoba membalik keadaan dengan pendekatan yang agresif. Empat titik pengerjaan dijalankan simultan. Distribusi aspal dan alat berat diatur dalam ritme cepat: tidak boleh ada jeda, tidak boleh ada antrean.

Fokus awal diarahkan ke 1 kilometer pertama dari jembatan Bulak Banteng hingga pompa air. Sisanya dikejar dalam pola yang sama. Strategi ini menunjukkan satu hal, pemerintah kota tidak lagi bermain di level bibir saja, melainkan mencoba memotong akar persoalan.

Namun percepatan selalu membawa risiko. Dalam proyek yang dipadatkan menjadi 20 hari dari pendanaan swakelola ini, kualitas sering menjadi pertanyaan. Aspal yang tergesa bisa rapuh. Jalan yang terburu bisa cepat retak. Tapi bagi Eri, waktu tampaknya lebih mahal daripada kemungkinan perbaikan di kemudian hari.

Di sisi lain, proyek ini juga disambungkan dengan titik lain seperti kawasan Wonokromo. Akses di sekitar stasiun yang lama tertutup akan dibuka kembali. Ada upaya menyulam konektivitas kota, dari pinggiran yang lama terabaikan hingga simpul transportasi utama.

Kali Tebu, yang dulu dianggap halaman belakang kota, kini sedang dipaksa menjadi wajah depan.

Eri Cahyadi berdiri dengan latar Kali Tebu yang kumuh sedang memberi instruksi di tengah bau limbah dan lumpur. Di titik ini, pembangunan bukan lagi wacana—ia jadi keputusan. Cepat, tegas, dan penuh taruhan: antara memperbaiki kota, atau sekadar merapikan permukaannya. | Foto: Supriyadi

#Sanksi Sosial: Menghukum dengan Empati yang Dipaksa

Jika pembangunan fisik adalah satu sisi cerita, maka perubahan perilaku adalah medan tempur yang jauh lebih rumit. Sampah di Kali Tebu tidak jatuh dari langit. Tetapi lahir dari kebiasaan panjang, dari pembiaran kolektif yang diwariskan antar generasi.

Eri memilih pendekatan yang tidak lazim. Alih-alih mengandalkan denda administratif, ia memperkenalkan sanksi sosial yang langsung menyentuh tubuh pelanggar.

“Kalau ada warga tertangkap membuang sampah, tak beri sanksi telung dino bersih-bersih nang kali iki nang dukure prahu,” ujarnya.

Tiga hari. Di atas perahu. Mengambil sampah yang sebelumnya mereka anggap sepele.

Hari pertama menjadi fase kejutan. Hari kedua berubah menjadi pengalaman fisik yang melelahkan. Hari ketiga diharapkan melahirkan kesadaran. Skema ini dirancang seperti kurikulum singkat tentang empati.

Pendekatan ini menarik karena menggeser logika hukuman. Dari sekadar membayar kesalahan menjadi merasakan konsekuensi. Ada unsur performatif di dalamnya: pelanggar tidak hanya dihukum, tetapi juga dipertontonkan sebagai bagian dari pembelajaran sosial.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di saat yang sama, pengawasan diperkuat dengan teknologi. CCTV akan dipasang di sepanjang sisi barat dan timur jalan. Kamera menjadi mata kota yang tidak pernah berkedip. Pelanggaran tidak lagi bergantung pada laporan warga, tetapi pada bukti visual yang sulit dibantah.

Model ini mencerminkan perpaduan antara smart city dan kontrol sosial klasik. Teknologi mengidentifikasi, komunitas mengeksekusi tekanan sosial.

Namun ada pertanyaan yang menggantung: apakah rasa malu cukup kuat untuk mengubah kebiasaan yang sudah berakar puluhan tahun?

Sejarah kota-kota besar menunjukkan bahwa perubahan perilaku membutuhkan waktu lebih lama dibanding pembangunan fisik. Jalan bisa selesai dalam 20 hari. Mentalitas bisa memakan 20 tahun.

Di titik ini, keberhasilan proyek Kali Tebu tidak akan diukur dari halusnya aspal, tetapi dari bersihnya air dalam jangka panjang.

Dua anak duduk diam di tepian Kali Tebu, menatap sungai yang sedang “ditertibkan”. Di hadapan mereka, tim Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) memasang trash boom—garis batas baru bagi sampah yang selama ini bebas mengalir. Ini cara program MOZAIK menghentikan kebiasaan lama lewat intervensi yang paling kasatmata. Pertanyaannya sederhana tapi berat: apakah yang berubah hanya arus sampah, atau juga cara pandang manusianya? | Dok Ecoton

#Dari Sungai Kotor ke Imajinasi Wisata Air

Di balik proyek ini, ada visi yang lebih besar: menjadikan Kali Tebu sebagai destinasi wisata air. Sebuah gagasan yang, jika ditarik beberapa tahun ke belakang, terdengar nyaris mustahil.

Sungai yang dulu dipenuhi sampah kini diproyeksikan menjadi ruang publik. Tempat orang datang bukan untuk membuang, tetapi untuk menikmati.

Untuk mencapai itu, Pemerintah Kota Surabaya tidak bergerak sendiri. Mereka menggandeng Ecoton, organisasi yang selama ini dikenal kritis terhadap pencemaran sungai. Kolaborasi ini memberi lapisan legitimasi ekologis pada proyek yang berpotensi dianggap sekadar penataan visual.

Ecoton tidak hanya membantu membersihkan, tetapi juga membawa perspektif tentang kualitas air. Sebab wisata air tanpa air yang layak hanyalah ilusi yang cepat runtuh.

Langkah-langkah lanjutan sudah disusun. Penertiban bangunan liar akan dilakukan secara konsisten. Jalan akan diperlebar agar mampu menampung arus kendaraan, termasuk wisatawan. Satgas kebersihan diperkuat, dengan warga dilibatkan sebagai pengawas sehari-hari.

Yang menarik, proyek ini juga menyentuh ekonomi lokal. Pedagang akan ditata, bukan diusir. Ada upaya menjadikan ruang publik sebagai mesin ekonomi baru bagi warga Bulak Banteng.

Di sinilah proyek ini memasuki wilayah paling sensitif: keseimbangan antara estetika kota dan keberlangsungan hidup warga kecil. Penataan yang terlalu steril bisa mematikan ekonomi informal. Sebaliknya, pembiaran akan mengembalikan kekacauan lama.

Eri tampaknya mencoba berjalan di antara dua jurang itu. “Ini kali tebu sudah puluhan tahun seperti ini. Kita akan jadikan tempat wisata yang baru,” katanya.

Siapa pun yang mendengar, kalimat itu cukup lugas, tetapi mengandung taruhan besar. Jika berhasil, Kali Tebu akan menjadi simbol keberhasilan transformasi kota berbasis partisipasi. Jika gagal, proyek tersebut hanya akan menjadi proyek lain yang berhenti di lapisan aspal.

Revitalisasi Kali Tebu merupakan cerita tentang pertarungan panjang: antara kebiasaan dan disiplin, antara kekumuhan dan estetika, antara kecepatan proyek dan ketahanan hasil.

Aspal bisa menutup luka lama. Tapi hanya perubahan perilaku yang bisa mencegah luka itu terbuka kembali.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *