Lewati ke konten

Peringatan Hari Bumi di Wringinanom Gresik: Mahasiswa Desak Pemerintah Serius Tangani Sampah Plastik di Sungai

| 7 menit baca |Sorotan | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Sri Astika Editor: Supriyadi

Aksi mahasiswa di Gresik menyoroti krisis sampah dan pencemaran sungai, mendesak penegakan hukum, pengelolaan limbah dari hulu ke hilir, serta perubahan perilaku masyarakat.

Peringatan Hari Bumi 2026 di kawasan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, diisi dengan aksi turun jalan menyoroti persoalan pengelolaan sampah dan pencemaran sungai.

Sejumlah mahasiswa dari Program Studi Biologi FMIPA Universitas Negeri Surabaya dan Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya turun langsung bersama lembaga riset Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON).

Sejak Rabu pagi, 22 April 2026, para peserta aksi bergerak menyusuri permukiman hingga bantaran Kali Surabaya di sekitar kantor ECOTON. Mereka membawa pesan tentang pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya.

Kegiatan dimulai dengan penanaman pohon di bantaran sungai sebagai upaya menjaga fungsi ekologis kawasan tersebut. Di saat bersamaan, para mahasiswa memungut sampah yang tercecer di sepanjang jalur yang mereka lintasi. Aktivitas ini menjadi bagian dari pendekatan langsung untuk memahami kondisi lapangan.

Perjalanan berlanjut hingga ke titik yang memperlihatkan persoalan serius pengelolaan limbah. Di tepi sungai, para mahasiswa menemukan tumpukan sampah dalam jumlah besar yang mengeluarkan bau menyengat. Sampah organik, anorganik, hingga limbah B3 bercampur tanpa pemilahan di lokasi yang berdekatan dengan area pasar.

Kondisi tersebut memicu reaksi keras dari peserta aksi. Mereka menilai situasi itu sebagai ancaman nyata terhadap kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem sungai.

“Pengelolaan sampah adalah soal tanggung jawab. Kalau dibiarkan, dampaknya kembali ke manusia sendiri,” kata Sri Astika, mahasiswa Biologi, Universitas Negeri Surabaya, dalam orasi di lokasi hari itu.

Para mahasiswa kemudian menyampaikan tuntutan terbuka kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Mereka meminta penyediaan fasilitas pemilahan sampah yang memadai, edukasi publik secara menyeluruh, serta penegakan aturan terhadap pembuangan limbah sembarangan.

Aksi turun jalan tersebut juga memperlihatkan keterhubungan antara perilaku masyarakat dengan kondisi sungai. Sampah yang dibuang di daratan pada akhirnya bermuara ke aliran air, memperburuk kualitas sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan.

Mahasiswa menggelar aksi di bantaran Kali Surabaya, Wringinanom, Gresik, sambil membawa poster tuntutan perlindungan sungai. Aktivitas penyeberangan warga tetap berlangsung di tengah seruan menjaga lingkungan. | Dok. Ecoton

#Dari TPS hingga Simpang Jalan Raya

Memasuki siang hari, kegiatan berlanjut ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) setempat. Di lokasi ini, para mahasiswa melakukan aksi bersih-bersih sebagai bentuk praktik langsung dari pesan yang mereka bawa.

Dengan menggunakan sarung tangan dan peralatan sederhana, mereka memilah sampah yang masih dapat dipisahkan. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat dimulai dari langkah sederhana.

Slogan “Sampah kelola dari rumah” menjadi pesan utama yang terus diulang selama aksi berlangsung. Para peserta ingin menekankan bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah tidak berhenti di TPS atau tempat pembuangan akhir.

“Perubahan tidak akan terjadi jika hanya mengandalkan pemerintah. Setiap orang harus mulai dari rumah,” ujar salah satu peserta aksi di lokasi.

Pada sore hari, aksi berpindah ke perempatan lampu merah Wringinanom. Lokasi ini dipilih karena menjadi titik pertemuan arus kendaraan yang padat. Para mahasiswa membentangkan poster bertuliskan “AYO PILAH SAMPAH”, “DARI RUMAH SAMPAH KELOLA”, dan “HENTIKAN PLASTIK SEKALI PAKAI”.

Aksi tersebut menarik perhatian pengguna jalan. Beberapa pengendara terlihat membaca poster, sementara sebagian lain memperlambat kendaraan untuk mengamati kegiatan yang berlangsung.

Dalam orasi di lokasi itu, Wahyu Baitullah, mahasiswa Biologi dari Universitas Negeri Surabaya, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan persoalan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau kebiasaan membuang sampah sembarangan terus dipertahankan, dampaknya akan semakin besar. Pertanyaannya sederhana, kita mau berubah atau menanggung akibatnya,” kata Wahyu.

Aksi di simpang jalan itu ditutup dengan seruan reflektif tentang masa depan lingkungan. Para mahasiswa mengajak masyarakat untuk melihat krisis lingkungan sebagai persoalan bersama yang membutuhkan tindakan kolektif.

Poster diangkat, suara dikeraskan: “Stop sampah plastik sekali pakai.” Ini bukan semata ajakan, tapi tudingan. Bumi tidak rusak sendirian—tapi dirusak, perlahan, oleh kebiasaan yang terus dibiarkan. | Dok. Ecoton

#Gugatan Hukum dan Ancaman Nyata

Selain aksi lapangan, para mahasiswa juga menyoroti tanggung jawab pemerintah daerah dalam menangani pencemaran sungai di Jawa Timur. Dalam orasi, mereka menyinggung sejumlah putusan hukum yang berkaitan dengan kasus lingkungan, termasuk fenomena ikan mati di beberapa sungai.

Koordinator aksi, Jofan Ahmad, menyatakan bahwa pemerintah daerah perlu mematuhi putusan hukum yang telah berkekuatan tetap.

“Putusan pengadilan harus dijalankan. Ini menyangkut hak masyarakat atas lingkungan yang sehat,” ujar Jofan.

Putusan yang disorot antara lain Nomor 08/Pdt.G/2019/PN Sby Jo Nomor 177/PDT/2023/PT.Sby, Nomor 1190/K/PDT/2024, serta putusan Peninjauan Kembali Nomor 821 PK/Pdt/2025 tertanggal 21 Agustus 2025.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Para peserta aksi juga menggelar kegiatan yang mereka sebut sebagai “Besuk Sungai”. Dalam kegiatan ini, mereka membawa poster berisi pesan peringatan kepada pemerintah daerah untuk turun langsung melihat kondisi sungai.

Langkah tersebut dimaksudkan sebagai bentuk tekanan moral agar kebijakan lingkungan tidak berhenti di tingkat administratif. Mereka menilai bahwa pengawasan lapangan menjadi kunci dalam memastikan perlindungan ekosistem sungai.

Sungai-sungai di Jawa Timur memiliki peran vital dalam kehidupan masyarakat. Aliran seperti Kali Brantas, Kali Surabaya, Kali Mas, hingga Bengawan Solo wilayah timur menjadi sumber air bagi jutaan warga.

Air dari sungai tersebut digunakan sebagai bahan baku air minum setelah melalui proses pengolahan. Selain itu, sungai juga mendukung aktivitas domestik, pertanian, hingga industri.

Tekanan terhadap kualitas sungai terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Limbah domestik, sampah plastik, serta buangan industri menjadi faktor utama penurunan kualitas air.

Dampak dari kondisi tersebut mulai dirasakan masyarakat. Biaya pengolahan air bersih meningkat, sementara kualitas air yang tersedia mengalami penurunan. Risiko kesehatan juga meningkat akibat paparan polutan.

Mahasiswa berjalan menyusuri permukiman sambil mengkampanyekan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai kepada warga, mengajak perubahan perilaku dari tingkat rumah tangga. | Dok. Ecoton

Para mahasiswa menilai bahwa kondisi ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. Mereka mendorong langkah konkret dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memperbaiki sistem pengelolaan lingkungan.

“Kalau tidak ada perubahan, dampaknya akan semakin luas. Sungai adalah sumber kehidupan, jadi harus dijaga bersama,” ucap Farida Febriani Tampubolon, mahasiswa Sumberdaya Perairan dari UB Malang.

Di sisi lain, peringatan Hari Bumi 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Para peserta aksi menilai bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan keterlibatan semua pihak.

Masyarakat didorong untuk mulai memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta menghemat penggunaan air dan energi. Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara kolektif.

Selain itu, masyarakat juga diajak untuk berani melaporkan praktik pencemaran yang terjadi di lingkungan sekitar. Partisipasi publik dianggap penting dalam mendukung pengawasan terhadap pelanggaran lingkungan.

Tripani Anastasia Togatorop, Ketua GAIAN Verse, yang juga mahasiswa dari Sumberdaya Perairan UB Malang menyampaikan, masa depan lingkungan bergantung pada tindakan yang diambil saat ini.

“Bumi sudah memberikan banyak hal untuk kehidupan. Tugas manusia sekarang menjaga agar tetap layak untuk generasi berikutnya,” ujarnya.

ECOTON sebagai lembaga yang menaungi kegiatan ini selama ini aktif dalam penelitian mikroplastik, edukasi lingkungan, serta advokasi kebijakan. Keterlibatan mahasiswa dalam program magang menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap isu lingkungan.

Aksi di Wringinanom menjadi gambaran bahwa gerakan lingkungan dapat dimulai dari langkah kecil di tingkat lokal. Dari bantaran sungai hingga simpang jalan, pesan tentang pentingnya menjaga bumi terus disuarakan.

Peringatan Hari Bumi tahun ini memperlihatkan bahwa krisis lingkungan semakin nyata. Sampah yang menumpuk, kualitas air yang menurun, serta lemahnya pengelolaan limbah menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

Para mahasiswa berharap aksi tersebut dapat memicu perubahan yang lebih luas. Mereka menilai bahwa kesadaran publik dan keberanian mengambil tindakan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Semua orang punya peran. Tinggal mau bergerak atau tidak,” kata Jofan bernada tegas.***

 

*) Sri Astika, mahasiswa Biologi angkatan 2023 Universitas Negeri Surabaya, tengah menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) dan berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *