Lewati ke konten

Imbas Rupiah Melemah ke Rp18.000, Aktivitas Dagang di Pasar Keputran Tertekan

| 4 menit baca |Sorotan | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Marga Bagus

Nilai tukar rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS mulai memicu kenaikan harga pangan dan menekan aktivitas perdagangan Pasar Keputran Surabaya.

Pelemahan nilai tukar Rupiah hingga menembus Rp18.000 per Dolar AS mulai dirasakan langsung oleh pedagang dan konsumen di Pasar Keputran, Surabaya. Kenaikan harga komoditas impor memicu kekhawatiran atas menurunnya daya beli masyarakat dalam sepekan terakhir.

Aktivitas perdagangan di pasar induk tersebut masih berlangsung padat sejak dini hari. Truk pengangkut sayuran dan bahan pangan silih berganti masuk ke area pasar, sementara pedagang melayani pembeli grosir dari berbagai wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Namun di balik ritme transaksi yang tetap berjalan, para pedagang mengaku mulai kesulitan menjaga stabilitas harga. Sejumlah komoditas impor seperti bawang putih dan kedelai mengalami kenaikan harga bertahap mengikuti pergerakan kurs dolar AS.

Hasan (45), pedagang grosir bawang putih di Pasar Keputran, mengatakan harga tebus bawang dari distributor naik sejak nilai tukar Rupiah terus melemah. Menurutnya, kenaikan terjadi hampir setiap pengiriman barang.

“Bawang putih ini hampir semuanya impor. Begitu dolar naik sampai Rp18.000, harga per karung isi 20 kilogram naik sekitar Rp30.000 sampai Rp40.000,” kata Hasan pada Sabtu (6/6/2026).

Ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual di tingkat pasar. Jika harga dipertahankan, margin keuntungan akan habis karena biaya modal terus meningkat.

Pasar Keputran Utara Surabaya menghadapi tekanan kenaikan modal pangan grosir akibat fluktuasi kurs global yang terus membebani pedagang lokal. | Foto: Shella

#Distribusi Grosir Mulai Melambat

Kenaikan harga tersebut mulai memengaruhi pola belanja pedagang eceran yang biasa mengambil stok di Pasar Keputran. Hasan menyebut sejumlah pelanggan kini mengurangi volume pembelian karena khawatir barang sulit terjual kembali di tingkat konsumen.

“Biasanya mereka ambil lima karung, sekarang paling dua karung saja untuk jaga stok,” ujarnya.

Penurunan pembelian dari pedagang eceran membuat distribusi pangan ke pasar-pasar kecil di Surabaya ikut melambat. Pedagang memilih menahan modal sambil menunggu kondisi harga lebih stabil.

Situasi serupa terjadi pada komoditas kedelai impor. Rohmah (50), pedagang kedelai di Pasar Keputran, mengatakan harga kedelai berubah hampir setiap hari mengikuti fluktuasi kurs dolar AS.

Menurut dia, kenaikan harga bahan baku membuat para perajin tahu dan tempe kesulitan mempertahankan produksi. Dampaknya ikut dirasakan pedagang grosir di pasar.

“Kalau harga kedelai terus naik, perajin tahu dan tempe banyak yang mengurangi produksi. Pembeli di sini juga jadi sepi,” katanya.

Rohmah menambahkan tekanan kurs turut mengubah pola transaksi di tingkat distributor. Sistem pembayaran tempo yang sebelumnya lazim digunakan kini mulai dibatasi.

Distributor, kata dia, meminta pembayaran tunai untuk menghindari kerugian akibat perubahan nilai tukar yang cepat. Kondisi itu membuat pedagang grosir menerapkan aturan serupa kepada pembeli mereka.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Sekarang pembayaran harus lebih cepat dan banyak yang minta tunai. Utang barang mulai dibatasi,” ujarnya.

Lampu-lampu redup Pasar Keputran menerangi tumpukan cabai, tomat, dan kentang, di tengah kecemasan harga pangan yang terus bergerak. | Foto: Shella

#Daya Beli Konsumen Menurun

Tekanan harga pada komoditas impor mulai berdampak pada belanja rumah tangga. Pedagang sayur eceran di sekitar pasar mengaku pembeli semakin selektif dalam menentukan jumlah belanja harian.

Sutrisno (38), pedagang sayur di area luar Pasar Keputran, mengatakan konsumen kini cenderung mengurangi volume pembelian meski harga sayuran lokal relatif stabil.

“Masyarakat sekarang lebih irit belanjanya. Biasanya beli satu kilogram, sekarang seperempat kilogram saja,” katanya.

Menurut Sutrisno, kenaikan harga bawang putih, minyak goreng, dan bahan pangan lain membuat pengeluaran rumah tangga semakin berat. Akibatnya, konsumen mulai menekan pembelian kebutuhan tambahan.

Tekanan ekonomi tersebut juga dirasakan pelaku usaha makanan skala kecil. Endang (41), pemilik warung nasi di kawasan Tegalsari, mengaku kesulitan menjaga keseimbangan biaya operasional.

Ia mengatakan kenaikan harga bahan baku belum bisa diikuti dengan kenaikan harga jual makanan karena khawatir pelanggan beralih ke tempat lain.

“Saya belum berani menaikkan harga makanan. Kalau harga dinaikkan takut pelanggan pergi,” ujarnya.

Untuk mempertahankan usaha, Endang memilih mengurangi ukuran porsi lauk dibanding menaikkan harga menu. Langkah itu dilakukan agar perputaran usaha tetap berjalan di tengah kenaikan biaya belanja dapur.

Kondisi di Pasar Keputran menunjukkan pelemahan Rupiah tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga langsung memengaruhi rantai distribusi pangan dan konsumsi masyarakat perkotaan.

Pasar tradisional menjadi salah satu titik pertama yang merekam perubahan tersebut. Kenaikan harga impor, pengetatan transaksi, dan penurunan daya beli mulai membentuk tekanan berlapis bagi pedagang maupun konsumen di Surabaya.***

*) Shella Mardiana PutriMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *