Program MOZAIK melatih mahasiswa dan warga bantaran Kali Tebu mengolah limbah organik menjadi eco enzyme untuk mengurangi sampah dan memperbaiki kualitas ekosistem sungai.
Sebagai bagian dari program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK), dalam sebuah kesempatan menggelar pelatihan pembuatan eco enzyme di Kantor MOZAIK, Jalan Platuk Donomulyo, Surabaya, Ahad, 10 Mei 2026.
Pelatihan bertujuan untuk mendorong pemulihan sungai melalui pengelolaan sampah dari rumah tangga.
Pelatihan menghadirkan Ketua Eco Enzyme Nusantara, Surabaya, Christiany Tanzil. Dan diikuti peserta berasal dari Universitas Negeri Surabaya, Universitas Brawijaya, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, serta warga yang tinggal di bantaran Kali Tebu.
Christiany mengatakan pembuatan eco enzyme harus dimulai dari perubahan kebiasaan di meja makan. Menurut dia, banyak makanan terbuang karena tidak dihabiskan, padahal limbah makanan terus menambah beban lingkungan.
“Kalau sudah tahu membuatnya, teorinya harus betul-betul dipahami. Kita harus melihat lagi sampah makanan yang dibuang setiap hari,” kata Christiany.

Menurut Christiany, anak-anak perlu dibiasakan bertanggung jawab terhadap makanan yang diambil. “Habiskanlah makanan. Anak-anak juga harus dibiasakan bertanggung jawab menghabiskan makanan mereka,” ujar Christiany.
Christiany mengingatkan sampah plastik memerlukan waktu hingga 400 tahun untuk terurai. Karena itu, masyarakat perlu menekan timbulan sampah sejak dari rumah dengan memilah dan memanfaatkan limbah organik.
Di Kota Surabaya ini, masih kata Christiany, data volume sampah mencapai sekitar 1.800 ton per hari. “Angka ini memperlihatkan bahwa, betapa pentingnya upaya pengurangan sampah dari sumbernya, “ ungkapnya.
#Limbah Kulit Jeruk dan Kopi Dimanfaatkan
Dalam pelatihan, Christiany mencontohkan limbah kulit jeruk dari Pasar Atom yang dapat mencapai sekitar 200 kilogram per hari. Sebagian limbah itu telah diolah menjadi eco enzyme.
“Sekarang sampah itu sudah berkurang sekitar 20 persen,” kata Christiany.
Selain kulit buah, ampas kopi juga dapat digunakan sebagai bahan fermentasi. Bahan yang sudah busuk dan berlendir tidak dianjurkan karena dapat mengganggu proses pembentukan mikroorganisme.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPeserta mempraktikkan formula dasar eco enzyme dengan perbandingan 1:3:10, yaitu satu bagian gula, tapi dalam praktik tersbut menggunakan molasi. Tetes tebu yang biasa dikenal masyarakat. Selanjutnya tiga bagian limbah organik, dan sepuluh bagian air.
Christiany menyarankan penggunaan gula aren karena proses pengolahannya lebih alami dibanding gula putih yang telah melalui proses pemutihan.
Melalui eco enzyme, sebut Christiany, dapat membantu memperbaiki kualitas tanah dan mendukung kehidupan mikroba yang bermanfaat bagi sungai. Tingkat keasaman atau pH tanah yang ideal, menurut Christiany, berada pada kisaran 7 hingga 8.
Menurut Christiany Tanzil, eco enzyme yang digunakan untuk konsumsi harus diencerkan dengan perbandingan 1:100. Untuk membuat “air pelihara”, cukup meneteskan satu tetes eco enzyme ke dalam satu galon air minum, lalu mendiamkannya selama 2 x 24 jam sebelum dikonsumsi. Christiany menjelaskan air itu dipercaya membantu menghadirkan mikroorganisme baik yang mendukung kualitas air minum.

“Sampah organik ini bisa dimanfaatkan untuk berjuta manfaat,” ujar Christiany.
Salah satu peserta, Sherly Selviana Goey, mengaku baru pertama kali belajar membuat eco enzyme. Mahasiswa semester dua Program Studi Teknologi Pangan itu mengatakan pelatihan tersebut membuka pandangannya tentang pengelolaan limbah organik.
“Sebelumnya saya tidak tahu cara membuat eco enzyme. Setelah mengikuti pelatihan ini saya jadi tertarik karena eco enzyme dapat menghadirkan mikroba baik di sungai sehingga ekosistem menjadi lebih sehat,” kata Sherly.
Pelatihan berlangsung dengan praktik langsung memilah sampah organik, mencuci kulit buah hingga bersih, lalu memotongnya menjadi bagian-bagian kecil. Setelah itu, peserta memasukkan molase ke dalam wadah berisi air dan mengocok campuran tersebut hingga larut.
Potongan kulit buah kemudian dimasukkan ke dalam wadah fermentasi sesuai komposisi 1:3:10, yaitu satu bagian molase, tiga bagian limbah organik, dan sepuluh bagian air. Setelah seluruh bahan tercampur, wadah ditutup rapat untuk menjalani proses fermentasi selama beberapa bulan hingga menghasilkan eco enzyme.
Melalui kegiatan ini, Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) berharap mahasiswa dan warga bantaran Kali Tebu dapat menerapkan pengetahuan di rumah masing-masing untuk mengurangi timbulan sampah organik sekaligus mendukung pemulihan kualitas sungai.***