Kualitas air Kali Tebu Surabaya dinyatakan membahayakan setelah pengukuran menunjukkan konduktivitas tinggi. Program Mozaik Ecoton merespons dengan memasang barakuda dan menggelontorkan eco enzyme untuk membantu pemulihan sungai.
Mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya menemukan kualitas air Kali Tebu, Surabaya, berada dalam kondisi membahayakan. Temuan itu diperoleh setelah pengukuran langsung di bantaran sungai pada Ahad, 10 Mei 2026.
Pemeriksaan dilakukan oleh mahasiswa Biologi Unesa, Wahyu Baitullah, menggunakan alat digital water quality meter. Hasil pengukuran menunjukkan nilai pH air sebesar 6,8 dengan suhu 31,8 derajat Celsius. Konduktivitas air tercatat mencapai 1.361 mikroSiemens per sentimeter (µS/cm).
Menurut Wahyu, angka konduktivitas yang tinggi menandakan banyak zat terlarut yang masuk ke badan sungai. Zat tersebut dapat berasal dari limbah rumah tangga maupun aktivitas industri di sekitar aliran sungai.
“Angka konduktivitas yang cukup tinggi menandakan banyak zat terlarut, baik organik maupun anorganik, yang masuk ke badan sungai. Ini bisa berasal dari limbah domestik maupun aktivitas industri di sekitar aliran sungai,” kata Wahyu di lokasi pemantauan.

Wahyu menjelaskan, pH air masih berada pada kisaran mendekati netral. Meski begitu, tingginya kandungan bahan terlarut dapat memengaruhi kehidupan organisme air, menurunkan kadar oksigen terlarut, serta mempercepat penurunan kualitas lingkungan.
Kali Tebu selama ini menerima limpasan limbah rumah tangga dan sampah dari kawasan padat penduduk di Surabaya. Air sungai tampak keruh kehijauan dan dipenuhi sampah plastik yang mengalir di permukaan.
“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, organisme air akan terdampak, kesehatan masyarakat ikut terancam, dan kualitas lingkungan kota akan terus menurun,” ujar Wahyu.
#Mozaik Pasang Barakuda dan Gelontorkan Eco Enzyme
Pada hari yang sama, tim Program Mozaik yang diinisiasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) memasang barakuda, alat penahan sampah plastik, di aliran Kali Tebu. Perangkat ini dipasang untuk menjaring sampah yang terbawa arus sebelum masuk ke saluran yang lebih besar.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

Selain pemasangan barakuda, tim juga menggelontorkan larutan eco enzyme ke air sungai. Kegiatan tersebut dipandu oleh Ketua Eco Enzyme Nusantara Surabaya, Christiany Tanzil.
Christiany mengatakan, penggunaan eco enzyme telah diterapkan di saluran air kawasan Pasar Atom. Berdasarkan pengukuran komunitasnya, kualitas air di lokasi itu menunjukkan perbaikan dengan nilai pH mendekati netral.
“Karena sudah dites, pH-nya jadi 7,” kata Christiany.
Larutan eco enzyme dituangkan dengan perbandingan satu banding seratus. Pada tahap awal, aplikasi dilakukan seminggu sekali. Setelah itu frekuensinya dikurangi menjadi dua minggu sekali, sebulan sekali, hingga dua bulan sekali.
Christiany berharap metode tersebut dapat membantu memperbaiki kualitas air Kali Tebu. Upaya teknis seperti pemasangan barakuda dan penggunaan eco enzyme, menurut dia, perlu diikuti pengurangan sampah serta pengelolaan limbah yang lebih baik.
Kegiatan pemantauan dan aksi di lokasi ini menjadi bagian dari edukasi lingkungan kepada masyarakat. Mahasiswa, komunitas, dan warga diajak melihat langsung kondisi sungai serta terlibat dalam upaya pemulihannya.***