Lewati ke konten

MOZAIK: Sampah Kali Tebu Belum Separuh Terangkat

| 4 menit baca |Mikroplastik | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Memasuki hari ke tiga, relawan mengangkat 1,5 ton sampah dari Kali Tebu Surabaya. Hampir separuhnya berupa popok sekali pakai yang mencemari aliran air.

Tim Monitoring Zona Air Kita (MOZAIK) bentukan Ecoton bersama sejumlah komunitas lingkungan memasuki hari ketiga mengangkat sampah dari Kali Tebu. Sebanyak 1,5 ton sampah terkumpul dalam 143 karung yang berhasil dievakuasi dari permukaan air sungai.

Manager Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahmatullah, mengatakan hasil pengangkatan sampah pada hari ketiga menunjukkan tim masih menghadapi timbunan sampah dalam jumlah besar di aliran sungai.

“Pada hari ketiga ini kami mengangkat sekitar 1,5 ton sampah dari 143 karung. Sampah yang tersisa di atas perairan Kali Tebu masih sangat banyak,” kata Alaika, Rabu, 13 Mei 2026..

Menurut Alaika, volume sampah yang terus muncul menandakan upaya pembersihan belum mencapai separuh dari total timbunan yang ada di sungai.

“Kalau melihat kondisi di lapangan, sampah yang berhasil kami evakuasi ini belum sampai setengah dari yang ada di Kali Tebu. Masih banyak plastik kemasan, styrofoam, kain, pembalut, dan popok sekali pakai yang menumpuk di permukaan air,” ujarnya.

Sampah-sampah terlihat terkonsentrasi di sejumlah titik, terutama di sekitar pecegat sampah atau barakuda yang dipasang membelah sungai menahan material terbawa arus.

Kegiatan pembersihan dimulai sejak Senin, 11 Mei 2026. Pada hari pertama, relawan mengangkat sekitar 1,4 ton sampah. Hari kedua menambah lebih dari satu ton, sedangkan hari ketiga menghasilkan 1,5 ton.

Setelah proses penimbangan dan penirisan, sebagian sampah diangkut ke fasilitas pengelolaan sampah untuk dipilah lebih lanjut.

Relawan berdiri di tengah aliran Kali Tebu, Surabaya, sambil mengumpulkan sampah yang tersangkut di permukaan air dan sekitar perangkap barakuda pada hari ketiga aksi bersih sungai. | Foto: Supriyadi

Relawan yang terlibat berasal dari warga sekitar, mahasiswa, dan pegiat lingkungan. Mereka bekerja dengan sepatu bot dan sarung tangan, masuk ke aliran sungai untuk mengangkat sampah yang tersangkut di permukaan air dan vegetasi di tepian sungai.

#Popok Mendominasi Sampah Sungai

Koordinator Program MOZAIK sekaligus Direktur Eksekutif Ecoton, Daru Setyorini, mengatakan hasil penimbangan menunjukkan 45 persen dari total 2,4 ton sampah yang telah dianalisis terdiri atas popok sekali pakai.

“Sebanyak 45 persen dari 2,4 ton sampah yang berhasil diangkat dari Kali Tebu berjenis popok sekali pakai,” kata Daru.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Tim relawan juga menghitung sedikitnya 218 potong popok yang ditemukan selama proses pembersihan. Temuan itu memperlihatkan bahwa limbah popok menjadi salah satu penyumbang utama pencemaran sungai di kawasan padat penduduk.

Relawan MOZAIK mengangkat sampah yang mengapung di permukaan Kali Tebu, Surabaya, pada hari ketiga aksi pembersihan sungai yang berhasil mengevakuasi 1,5 ton sampah dari 143 karung. | Foto: Supriyadi

“Temuan popok sangat tinggi. Ada 218 potong popok yang ditemukan di lokasi,” ujar Daru.

Menurut Daru, popok sekali pakai mengandung plastik, pulp, dan bahan penyerap sintetis yang sulit terurai. Ketika dibuang ke sungai, material itu dapat terfragmentasi menjadi mikroplastik dan mencemari air, sedimen, serta organisme akuatik.

Selain mengangkat sampah, relawan melakukan audit merek untuk mengetahui produsen yang paling banyak ditemukan pada limbah popok. Hasil sementara menunjukkan merek Sweety produksi PT Softex Indonesia mendominasi dengan 31 persen. Posisi berikutnya ditempati MamyPoko produksi Unicharm Corporation dengan 24 persen.

Daru mengatakan data tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk mendorong tanggung jawab produsen melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR), yaitu kebijakan yang mewajibkan produsen ikut menangani sampah dari produk yang mereka pasarkan.

“Produsen harus ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan produknya, termasuk limbah popok yang ditemukan di sungai,” kata Daru.

Menurut Daru, penanganan sampah sungai memerlukan keterlibatan semua pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah, hingga produsen.

“Tanpa perubahan pola konsumsi dan sistem pengelolaan yang lebih kuat, aliran sungai akan terus menjadi tempat pembuangan limbah domestic, “ ucap Daru.

Kali Tebu merupakan salah satu saluran air yang bermuara ke pesisir Surabaya. Tumpukan sampah yang terus terbawa arus menunjukkan persoalan pengelolaan limbah rumah tangga masih berlangsung di kawasan hulu dan permukiman sekitar.

Temuan 2,4 ton sampah dalam tiga hari memperlihatkan besarnya tekanan sampah plastik dan popok sekali pakai terhadap ekosistem perairan kota.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *