Mahasiswa lintas kampus turun ke Kali Tebu Surabaya, mendesak pengawasan, edukasi warga, dan penegakan hukum untuk menekan pencemaran.
Sebanyak 20 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur dan Yogyakarta menggelar aksi damai di bantaran Kali Tebu, Surabaya. Aksi mereka membawa tuntutan agar aliran sungai yang melintasi sejumlah kawasan permukiman itu, terbebas dari timbunan sampah plastik, popok sekali pakai, serta limbah rumah tangga yang selama ini dinilai memperparah pencemaran sungai.
Peserta aksi berasal dari Jurusan Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Jurusan Biologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Manajemen Sumber Daya Air Universitas Brawijaya Malang, serta perwakilan mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Kerispati Yogyakarta.
Mereka bergerak dari wilayah Platuk Donomulyo, Pogot, Kali Kedinding Tengah, Tambak Wedi dan sejumlah kelurahan yang dilintasi Kali Tebu, di kawasan wilayah Surabaya utara.
Dalam aksinya, para mahasiswa mengenakan pakaian pelindung (hazmat) dan membawa poster bertuliskan “Bebaskan Kali Tebu dari Sampah Plastik”, “Kali Tebu Bukan Tempat Sampah Popok”, hingga “Kali Tebu Moncer”.

Farida F. Tampubolon, mahasiswi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya, Malang mengatakan kampanye yang ia lakukan bersama mahasiswa lainnya ini untuk mengingatkan masyarakat, jika sungai memiliki kelangsungan kehidupan. Pencemaran terhadap sungai sangat akan mengancam kehidupan.
“Aksi ini bagian dari upaya menyadarkan masyarakat agar peduli sungai dan menghentikan kebiasaan membuang sampah ke Kali Tebu. Kondisinya memprihatinkan karena aliran sungai dipenuhi timbunan sampah rumah tangga dan plastik,” kata Farida saat memberikan keterangnya, Rabu, (20/5/2026).
Dalam aksi itu, terlihat warga yang melintas memperhatikan aksi para mahasiswa itu. Terlihat sebagian mengacungkan jempol sebagai bentuk dukungan dam sebagian lainnya mengabadikan lewat ponsel.
#Hasil Observasi Mahasiswa
Sementara itu, Mahasiswa Biologi Unesa, Fea El Faradisa, menyebut pencemaran di Kali Tebu dipicu sejumlah faktor. Dari observasi sosial selama sepekan di enam kelurahan yang dilintasi sungai, tim menemukan penyebab yang mempercepat kerusakan kualitas lingkungan.
Kata Fea, tim telah mencatat empat persoalan utama. Pertama, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga. Kedua, sistem pengolahan sampah di tempat penampungan sementara yang dinilai belum efektif. Ketiga, masih adanya pembuangan limbah cair rumah tangga langsung ke aliran sungai. Keempat, lemahnya pengawasan terhadap aktivitas pembuangan sampah di titik-titik rawan.
“Ada empat problem yang telah kami teliti. Dalam sepekan observasi sosial di enam kelurahan, terlihat pola pembuangan sampah dan limbah domestik masih berlangsung di beberapa titik aliran Kali Tebu,” ujar Fea.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
Menuert Fea, persoaln itu telah berdampak langsung terhadap ekosistem sungai. Timbunan sampah plastik dan popok sekali pakai berpotensi menyumbat aliran air, memunculkan bau, menurunkan kualitas air, serta meningkatkan risiko genangan ketika curah hujan tinggi.
Mahasiswa lain Fahrur Rozi Bustami dari Universitas Kerispati Yogyakarta mengatakan tanggung jawab pemulihan sungai tidak dapat dibebankan pada pemerintah semata, tetapi juga tanggungjawab masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai.
“Kali Tebu adalah sumber kehidupan yang harus dijaga bersama. Sampah plastik dan limbah domestik menunjukkan kesadaran lingkungan di tingkat rumah tangga masih perlu diperkuat,” kata Rozi.
#Usulan Pengawasan dan Penegakan
Dalam aksinya, para mahasiswa juga menyampaikan empat usulan penanganan. Di antaranya, memperkuat kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga swadaya masyarakat untuk edukasi lingkungan, memasang sistem CCTV real time di titik pembuangan rawan, membangun pagar pengaman di sejumlah sisi sungai, dan memperbanyak aksi bersih sungai dan kampanye terbuka di kawasan permukiman.

“Pencemaran sungai tidak cukup ditangani lewat pembersihan sesaat. Perlu edukasi yang berjalan terus, pengawasan lapangan yang konsisten, serta keterlibatan warga agar perubahan perilaku bisa terjadi,” ujar Davin Jauhar Bernarddien, mahasiswa Prodi Ilmu kelautan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Usulan pemasangan CCTV dan penguatan penegakan hukum menjadi sorotan utama. Mahasiswa menilai pengawasan visual dapat membantu menekan praktik pembuangan sampah ilegal, terutama di area yang selama ini sulit dipantau petugas.
Menurut mereka, penanganan pencemaran sungai memerlukan pendekatan sosial dan pengawasan lapangan yang konsisten. Kampanye jalanan yang dilakukan di Kali Tebu menjadi bentuk tekanan moral agar masyarakat melihat pencemaran sebagai persoalan bersama, bukan urusan teknis kebersihan semata.
“Kondisi Kali Tebu menunjukkan krisis sampah perkotaan belum selesai. Jika pembuangan sampah terus dibiarkan, sungai akan kehilangan fungsi ekologisnya dan masyarakat ikut menanggung risikonya,” tambah Davin.
Aksi damai itu ditutup dengan seruan, agar warga di sepanjang bantaran Kali Tebu menghentikan pembuangan sampah rumah tangga ke sungai dan terlibat dalam pengawasan lingkungan sekitar. Bagi para mahasiswa, kondisi Kali Tebu menjadi penanda buruknya lingkungan di kawasan Kota Surabaya. Hal ini tentu masih dibutuhkan intervensi serius dari banyak pihak.