Lewati ke konten

MOZAIK: Siswa SMP 58 Surabaya Temukan Mikroplastik di Kali Tebu

| 5 menit baca |Ekologis | 18 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Kali Tebu dikepung mikroplastik pada udara, air kran, dan daun. Siswa SMPN 58 diajak mengurangi plastik sekali pakai sejak dini.

Yayasan ECOTON bersama Bumbi menggelar edukasi bahaya mikroplastik dan gaya hidup guna ulang di SMPN 58 Surabaya. Kegiatan diikuti 50 siswa kader lingkungan sekolah di kawasan Platuk, Kecamatan Kenjeran, Surabaya.

Program yang menjadi bagian dari Mission on Zero Plastic Leakage (MOZAIK) itu, merupakan gerakan untuk mendorong kebocoran sampah plastik dari sungai ke tempat lebih luas yaitu laut.

Kegiatan ini juga diharapkan sebagai langkah edukasi terhadap siswa mengenal lingkungan tanpa sampah, sekaligus sebagai sosialisasi perubahan perilaku masyarakat terhadap sungai.

Guru SMPN 58 Surabaya, Ika Karyanti, mengatakan sekolah sangat mendukung dengan kegiatan edukasi lingkungan ini. Aapali melibat anak didik tetmpat dia mengajar. Menurut dia, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai perlu dibiasakan sejak usia sekolah.

“Kami sangat senang dengan kegiatan yang diinisiasi ECOTON dan Bumbi. Anak-anak perlu lebih sadar terhadap dampak plastik sekali pakai sehingga terbentuk kebiasaan mengurangi plastik di sekolah maupun di rumah,” kata Ika, Selasa, (19/5/2026).

Sekolah, kata dia, selama ini hanya rutin melakukan kegiatan bersih-bersih di lingkungan di area sekolah saja. Tapi tidak belum sampai mengarah ke edukasi dan ancaman plastik sekali pakai terhadap lingkungan. Program ini juga mendukung rencana sekolah menuju Adiwiyata Nasional.

“Kami berharap kegiatan ini memberi dampak untuk Kali Tebu yang lestari dan bebas sampah plastik,” ujarnya.

Guru, siswa, dan pemateri berfoto bersama usai kegiatan edukasi bahaya mikroplastik dan kampanye gaya hidup guna ulang di SMPN 58 Surabaya. | Foto: Mozaik

#Mikroplastik Ditemukan di Udara dan Air

Sementara itu Manager Data dan Informasi MOZAIK bentukan ECOTON, Alaika Rahmatullah, mengatakan kondisi Kali Tebu yang masih menghadapi pencemaran serius ini, tentu sangat penting melibatkan anak sekolah. Agar mengenal betapa pentingnya sungai bagi kehidupan.

Akibat sampah plastik, kata Alaika, popok sekali pakai, dan pembakaran sampah di sekitar sungai. Kali Tebu tercemar berat.

Menurut dia, pencemaran itu berpotensi menghasilkan mikroplastik yang masuk ke tubuh manusia.

“Setiap hari tim kami berpatroli sekaligus mengevakuasi sampah di badan sungai. Rata-rata satu ton sampah sungai kami temukan setiap hari. Yang paling bermasalah plastik, popok, dan styrofoam,” kata Alaika.

Menurut dia, partikel mikroplastik dapat masuk melalui air, udara, dan rantai makanan. Paparan mikroplastik disebut berkaitan dengan gangguan hormon, peradangan, gangguan reproduksi, hingga peningkatan risiko kanker.

Alaika mengajak sekolah terlibat langsung, menjaga sungai melalui program adopsi sungai dan pengurangan plastik sekali pakai di lingkungan pendidikan.

“Kami ingin membangun kesadaran anak-anak sejak dini supaya ikut menjaga sungai dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” ujarnya.

Pengambilan sampel air untuk identifikasi kandungan mikroplastik di kawasan Kali Tebu Surabaya dalam kegiatan edukasi lingkungan program MOZAIK. | Foto: Mozaik

Dalam kegiatan ini, para siswa diajak mengikuti praktikum identifikasi mikroplastik dari berbagai sampel lingkungan, meliputi air sungai, air kran, udara, serta daun di sekitar sekolah dan Kali Tebu.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pengambilan sampel air dilakukan masing-masing 10 liter pada tiap titik pengamatan. Sedangkan pengambilan sampel udara dilakukan selama dua jam menggunakan metode passive sampling.

Hasil pengamatan menunjukkan mikroplastik ditemukan hampir di seluruh sampel yang diuji. Pada sampel air kran sebanyak 10 liter ditemukan dua partikel filamen dan dua partikel fiber. Sementara pada daun mangga di lingkungan sekolah ditemukan delapan partikel fiber.

Tim juga menemukan enam partikel fiber dari sampel udara di lingkungan sekolah. Pada udara sekitar Kali Tebu ditemukan delapan partikel mikroplastik yang terdiri atas satu fragmen, enam fiber, dan satu granule.

Temuan tertinggi berada pada sampel air Kali Tebu. Dari 10 liter air sungai ditemukan 19 partikel mikroplastik yang terdiri atas 12 fiber, dua filamen, dan lima fragmen.

Temuan tersebut menunjukkan mikroplastik telah menyebar di berbagai media lingkungan, termasuk udara yang dihirup masyarakat sehari-hari.

#Dorong Penggunaan Produk Guna Ulang

Melihat hasil termuan yang dilakukan para siswa, perwakilan Bumbi, Kezia berpendapat, penggunaan produk guna ulang dapat menjadi langkah awal mengurangi timbulan sampah plastik di sungai.

Menurut dia, sampah popok sekali pakai masih banyak ditemukan di aliran sungai Surabaya.

“Kami pernah menemukan sampah popok berserakan di Sungai Jagir Surabaya, sementara air sungainya menjadi bahan baku PDAM. Karena itu penggunaan solusi alternatif reusable penting dilakukan agar masyarakat ikut menjaga sungai,” kata Kezia.

Siswa menunjukkan temuan partikel mikroplastik melalui mikroskop portabel saat praktikum identifikasi sampel lingkungan di kawasan Kali Tebu Surabaya. | Foto: Mozaik

Dalam kegiatan edukasi ini, peserta juga mendapat pembagian reusable menstrual pads atau pembalut guna ulang sebagai bagian dari kampanye pengurangan produk sekali pakai.

Dalam hal ini ECOTON dan Bumbi  berpendapat, perubahan gaya hidup masyarakat menjadi langkah penting untuk menekan pencemaran mikroplastik. Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penguatan budaya guna ulang, dan kepedulian terhadap sungai dinilai perlu dilakukan secara bersama-sama.

Kali Tebu yang berada di kawasan padat permukiman Surabaya utara selama ini kerap menghadapi persoalan serius dari timbulan sampah rumah tangga. Sampah plastik yang menumpuk di aliran sungai berpotensi terurai menjadi partikel kecil dan mencemari lingkungan sekitar.

“Kalau sampah plastik terus dibuang ke sungai, lama-lama akan hancur menjadi partikel kecil yang sulit terlihat. Mikroplastik itu kemudian bisa menyebar ke udara, air, bahkan masuk ke tubuh manusia,” ujar Kezia.

Paparan mikroplastik di udara juga memperlihatkan pencemaran tidak lagi terbatas pada badan air. Partikel plastik berukuran kecil dapat berpindah melalui udara dan menempel pada tumbuhan maupun permukaan lingkungan lain.

Melalui pelibatan siswa sekolah, Alaika berharap generasi muda memiliki kesadaran lebih kuat terhadap ancaman pencemaran plastik. “Edukasi lingkungan sejak usia sekolah itu sangat penting untuk membentuk karakter siswa dalam perubahan perilaku. Ini akan menyadarkan siswa tentang penggunaan plastik sehari-hari, “ pungkas Alaika.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *