Lewati ke konten

MOZAIK: Plastik Sekali Pakai Menyesakkan Kali Tebu

| 4 menit baca |Mikroplastik | 10 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Produksi plastik terus tumbuh, ketika sungai seperti Kali Tebu di Surabaya menanggung limpahan popok, kemasan sekali pakai, dan ancaman mikroplastik.

Di Kali Tebu, Surabaya Utara, popok sekali pakai, kantong plastik, serta kemasan rumah tangga kerap tersangkut di aliran air yang melintasi kawasan padat permukiman. Tumpukan itu memperlihatkan persoalan kota yang kian serius: sampah plastik tidak berhenti di tempat pembuangan, tapi bergerak mengikuti arus menuju sungai, laut, lalu masuk ke rantai kehidupan manusia.

Sementara itu, produksi plastik sekali pakai terus meningkat, meski dalam beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan harga. Material ini tetap dipakai luas karena ringan, praktis, dan menopang rantai distribusi industri pangan, minuman, hingga kebutuhan rumah tangga.

Pada saat yang sama, kapasitas pengelolaan sampah tumbuh jauh lebih lambat dibanding laju produksi dan konsumsi plastik. Ketimpangan itu memperbesar limpasan sampah ke lingkungan, mulai dari tempat pembuangan akhir, sungai, hingga kawasan pesisir.

Sebagaimana laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mencatat produksi plastik global meningkat lebih dari dua kali lipat sejak awal abad ini. Di saat bersamaan, tingkat daur ulang masih rendah dibanding volume limbah yang dihasilkan. Kondisi ini memperlihatkan tekanan besar terhadap ekosistem, terutama wilayah sungai perkotaan yang menjadi jalur awal perpindahan sampah ke laut.

Margaret Spring, pakar konservasi laut dari Monterey Bay Aquarium, menilai persoalan plastik tidak cukup ditangani lewat pendekatan hilir. Menurut dia, pertumbuhan produksi plastik yang terus tinggi akan terus membebani sistem pengelolaan limbah.

“Persoalan polusi plastik tidak akan selesai hanya lewat daur ulang,” kata Spring dalam sebuah kesempatan diskusi kebijakan plastik global dalam montereybayaquarium.

Di kota seperti Surabaya, gambaran itu terlihat jelas di Kali Tebu. Sampah popok, plastik rumah tangga, dan kemasan sekali pakai yang menumpuk di aliran sungai menunjukkan bahwa  persoalan plastik bukan hanya persoalan kebiasaan membuang sampah, tetapi juga berkaitan dengan besarnya arus produksi dan konsumsi plastik di kalangan masyarakat.

Sampah menumpuk di Kali Tebu menunjukkan persoalan lingkungan di Kota Surabaya menghadapi tantangan serius. | Foto Amiruddin Muttaqin

#Dari Hulu Industri ke Sungai Kota

Persoalan plastik terlihat jelas di wilayah seperti Kali Tebu. Sungai ini beberapa kali dipenuhi popok bekas, kemasan multilayer, botol plastik, dan limbah domestik lain yang tertahan di permukaan air maupun bantaran. Saat hujan datang, sebagian terbawa ke hilir.

Data  selama pemasangan trash barrier yang dilakukan tim MOZAIK bentukan Ecoton, menunjukan angka cukup fantastis dalam pekan terakhir

Menurut Alaika Rahmatullah, Manager Data dan Informasi MOZAIK dalam pekan ini sudah mengevakuasi sampah dari Kali Tebu sebanyak 6,5 ton. “Belum lagi angka yang belum kita update, “ ucap Alaika saat dihubungi, Jumat, 22 Mei 2026.

Alaika juga menjelaskan, persoalan sampah sungai perkotaan, seperti Kali Tebu ini menunjukkan dominasi limbah rumah tangga sekali pakai begitu masif dan akut.

“Kalau kita melihat sampah-sampah di Kali Tebu ini, bisa dikatakan akibat dari warga yang gemar membuang sampah ke sungai semata. Tapi ada persoalan yang lebih serius yaitu kebijakan. Lemahnya sumber pengurangan dan minimnya pemilihan di rumah tangga, “ jelas Alaika.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Menurutnya, sampah popok plastik terutama, menjadi salah satu ancaman serius karena materialnya sulit terurai, bercampur dengan limbah organik, dan kerap terseret arus saat debit meningkat.

“Saat sampah menumpuk di sungai, yang terlihat hanya permukaannya. Sebagian lain pecah menjadi partikel kecil dan bergerak ke sistem air yang lebih luas,” ujar Alaika.

Relawan akan mengangkut sampah hasil evakuasi dari Kali Tebu untuk dibawa ke TPS untuk dipilah. | Foto: Supriyadi

#Mikroplastik dan Risiko yang Mengendap

Ketika plastik terpapar panas matahari, abrasi, dan tekanan lingkungan, material itu pecah menjadi fragmen kecil yang disebut mikroplastik. Partikel ini dapat masuk ke sedimen, air, biota, bahkan rantai makanan manusia.

UN Environment Programme (UNEP) mencatat pencemaran plastik telah menjangkau hampir seluruh sistem ekologis. Mikroplastik ditemukan di ikan konsumsi, garam, air minum, tanah, hingga udara bahkan ke tubuh manusia.

“Ketika plastik terpapar panas matahari, abrasi, dan tekanan lingkungan, material itu dapat terfragmentasi menjadi mikroplastik yang masuk ke sedimen, air, dan biota, “ tulis UNEP.

Data yang dicatat UNEP setiap tahun 19–23 juta ton sampah plastik bocor ke ekosistem akuatik.

Temuan itu menggeser pemahaman soal sampah plastik. Persoalannya tidak hanya tumpukan yang tampak di sungai atau TPA, tetapi juga partikel halus yang menyebar dalam siklus air.

Tracey Woodruff, ahli kesehatan lingkungan dari University of California San Francisco, menilai paparan bahan kimia dari plastik dan partikel kecilnya perlu mendapat perhatian serius. Sejumlah studi mengaitkan mikroplastik dengan inflamasi, gangguan hormon, serta potensi dampak terhadap sistem reproduksi, meski riset jangka panjang masih berkembang.

Di Surabaya, sungai seperti Kali Tebu menjadi potret kecil dari tekanan yang lebih luas. Saat plastik sekali pakai terus diproduksi dan dikonsumsi besar-besaran, beban penanganan jatuh ke lingkungan dan masyarakat sekitar.

Alaika Rahmatullah menilai solusi tidak bisa berhenti pada kerja pembersihan sungai. “Kalau produksi terus tinggi, sungai akan tetap menerima aliran sampah. Pengurangan plastik sekali pakai, pemilahan rumah tangga, dan tanggung jawab produsen harus berjalan bersamaan,” kata Alaika.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *