Ruang publik di Jakarta mulai mengadopsi sistem refill air dan wadah guna ulang untuk menekan residu plastik.
Festival Raksha Loka di M Bloc Space, Jakarta Selatan, mencatat pengurangan timbulan sampah selama penyelenggaraan pada 22–23 Mei 2026, melalui penerapan sistem reuse-refill, pemilahan sampah, dan edukasi kepada tenant serta pengunjung. Upaya itu menunjukkan penyelenggaraan acara publik dapat menekan beban sampah sejak dari sumber.
Festival sekaligus menjadi ruang kolaborasi berbagai komunitas lingkungan, akademisi, pemerintah, dan generasi muda itu, mengangkat tema Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan di Masa Depan. Agenda festival mencakup dialog, pameran hijau, bazar, pertunjukan seni, hingga diskusi tentang pemulihan ekosistem dan ekonomi berbasis lingkungan.

ECOTON dalam hal ini menjadi salah satu kolaborator yang mengawal strategi pengurangan sampah melalui gerakan reuse-refill. Koordinator Program Zero Waste, Tonis Afrianto, mengatakan skema pengelolaan sampah sudah disiapkan, sebelum festival berlangsung, dan termasuk pola distribusi wadah guna ulang dan pengendalian sampah di jalur pengunjung.
“Kami bekerja sama dengan sistem refill bersama startup Izifill, menyediakan gelas dan piring guna ulang, lalu menempatkan tempat sampah terpilah di titik strategis agar sampah tidak bercampur,” kata Tonis dalam rilis yang dikutip TitikTerang, Ahad, 24 Mei 2026.
Selain menyiapkan infrastruktur, lanjut Tonis, panitia juga menyusun panduan zero waste bagi tenant dan exhibitor. Terdapat dokumen yang berisi langkah teknis untuk mengurangi plastik sekali pakai, mengelola sampah dari dapur, hingga memastikan proses pemilahan berlangsung lebih disiplin.
Selanjutnya Tonis menjelaskan, edukasi juga dilakukan oleh relawan yang mendampingi tenant dan pengunjung selama dua hari festival. Pendekatan itu dipakai agar perubahan perilaku tidak berhenti pada penyediaan fasilitas.
“Panduan ini penting, gunanya untuk membantu tenant memahami bagaimana menjual produk itu tanpa bergantung pada kemasan sekali pakai. Ini relawan juga turun langsung memberi edukasi selama festival berlangsung,” ujar Tonis.
#Data Pengurangan Sampah dan Edukasi Publik
Hasil pengelolaan sampah menunjukkan 77 persen timbulan sampah berhasil dicegah masuk ke tempat pembuangan akhir. Dari jumlah itulah, sampah organik untuk kompos tercatat 11 persen, material daur ulang bersih 66 persen, dan residu 23 persen.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
Pengurangan sampah juga terlihat dari layanan isi ulang air minum. Sebanyak 150 pengunjung memanfaatkan fasilitas refill air selama festival. Dalam dua hari, konsumsi air refill mencapai 304 liter. Angka itu setara dengan pengurangan sekitar 507 botol plastik sekali pakai ukuran 600 mililiter.
Peneliti ECOTON, Sofi Azilani Aini, menilai pendekatan pengurangan sampah di festival publik ini sangat perlu diarahkan pada pencegahan dari hulu, bukan hanya fokus pada pengangkutan sampah setelah acara selesai.
“Sering kita ketahui, festival selalu menghasilkan sampah kemasan dalam waktu singkat. Model reuse-refill dan pemilahan dari sumber dapat menekan volume residu sekaligus mengubah perilaku pengunjung dan penjual,” kata Sofi.

Menurut Sofi, tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah acara massal itu, biasanya terletak pada konsistensi pelaksanaan dan pengawasan. “Tak sedikit kegiatan lingkungan gagal menekan sampah, karena fasilitas tidak diiringi edukasi dan kontrol lapangan, “ ucap Sofi.
Sebagaimana terjadi, di Raksha Loka pengelolaan diperkuat lewat kombinasi panduan tenant, relawan, serta titik pemilahan yang mudah dijangkau pengunjung. Pola itu dinilai dapat menjadi model bagi festival lain di kota besar yang menghadapi persoalan sampah plastik sekali pakai.
“Masalah terbesar ya bukan ketiadaan fasilitas, sebenarnya. Melainkan konsistensi. Seperti tempat sampah terpilah, panduan tenant, dan edukasi harus berjalan bersamaan. Tanpa pengawasan bisa juga upaya pengurangan sampah hanya ucapan atau kampanye saja,” ujar Sofi.***

Artikel ini dikirim oleh Tonis Afrianto, Kepala Program Zero Waste ECOTON. Tulisan ini disusun sebagai bagian dari upaya mendorong pengurangan sampah melalui pendekatan brand audit dan sistem isi ulang (refill). Artikel telah melalui proses penyuntingan redaksi.