Ngintir Kali Surabaya menemukan sampah plastik, bantaran padat bangunan, dan penurunan spesies ikan dari hulu ke hilir sungai.
Dua orang pengintir hanyut perlahan mengikuti arus Kali Surabaya. Perjalanan dimulai dari Pintu Air Mlirip, Mojokerto. Tiga jam kemudian, mereka tiba di kawasan Wringinanom, Gresik.
Dari atas air, kondisi sungai tampak berbeda dibanding dari jalan raya. Plastik sekali pakai banyak ditemui, menyangkut dan melilit pohon-pohon. Di beberapa titik bantaran, sampah rumah tangga menumpuk.
Kegiatan Ngintir Kali Surabaya dilakukan oleh beberapa komunitas, seperti AKAMSI, River Warrior, Posko Ijo, Sungai Nusantara, dan TitikTerang. Untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni mendatang.
Selain menyusuri aliran sungai, tim juga mendokumentasikan kondisi bantaran, timbulan sampah, dan sumber pencemaran.
Supriyadi, jurnalis media online ini yang ikut ngintir, mengaku baru pertama kali turun langsung ke badan Kali Surabaya.
“Waktu awal jebur di Mlirip ada rasa ragu. Pas sudah ngintir, saya menyatu dengan sungai. Dan bisa melihat persoalan Kali Surabaya satu-satu. Apa yang terjadi pada sungai ini,” kata Supriyadi, Sabtu, (30/5/2026).

Perjalanan etape pertama dimulai pukul 08.15 WIB dan berakhir pukul 11.27 WIB. Jika mengikuti alur sungai, dihitung secara virtual, jarak Mlirip sampai Wringinanom mencapai sekitar 42 kilometer. Lewat jalan raya, jaraknya hanya 13 kilometer.
Selama hampir tiga jam di badan sungai, tim mencatat banyak kerusakan ekologis di sepanjang aliran Kali Surabaya. Ada 180 pohon terlilit sampah plastik. Delapan puluh titik timbunan sampah liar ditemukan di bantaran. Catatan lain menunjukkan 120 bangunan berdiri di kawasan sempadan sungai.
Di sejumlah lokasi, plastik kresek sebagai bungkus sampah banyak tersangkut di ranting pohon. Sebagian lain terbawa arus, lalu menumpuk di semak tepian. Bantaran sungai juga makin padat permukiman dan gudang. Di beberapa tempat juga digunakan warga sebagai buang air besar sembarangan (BABS).
“Banyak tempat angkrukan yang menjorok ke badan sungai,” ucap Supriyadi.
Sementara itu Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, mengatakan kerusakan bantaran lebih mudah terbaca saat melihat langsung dari aliran sungai.
“Kalau lihat dari jalan raya, mungkin kita melihat sungai kadang tampak biasa. Tapi begitu kita masuk aliran air, plastik nyangkut di pohon kelihatan terus. Banyak sampah datang dari permukiman dan aktivitas bantaran,” kata Prigi.
Hal ini, lanjut Prigi, menunjukkan sungai terus menerima tekanan dari aktivitas manusia di sepanjang daerah aliran sungai.
Menurut dia, timbunan plastik yang tersangkut di vegetasi bantaran menjadi penanda buruknya pengelolaan sampah dan lemahnya pengawasan pencemaran.
“Kalau plastik sudah menggantung di pohon-pohon bantaran, artinya sungai sedang membawa luka dari hulu sampai hilir. Sungai tidak bisa terus dijadikan tempat buang sampah,” ujar Prigi.
Mikroplastik ikut jadi perhatian utama komunitas sungai di Jawa Timur ini. Potongan plastik kecil diduga berasal dari limbah industri daur ulang, sampah rumah tangga, sampai aktivitas padat di daerah aliran sungai.
Kondisi bantaran Kali Surabaya juga terus berubah. Banyak kawasan bantaran berganti jadi rumah tinggal, gudang, dan area industri. Ruang alami sungai makin sempit dari waktu ke waktu.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Kegiatan ngintir menjadi bagian awal pemantauan kondisi Kali Surabaya. Pengamatan dilanjutkan Ahad, 31 Mei 2026, sambil mendokumentasikan sumber pencemaran lain di kawasan hilir DAS Brantas.

Situasi Kali Surabaya memberi gambaran, jika kondisi hilir DAS Brantas menghadapi persoalan pencemaran cukup serius.
Air Kali Surabaya dipakai perusahaan daerah air minum di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, sampai Jombang. Di sisi lain, kualitas air terus menurun.
Penelitian terbaru dalam jurnal Biodiversitas Volume 27 Nomor 3 Maret 2026 mendokumentasikan 35 spesies ikan air tawar di Sungai Surabaya. Riset dilakukan Abdul R. Faqih bersama tim peneliti dari Indonesia, Malaysia, dan Inggris.
Pengambilan sampel berlangsung sejak Desember 2025 sampai Januari 2026 di tiga lokasi utama, yakni Pintu Air Mlirip Mojokerto, Kecamatan Krian Sidoarjo, dan Pintu Air Jagir Surabaya.
#Dua Belas Jenis Ikan Menghilang
Sebagaimana diketahui, Prigi mengatakan dari hasil penelitian telah terjadi penurunan spesies ikan. Mulai dari hulu menuju hilir. Stasiun Mlirip mencatat 34 spesies ikan. Di Jagir, jumlahnya tinggal 17 spesies.
“Semakin ke hilir, tekanan pencemaran makin terlihat pada jumlah spesies ikan. Itu tanda habitat sungai mengalami penurunan kualitas,” kata Prigi.
Cyprinidae masih mendominasi hasil tangkapan peneliti. Jenis seperti Rasbora argyrotaenia, Barbodes binotatus, Osteochilus vittatus, Systomus rubripinnis, Barbonymus gonionotus, sampai Hampala macrolepidota ditemukan di beberapa titik pengamatan.
Peneliti juga masih menemukan ikan endemik Jawa hidup di Sungai Surabaya. Ada rengkik atau baung (Hemibagrus nemurus), lele jawa (Clarias batrachus), julung-julung (Dermogenys pusilla), dan wader cakul (Barbodes binotatus).
“Temuan ikan endemik menunjukkan Kali Surabaya belum kehilangan seluruh daya dukung ekologis,” kata Direktur Posko Ijo, Rulli Mustika Adya, saat menyertai kegiatan ngintir Kali Surabaya ini.
Di tengah temuan itu, tekanan ekologis terus meningkat. Tim peneliti mencatat ancaman datang dari modifikasi habitat, pencemaran, perubahan iklim, penangkapan ikan berlebih, masuknya spesies asing, sampai pembangunan pintu air tanpa jalur migrasi.
Rulli menambahkan, dalam penelitian juga ditemukan 12 spesies ikan. Ikan itu pernah dicatat naturalis Pieter Bleeker sejak abad ke-19 dan sudah tak ditemukan lagi dalam survei terbaru.
Daftar itu mencakup Leptobarbus hoevenii, Crossocheilus cobitis, Crossocheilus oblongus, Barbichthys laevis, Cyclocheilichthys armatus, sampai Kalimantania lawak.
Siang itu Kali Surabaya tetap mengalir ke hilir. Plastik masih menggantung di pohon bantaran. Sebagian ikan lokal masih bertahan hidup di tengah tekanan pencemaran yang terus datang tanpa jeda.
“Ikan asli menghadapi kerusakan ekologis semakin kompleks,” pungkas Rulli.***