Lewati ke konten

Kali Surabaya, Sungai Tampak Biasa Ternyata Menyimpan Tekanan

| 3 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 12 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Kali Surabaya memasok air baku Surabaya, tetapi kualitasnya menghadapi tekanan limbah industri dan domestik setiap hari.
  • Praktik Kerja Lapang menemukan perbedaan kualitas air pada sembilan titik pengamatan di kawasan industri sungai.
  • Amonia mencapai 34,1 ppm pada salah satu titik efluen, jauh melebihi beberapa lokasi hulu pengamatan.
  • Sampah plastik, styrofoam, dan aroma menyerupai bahan kimia masih ditemukan sepanjang lokasi pengambilan sampel lapangan.
  • Pengamatan membuktikan kondisi sungai harus dinilai melalui data, bukan hanya penglihatan ataupun bau semata sehari.

 

Penulis: Khonsaa Amalya Kartika merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Brawijaya. Artikel disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) selama periode 6 Juli – 14 Agustus 2026.

 

Melihat Kali Surabaya mengalir dari Mojokerto hingga DAM Jagir terasa biasa. Selama bertahun-tahun, saya hanya melihat air mengalir tanpa banyak bertanya.

Sepanjang sekitar 42 kilometer aliran sungai itu, tidak terlihat persoalan mencolok. Dari permukaan, sungai tampak menjalankan fungsinya seperti aliran air pada umumnya.

Pandangan itu beralih, ketika saya mengikuti Studi Independen di Ecoton. Saya mulai memahami jika sungai menghadapi tekanan pencemaran terus berlangsung.

Bukan hanya limbah industri yang memasuki badan sungai setiap hari. Limbah domestik dari aktivitas masyarakat juga memberikan beban tidak kecil.

Padahal, Kali Surabaya merupakan sumber air baku PDAM Surya Sembada Surabaya. Airnya dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus mengairi lahan pertanian.

“Selama ini saya hanya melihat alirannya, tetapi tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam sungai,” menjadi kesan yang terus teringat setelah mengikuti kegiatan ini.

#Praktik Lapang Buka Gambaran Nyata

Sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya, kami melaksanakan Praktik Kerja Lapangan. Pengambilan sampel air di tiga lokasi Kawasan industri pada Jumat, 10 Juli 2026.

Lokasi pengamatan berada di sekitar PT Adiprima Suraprinta, PT Dayasa Aria Prima, dan PT Daesang Miwon. Setiap lokasi memiliki tiga titik, yaitu upstream, efluen, dan downstream.

Pengambilan kami lakukan pukul 08.50 WIB dan kembali pukul 14.30 WIB. Tujuannya melihat kemungkinan perubahan kualitas air akibat aktivitas di sekitar sungai.

Pengalaman langsung ini, berbeda dibandingkan pembelajaran di ruang kuliah. Air tampak kecokelatan dengan kondisi cukup keruh pada beberapa lokasi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sampah plastik, botol bekas, styrofoam, ranting, dan daun masih terbawa arus. Di beberapa titik juga tercium aroma tak sedap menyerupai bau bahan kimia.

Ikan sapu-sapu mudah ditemukan di tepian maupun dasar sungai. Kehadirannya menunjukkan sungai masih menjadi habitat berbagai organisme perairan.

#Data Jelaskan Kondisi Sungai

Setiap titik pengambilan sampel memperlihatkan karakter arus berbeda. Arus tenang menahan sampah, sedangkan arus deras membawanya menuju hilir.

Perbedaan itu membuat pengambilan sampel harus dilakukan secara cermat. Prosedurnya meliputi penggunaan alat bersih, pelabelan, dan penyimpanan sesuai standar laboratorium.

Pengamatan langsung hanya memberikan gambaran awal kondisi sungai secara umum. Penilaian kualitas air tetap harus didukung hasil analisis laboratorium.

Hasil pengukuran di lokasi amonia mencapai 34,1 ppm pada salah satu efluen. Beberapa titik upstream masih menunjukkan nilai di bawah 2 ppm.

Nilai Total Dissolved Solids (TDS) berkisar antara 256 hingga 1.153 ppm. Perbedaan menunjukkan variasi jumlah zat terlarut pada setiap lokasi pengamatan.

Seluruh hasil masih dianalisis menggunakan metode Indeks Pencemaran secara objektif. Analisis itu diperlukan untuk menentukan status mutu air Kali Surabaya.

Kegiatan mengingatkan jika sungai tak hanya aliran menuju laut. Sungai menjadi penopang kehidupan sekaligus menerima dampak berbagai aktivitas manusia.

Kami belajar setiap data, kemudian menyimpan cerita mengenai kondisi lingkungan sebenarnya. Bagi saya data angka-angka penelitian. Tetapi sudah merupakan dasar memperbaiki pengelolaan sungai.

Pada akhirnya, Kali Surabaya akan tetap mengalir menuju hilir setiap hari. Pertanyaannya, apakah yang terus kita titipkan bersama di dalam aliran air tersebut untuk generasi mendatang? ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *