Lewati ke konten

Taruhan Nyawa Pedagang Sayur di Tengah Pluit Kereta Rel Dupak Surabaya

| 6 menit baca |Sorotan | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Fio Atmajaya

Warga Dupak Magersari dagang di rel aktif kereta api. Tiap pluit lokomotif jadi alarm maut demi dapur tetap menyala.

Lengking pluit lokomotif memecah pagi di Dupak Magersari, Bubutan, Surabaya. Suaranya kasar, menusuk gang-gang sempit dekat bantaran rel. Orang-orang yang sejak subuh duduk di atas kayu lapuk langsung sigap. Karung bawang diseret. Ember cabai diangkat. Terpal hijau yang tadi dipakai alas sayur buru-buru ditarik menjauh dari rel.

Getaran besi terasa dari telapak kaki.

Beberapa detik lalu tempat itu masih penuh suara tawar-menawar. Seorang ibu menawar tomat tiga ribu rupiah. Anak kecil berlari sambil membawa kresek. Penjual daun bawang teriak menawarkan dagangan. Setelah pluit terdengar, semuanya berubah cepat. Rel kembali jadi jalur maut.

Kereta melintas pelan. Badannya panjang seperti dinding besi bergerak. Angin keras menghantam muka pedagang. Debu beterbangan bercampur bau solar dan aroma sayur basah. Jarak tubuh warga dengan gerbong cuma selempar tangan.

Pemandangan seperti itu berulang berkali-kali tiap hari.

Di kota yang sibuk membangun taman, apartemen, jalan layang, juga pusat belanja mewah, pasar kecil pinggir rel Dupak seperti fragmen yang tertinggal. Tidak ada papan nama resmi. Tidak ada los permanen. Lapak cuma meja kayu, kardus bekas, kadang tikar lusuh yang dibentang tepat di samping rel aktif.

Akan sulit menemukan rasa aman di tempat ini. Tapi bagi banyak warga, rasa aman memang sudah lama kalah penting dibanding makan besok pagi.

Sumiati, 53 tahun, duduk sambil memilah kangkung yang mulai layu kena panas. Tangannya cepat. Sesekali matanya melirik rel.

“Kalau kereta lewat ya langsung angkat barang. Harus cepat. Pernah cabai saya jatuh kena angin kereta, habis semua,” kata dia.

Wajah Sumiati tampak letih. Garis-garis tua di dahinya seperti catatan panjang hidup pinggir rel. Sudah puluhan tahun dia berdagang di situ. Awalnya takut. Tiap kereta lewat jantung terasa copot. Lama-lama rasa takut berubah jadi kebiasaan.

Warna sayur melawan kusam batu rel Dupak. Pasar pinggir rel hidup di tengah ancaman kereta setiap harinya. | Foto: Shella

Dia hafal suara klakson. Hafal jam kereta penumpang lewat. Hafal kereta barang yang sering muncul mendadak. Tubuhnya bergerak otomatis begitu rel mulai bergetar.

“Kalau telat sedikit saja ya bahaya. Bisa kesenggol. Bisa barang habis,” ucapnya.

Rel bagi Sumiati bukan lagi infrastruktur negara yang dingin dan formal. Rel sudah jadi ruang hidup. Tempat uang berputar. Tempat pelanggan datang tiap pagi membeli bawang, cabai, bayam, atau tomat murah.

Pasar resmi pernah jadi pilihan. Tapi pilihan itu cepat gugur.

“Sewa mahal. Belum tentu laku. Di sini orang kampung tinggal jalan kaki,” kata dia.

Di sela rel dan rumah-rumah semipermanen, ekonomi tumbuh dengan cara sendiri. Anak-anak kecil ikut bantu orang tua. Ada yang mengangkut sayur. Ada yang menjaga lapak saat ibunya salat. Ada yang tertidur di kursi plastik dekat tumpukan kol.

Pemandangan itu terasa akrab sekaligus mengganggu.

Sebab rel aktif tetap rel aktif.

Tidak ada pagar kokoh yang memisahkan warga dari jalur kereta. Tidak ada ruang aman yang benar-benar steril. Saat kereta lewat, semua orang cuma mengandalkan refleks tubuh dan keberuntungan.

Seorang pembeli bernama Wahyudi mengaku sudah biasa belanja di situ sejak lama.

“Murah. Dekat rumah. Kalau pagi ramai sekali,” ujarnya sambil memasukkan cabai ke kantong plastik hitam.

Dia sadar tempat itu berbahaya. Tapi warga seperti sudah hidup berdamai dengan risiko.

“Kalau dengar pluit ya minggir. Sudah biasa.”

Kata “biasa” terdengar aneh di tempat seperti itu. Sebab maut sebenarnya sangat dekat. Besi, roda, dan tubuh manusia cuma dipisahkan jarak tipis.

Di beberapa titik, rel bahkan dipakai tempat meletakkan dagangan saat kereta belum lewat. Tomat disusun di atas kayu yang menempel hampir ke bibir rel. Ember sayur berjajar mengikuti garis baja memanjang.

Kereta datang, semua berpindah. Kereta pergi, pasar hidup lagi.

Siklus itu bergerak terus seperti ritual harian.

#Bom Waktu di Tengah Kota

Dari pos kecil dekat perlintasan, Purnomo memandang aktivitas pasar dengan wajah tegang. Umur lelaki itu 45 tahun. Kulitnya gelap kena panas. Suaranya serak karena terlalu sering berteriak mengingatkan warga.

Baginya pasar rel Dupak adalah kecemasan yang tidak selesai-selesai.

“Kalau ada kereta tambahan mendadak, saya yang panik duluan,” kata Purnomo.

Pasar rel Dupak tetap hidup di bawah ancaman lokomotif. Pedagang bertaruh keselamatan demi dapur tetap mengepul. | Foto Shella

Di meja pos ada catatan jadwal perjalanan kereta. Kertasnya penuh coretan. Sebagian sudah lusuh. Tiap hari Purnomo harus memastikan jalur steril. Masalahnya, warga sering telat menyingkir.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Ada yang masih sibuk melayani pembeli. Ada yang melamun. Ada yang capai karena dari dini hari sudah bekerja.

“Orang cari makan kadang pikirannya ke mana-mana,” ujarnya.

Saat sirine berbunyi, Purnomo kadang turun langsung ke rel. Tangannya melambai keras meminta warga mundur. Tidak jarang terjadi adu mulut.

“Kalau saya keras sedikit, mereka bilang saya menghalangi rezeki.”

Nada suara Purnomo terdengar lelah. Dia paham aturan keselamatan kereta api. Jalur rel harus steril. Tidak boleh ada aktivitas di kawasan itu. Tapi aturan sering mentok pada kenyataan lapangan.

Di depannya ada orang-orang yang menggantungkan hidup dari ruang sempit kota.

“Kalau cuma diusir tapi tidak ada solusi ya mereka balik lagi,” kata dia.

Kalimat itu seperti menggambarkan lingkaran yang tidak putus. Penertiban pernah dilakukan. Pedagang sempat pindah beberapa hari. Setelah situasi tenang, lapak muncul lagi sedikit demi sedikit.

Kota terus tumbuh, tapi ruang murah buat warga miskin semakin menyusut.

Banyak pedagang merasa tidak punya pilihan lain. Pasar formal membutuhkan biaya lebih besar. Sementara pembeli di kampung sekitar sudah terbiasa datang ke rel sejak pagi buta.

Di tengah kondisi itu, ancaman kecelakaan menggantung setiap hari.

Purnomo mengaku sering membayangkan skenario buruk.

“Saya takut ada yang terpeleset. Atau anak kecil lari pas kereta lewat.”

Ketakutan itu tidak berlebihan. Rel aktif selalu menyimpan risiko yang brutal. Kereta tidak mungkin berhenti mendadak dalam jarak dekat. Saat tabrakan terjadi, peluang selamat sangat kecil.

Tapi rasa takut di Dupak seperti kalah keras dibanding kebutuhan hidup.

Menjelang siang, panas mulai menyengat. Pedagang mengipas wajah dengan kardus bekas. Debu menempel di sayur. Anak-anak bermain dekat tumpukan batu koral rel. Sesekali lokomotif melintas dan semua orang kembali menepi.

Ritmenya monoton. Tapi justru di situ letak keganjilannya. Bahaya yang terus berulang lama-lama berubah jadi rutinitas.

Sumiati sadar betul maut bisa datang kapan saja. Dia pernah mendengar cerita orang tersambar kereta di daerah lain. Pernah juga dagangan rekannya nyaris terseret karena telat mengangkat meja.

“Tapi kalau tidak dagang ya makan apa?” katanya pendek.

Jawaban itu menggantung di udara panas Dupak.

Di kejauhan, gedung-gedung Surabaya berdiri tinggi. Jalan raya penuh kendaraan. Kota bergerak cepat menuju wajah modern. Tapi di bantaran rel Dupak, warga masih bertaruh tubuh demi beberapa lembar uang ribuan.

Menjelang sore, pasar perlahan sepi. Pedagang mulai membereskan lapak. Daun-daun sayur berserakan di batu rel. Plastik kresek beterbangan kena angin kereta terakhir.

Purnomo menutup pos jaga. Wajahnya tampak letih.

Sumiati menghitung uang hasil jualan. Tidak banyak. Cukup buat beras, minyak goreng, dan sedikit lauk.

Besok subuh dia akan kembali lagi ke rel yang sama.

Pluit kereta akan berbunyi lagi.

Orang-orang akan kembali menarik lapak dalam buru-buru.

Dan kota ini mungkin tetap berjalan seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa di Dupak Magersari.***

*) Shella Mardiana PutriMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *