Lewati ke konten

Evolusi Ikan akibat Krisis Iklim Jadi Ancaman Baru bagi Perikanan Indonesia

| 6 menit baca |Sorotan | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Penelitian terhadap hampir 3.000 spesies ikan menunjukkan evolusi akibat pemanasan global dapat memperburuk penurunan hasil perikanan dunia hingga sekitar 50 persen.
  • Ikan berevolusi tumbuh lebih cepat namun matang lebih dini, menyebabkan ukuran dewasa mengecil dan hasil tangkapan nelayan terus menurun global.
  • Studi dalam jurnal Science memperingatkan pembatasan pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius penting menjaga jutaan ton hasil laut tetap berkelanjutan.
  • Indonesia menghadapi risiko karena sektor kelautannya bernilai lebih dari 180 miliar dolar AS setiap tahun dan bergantung pada sumber daya ikan.
  • Peneliti menyebut evolusi membantu ikan bertahan menghadapi perubahan iklim, tetapi justru memperbesar ancaman terhadap ketahanan pangan dan ekonomi pesisir.

Perubahan iklim ternyata tidak hanya mengubah suhu laut. Tetapi juga memengaruhi arah evolusi ikan. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science menunjukkan adaptasi biologis ikan terhadap perairan, semakin hangat justru akan mengurangi hasil perikanan dunia secara signifikan. Bahkan memperburuk penurunan hasil tangkapan hingga sekitar 50 persen dibandingkan proyeksi yang selama ini digunakan.

Temuan menjadi perhatian. Karena hasil perikanan merupakan salah satu fondasi ketahanan pangan global. Jutaan nelayan, industri pengolahan hasil laut, dan masyarakat pesisir menggantungkan kehidupan mereka pada produktivitas ekosistem laut. Kini menghadapi tekanan akibat perubahan iklim.

Penelitian berjudul Evolutionary Adaptation to Global Change Reduces Sustainable Fisheries Yields dikembangkan tim peneliti internasional menggunakan model sejarah hidup (life-history model). Pengujian dilakukan hampir 3.000 spesies ikan dari berbagai wilayah dunia.

Hasil simulasi menunjukkan, ikan memang mampu menyesuaikan diri terhadap suhu laut yang meningkat. Namun, bentuk adaptasi ini justru menghasilkan perubahan biologis. Dampaknya negatif terhadap produktivitas perikanan.

Ikan diperkirakan akan tumbuh lebih cepat. Tetapi mencapai kematangan reproduksi pada usia lebih muda. Dampaknya pun, pertumbuhan tubuh berhenti lebih awal. Sehingga ukuran maksimum ikan dewasa menjadi lebih kecil dibandingkan kondisi saat ini.

Profesor Craig White, peneliti utama dari Monash University mengatakan, perubahan merupakan dilema biologis yang belum banyak diperhitungkan dalam proyeksi perubahan iklim.

”Perubahan evolusi ini berdampak baik bagi kelangsungan ikan, tetapi kurang baik bagi nelayan dan industri perikanan. Evolusi membantu ikan mengurangi dampak pemanasan global terhadap kondisi fisik mereka, tetapi memiliki pengaruh yang buruk terhadap kelestarian hasil tangkapan,” ujar White dalam keterangannya pada Rabu, 3 Juni 2026.

Menurut penelitian, seluruh proyeksi hasil tangkapan ikan akan menjadi terlalu optimistis, apabila proses evolusi tidak dimasukkan dalam perhitungan. Semakin tinggi skenario emisi gas rumah kaca, semakin besar pula dampak evolusi terhadap penurunan hasil perikanan.

“Setiap kenaikan satu derajat suhu bumi diperkirakan akan menurunkan produksi perikanan. Di sisi lain, kebijakan iklim yang baik, yang membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius, berpotensi menjaga jutaan ton hasil perikanan yang dikhawatirkan hilang,” tambahnya.

#Evolusi Membantu Ikan Bertahan

Selama ini kemampuan spesies beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, sering dianggap sebagai kabar baik. Penelitian ini justru memperlihatkan kemampuan bertahan hidup, tidak selalu berarti ekosistem tetap mampu menyediakan manfaat yang sama bagi manusia.

Ketika suhu laut meningkat, metabolisme ikan ikut berubah. Kondisi ini juga mendorong seleksi alam terhadap individu yang dapat tumbuh lebih cepat. Sekaligus berkembang biak lebih awal.

Strategi ini meningkatkan peluang ikan menghasilkan keturunan, sebelum kondisi lingkungan semakin tidak mendukung. Dari sisi evolusi, perubahan tersebut membantu populasi tetap bertahan. Meskipun menghadapi tekanan akibat pemanasan global.

Namun, percepatan reproduksi memiliki konsekuensi biologis. Energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan tubuh, dialihkan ke proses reproduksi. Sehingga ukuran ikan dewasa menjadi lebih kecil.

Ukuran tubuh merupakan faktor penting dalam menentukan nilai ekonomi hasil tangkapan. Semakin kecil ukuran rata-rata ikan dewasa, semakin sedikit biomassa yang dapat dipanen secara berkelanjutan.

Model yang dikembangkan peneliti menunjukkan, penurunan produksi perikanan jauh lebih besar ketika faktor evolusi ikut dihitung. Dampak ini paling terasa pada skenario pemanasan global yang paling ekstrem.

Temuan ini memperluas pemahaman ilmiah, mengenai dampak perubahan iklim. Tidak hanya menggeser distribusi ikan, maupun mengubah kualitas habitat. Pemanasan global sebagaimana  juga mengubah karakter biologis populasi ikan dalam jangka panjang.

Para peneliti menilai proses evolusi harus mulai dimasukkan dalam seluruh model prediksi perubahan iklim. Tanpa pendekatan tersebut, kebijakan pengelolaan sumber daya perikanan berpotensi dibangun di atas proyeksi yang terlalu optimistis.

Fenomena krisis iklim berpotensi mengancam ketahanan pangan, mata pencaharian nelayan, dan masa depan ekosistem laut sebagai sumber pangan. | Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

#Ancaman Serius Ketahanan Pangan Indonesia

Temuan ini memiliki arti penting bagi Indonesia, sebagai negara kelautan dengan luas 5,8 juta kilometer persegi. Sektor kelautan menjadi salah satu penyangga utama perekonomian nasional.

Nilai ekonomi sektor kelautan Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 180 miliar dolar AS setiap tahun. Nilai berasal dari perikanan tangkap, budidaya, transportasi laut, pariwisata bahari, hingga berbagai industri yang bergantung pada sumber daya laut.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Ikan yang merupakan sumber protein utama, sebagian besar masyarakat Indonesia. Penurunan produktivitas perikanan akan berdampak langsung terhadap ketahanan pangan nasional.

Beberapa indikator perubahan ini sebenarnya mulai terlihat. Pertumbuhan sektor perikanan tangkap dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perlambatan.

Perubahan suhu laut telah memengaruhi pola migrasi berbagai jenis ikan. Sebagian spesies berpindah menuju perairan yang lebih dingin, sementara sebagian lainnya mengalami penurunan keberhasilan reproduksi.

Akibatnya, nelayan harus melaut lebih jauh untuk memperoleh hasil tangkapan yang sama seperti sebelumnya. Biaya operasional meningkat, sementara hasil tangkapan belum tentu bertambah.

Jika ukuran rata-rata ikan terus mengecil sebagaimana diprediksi penelitian ini, tekanan ekonomi terhadap nelayan diperkirakan akan semakin besar. Industri pengolahan ikan juga berpotensi mengalami penurunan pasokan bahan baku.

Dampaknya tidak berhenti pada sektor perikanan. Rantai distribusi pangan, perdagangan hasil laut, hingga konsumen berisiko menghadapi kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan ikan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar persoalan lingkungan hidup. Dampaknya telah menjangkau sektor ekonomi, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

#Pengendalian Emisi Jadi Penentu

Penelitian ini menegaskan, membatasi laju pemanasan global, tetap menjadi langkah paling efektif  mengurangi kerugian sektor perikanan.

Profesor Dustin Marshall dari Monash University menegaskan, faktor evolusi perlu dimasukkan dalam setiap proyeksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan manusia. Mengabaikannya dapat menghasilkan perkiraan, tidak mencerminkan risiko sebenarnya terhadap ketahanan pangan dan jasa ekosistem.

“Evolusi mungkin menyelamatkan spesies, tetapi dapat memperburuk kondisi layanan ekosistem yang menopang kehidupan manusia,” kata Marshall.

Menurutnya, keberhasilan suatu spesies bertahan hidup, tidak otomatis menjamin manusia tetap memperoleh manfaat yang sama dari ekosistem tersebut. Dalam kasus perikanan, populasi ikan mungkin tetap ada, tetapi produktivitasnya terus menurun.

Penelitian menunjukkan dampak evolusi akan semakin besar. Apabila dunia gagal menekan emisi gas rumah kaca. Sebaliknya, pembatasan pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius dapat mengurangi tekanan seleksi terhadap populasi ikan. Juga membantu mempertahankan hasil tangkapan.

Target ini menjadi semakin penting. Karena jutaan ton hasil laut diperkirakan berisiko hilang apabila pemanasan global terus meningkat. Negara-negara yang bergantung pada hasil laut sebagai sumber protein utama, diperkirakan menjadi kelompok yang paling rentan.

Bagi Indonesia, hasil penelitian ini menjadi peringatan keras. Kebijakan pengelolaan perikanan perlu disusun dengan mempertimbangkan perubahan biologis ikan. Mulai dari pengaturan kuota tangkap, kawasan konservasi, sampai pemantauan stok ikan. Harus mulai secara terintegrasi  mengenai evolusi spesies.

Di saat yang sama, upaya mengurangi emisi karbon, tidak lagi hanya dipandang sebagai kebijakan lingkungan sama. Langkah ini juga harus menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas perikanan, melindungi mata pencaharian jutaan nelayan, serta mempertahankan laut sebagai sumber pangan bagi generasi mendatang.

Penelitian ini sekaligus menunjukkan, kemampuan ikan beradaptasi bukan berarti ancaman terhadap manusia ikut berkurang. Justru sebaliknya, evolusi yang menyelamatkan populasi ikan dapat menjadi faktor yang mempercepat penurunan hasil perikanan apabila dunia gagal mengendalikan laju perubahan iklim.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *