Lewati ke konten

Kali Surabaya Lampaui Baku Mutu Kualitas Air

| 6 menit baca |Uncategorized | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus

Lima parameter kualitas air Kali Surabaya melampaui baku mutu, menandai ancaman serius bagi ekosistem dan sumber air masyarakat.

Di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap krisis lingkungan, kondisi Kali Surabaya justru memprihatinkan. Sungai yang menjadi salah satu sumber air penting bagi masyarakat ini, kini menghadapi tekanan pencemaran serius. Hasil pengujian kualitas air pada sembilan titik pemantauan dari hulu hingga hilir, menunjukkan sejumlah parameter melampaui baku mutu sungai kelas II. Sebagaimana baku mutu itu, diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021.

Tentu angka-angka dalam temuan ini, bukan catatan belaka. Tetapi pertanda daya dukung lingkungan yang ada, sungai sudah pada titik kritis.

Pencemaran sungai bukan isu baru, sebenarnya. Namun, jika parameter penting seperti Dissolved Oxygen (DO), Total Suspended Solid (TSS), fosfat, amonia, dan klorin melampaui ambang batas. Aliran air pada sungai menunjukkan terjadi persoalan serius. Hal ini tentu akan menjadi ancaman terhadap keberlangsungan ekosistem dan keselamatan manusia.

Kali Surabaya, bisa diketahui, selama ini tidak hanya menopang kehidupan biota air, tetapi juga menjadi sumber air baku yang digunakan jutaan warga. Ketika kualitas sungai menurun, maka yang terjadi ancaman bukan hanya ikan dan plankton saja. Tetapi juga kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

Masalahnya, kerusakan sungai sering kali terjadi diam-diam. Tidak selalu terlihat dengan jelas oleh mata. Tetapi kemudian muncul dampaknya, perlahan menggerogoti kehidupan. Air mungkin masih mengalir. Tetapi kandungannya telah berubah menjadi campuran limbah. Kemudian perlahan merusak keseimbangan ekosistem.

Inilah yang membuat pencemaran sungai menjadi salah satu bentuk krisis ekologis paling berbahaya: kerusakannya terjadi perlahan. Tetapi muncul dampak sangat luas dan sangat terasa.

Tasia bersama Wahyu dan Farida melakukan analisis kualitas air Kali Surabaya di Laboratorium Ecoton untuk mengidentifikasi tingkat pencemaran perairan. | Dok

#Oksigen Rendah dan Nutrien Tinggi

Salah satu temuan kami paling mengkhawatirkan dari hasil pengujian kualitas air. Kami temukan rendahnya kadar DO atau oksigen terlarut di beberapa titik pengamatan. Padahal, oksigen di dalam air merupakan unsur vital bagi organisme akuatik untuk bertahan hidup. Ketika kadar oksigen menurun, ikan dan organisme lain akan mengalami stres. Bahkan bisa terjadi kematian massal. Seperti yang kerap terjadi di Kali Surabaya ini.

Kondisi demikian, merupakan menjadi indikator, kalau sungai sedang berada dalam tekanan pencemaran berat. Apalagi dibarengi tingginya kandungan fosfat dan amonia. Hal ini menunjukkan adanya akumulasi nutrien berlebih, dan sangat potensi memicu eutrofikasi.

Fenomena ini dapat menyebabkan ledakan pertumbuhan alga, secara tidak terkendali. Dalam jangka pendek, ledakan alga mungkin tampak sebagai gejala biasa. Namun, ketika alga mati dan membusuk, proses penguraiannya akan menyerap oksigen dalam jumlah besar sehingga memperparah kondisi perairan. Akibatnya, sungai berubah menjadi habitat yang tidak layak bagi banyak organisme.

Pernyataan Wahyu Baitullah, mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Negeri Surabaya, saat melakukan penelitian bersama kami. Kami melihat menjadi penting untuk dicermati.

Dalam kesempatan, Wahyu mengatakan bahwa tingginya fosfat dan amonia dapat mengganggu struktur komunitas perairan. Di lain sisi, juga mengancam keberlangsungan plankton sebagai dasar rantai makanan akuatik.

“Jika plankton terganggu, maka efek domino akan menjalar ke seluruh ekosistem sungai. Ikan kehilangan sumber makanan, keseimbangan ekologis terganggu, dan produktivitas perairan menurun drastis, “ begitulah kata Wahyu saat kami bersama-sama menguji sampel air Kali Surabaya di Laboratorium Ecological Conservatioan and Wetlands Observatioan (Ecoton) dalam minggu ini.

Apalagi pada saat itu, kami juga menemukan kondisi air Kali Surabaya, diperparah oleh tingginya TSS atau padatan tersuspensi yang meningkatkan kekeruhan air.

Banyak studi empiris mengatakan, air yang keruh menghambat penetrasi cahaya matahari. Dalam hal ini sangat mengganggu proses fotosintesis organisme air. Dalam jangka panjang, bisa kami katakan, sungai akan kehilangan kemampuan alaminya untuk memulihkan kondisi aslinya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
Pengambilan sampel air Kali Surabaya untuk menguji kondisi kualitas perairan di tengah tekanan pencemaran lingkungan. | Foto: Tasia

#Pengawasan Lemah dan Sungai Jadi Korban

Temuan pencemaran di Kali Surabaya ini, juga menunjukkan bahwa telah terjadi lemahnya pengawasan. Terutama aktivitas industri di sepanjang aliran Kali Surabaya. Banyak kawasan industri berdiri berdekatan dengan badan air.

Juga yang terjadi, pengendalian limbah dari aktivitas industri tidak berjalan optimal. Hal ini akan menjadikan sungai bukan lagi sebagai pemenuhan kebutuhan dasar umat manusia Tetapi yang justru terjadi, sungai sebagai tempat pembuangan limbah secara murah.

Sangat ironi, jika banyak pula yang beranggapan, sesuai kehendak alam, sungai mampu menanggung seluruh beban pencemaran. Ini sangat memprihatinkan, pastinya. Padahal, jika melihat kerusakan sungai yang terjadi. Konsekuensinya akan berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi secara menyeluruh. Jauh lebih besar dibanding keuntungan industri jangka pendek.

Ketika kualitas air memburuk, pastinya biaya pengolahan air bersih akan meningkat. Belum lagi ditambah risiko penyakit bertambah. Masyarakat kecil menjadi kelompok paling rentan menerima dampaknya. Padahal paling sedikit sedikit sebagai menyumbang pencemaran. Justru sering, bahkan lebih dulu menjadi korban utama dari kerusakan lingkungan.

Karena itu, pemulihan Kali Surabaya tidak cukup hanya dengan slogan penyelamatan lingkungan belaka atau sekadar kegiatan seremonial tahunan yang rutin diperingati setiap Hari Lingkungan Hidup. Persoalan pencemaran sungai membutuhkan langkah nyata, pengawasan ketat, dan keberanian politik untuk menindak pelaku pencemaran tanpa kompromi.

Dalam konteks ini, tanggung jawab pemulihan Kali Surabaya tidak bisa dibebankan pada satu institusi saja. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas memiliki peran strategis dalam pengelolaan sumber daya air, konservasi sungai, hingga pengendalian kerusakan kawasan aliran sungai.

Di lain sisi, Perum Jasa Tirta I sebagai pengelola infrastruktur pengairan strategis. Harus memastikan kualitas dan kuantitas air. Agar tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan pencemaran industri maupun permukiman.

Juga pemerintah daerah di sepanjang aliran perlintasan Kali Surabaya, harus memegang tanggung jawab penting dalam upaya pemulihan sungai. Mulai dari Pemerintah Kabupaten dan Kota Mojokerto di wilayah hulu, Pemerintah Kabupaten Gresik dan Kabupaten Sidoarjo di kawasan tengah, hingga Pemerintah Kota Surabaya di wilayah hilir, seluruhnya memiliki peran strategis dalam penataan bantaran sungai, pengelolaan sampah, normalisasi saluran air, serta pengawasan terhadap aktivitas permukiman dan industri di sekitar aliran sungai. Tanpa koordinasi yang kuat antarwilayah, upaya pemulihan Kali Surabaya hanya akan berjalan parsial dan sulit menyelesaikan persoalan pencemaran secara menyeluruh.

Sayangnya, selama ini penanganan pencemaran sungai kerap berjalan parsial dan sektoral. Setiap lembaga bekerja dalam batas kewenangannya masing-masing, tetapi sering kehilangan koordinasi dalam membangun sistem pengawasan terpadu. Akibatnya, pencemaran terus berulang tanpa penyelesaian yang benar-benar menyentuh akar persoalan. Sungai akhirnya menjadi korban dari lemahnya koordinasi antarlembaga dan minimnya pengawasan yang konsisten.

Masyarakat perlu didorong untuk kembali melihat sungai sebagai ruang hidup bersama yang harus dijaga, bukan sekadar saluran air yang menerima limbah setiap hari. Perguruan tinggi, komunitas lingkungan, dan media memiliki peran strategis untuk terus mengawal isu pencemaran agar tidak tenggelam di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan kepentingan ekonomi jangka pendek.

Kali Surabaya sesungguhnya sedang menyampaikan pesan yang sangat jelas: sungai memiliki batas daya tahan ekologis. Jika pencemaran terus dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya kualitas air, tetapi juga masa depan lingkungan hidup Jawa Timur. Sungai yang mati bukan tanda kemajuan, melainkan bukti bahwa manusia gagal menjaga sumber kehidupan paling mendasar.***

*) Tripani Anastasia Togatorop  mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Universitas Brawijaya Malang. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *