Mahasiswa Unesa temukan mikroplastik udara tertinggi di sekitar PLTSa Benowo, juga temukan partikel berukuran 5,05 di Waru Sidoarjo.
Penelitian mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menemukan 137 partikel mikroplastik di udara sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo, Surabaya. Konsentrasi tertinggi terdeteksi di titik yang paling dekat dengan area pembakaran sampah.
Mikroplastik tak lagi hanya ditemukan di sungai, laut, atau tubuh ikan. Partikel plastik berukuran sangat kecil itu kini terdeteksi melayang di udara kawasan sekitar PLTSa Benowo, fasilitas pengolah sampah terbesar di Kota Surabaya.
Temuan tersebut dipaparkan dalam “Seminar Hasil Penelitian Environmental Insights 2026” yang mempertemukan mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA).
Penelitian dilakukan Ladya Dwi Kurnia Putri bersama tim mahasiswa Biologi Unesa pada Mei–Juni 2025 di Kecamatan Pakal, Surabaya Barat. Kajian itu meneliti distribusi mikroplastik udara serta konsentrasi PM2.5 dan PM10 di sekitar fasilitas PLTSa Benowo.
Hasilnya menunjukkan seluruh titik pengambilan sampel telah terkontaminasi mikroplastik dengan karakteristik dan jumlah berbeda-beda.
Sebanyak 137 partikel mikroplastik ditemukan pada enam titik pengamatan. Titik dengan kelimpahan tertinggi berada di area T3 yang lokasinya paling dekat dengan aktivitas PLTSa, yakni mencapai 44 partikel. Sementara titik kontrol mencatat jumlah paling rendah, hanya lima partikel.
“Konsentrasi partikulat PM2.5 dan PM10 juga lebih tinggi pada area yang berdekatan dengan PLTSa,” kata Ladya saat mempresentasikan hasil penelitiannya di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton), Gedung Open Spice Inspirasi, Wringinanom, Gresik pada Kamis, 4 Juni 2026.
Temuan itu menunjukkan persoalan sampah plastik tidak berhenti setelah dibakar atau diangkut ke tempat pengolahan. Dalam bentuk mikroplastik, residu plastik justru dapat berpindah medium menjadi pencemar udara yang berpotensi terhirup manusia setiap hari.

#Mikroplastik Ditemukan di Seluruh Titik
Penelitian menggunakan metode passive air sampling dengan media kertas Whatman No. 1 selama enam jam setiap hari. Sampel udara kemudian dianalisis menggunakan High Volume Air Sampler melalui metode gravimetri untuk mengukur konsentrasi PM2.5 dan PM10.
Partikel yang tertangkap diamati menggunakan stereomikroskop pembesaran 40 kali guna mengidentifikasi bentuk, ukuran, dan warna mikroplastik. Tim peneliti juga menggunakan metode Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) untuk memastikan jenis polimer plastik yang ditemukan.
Hasil identifikasi menunjukkan mikroplastik didominasi jenis fiber dan film dengan jumlah masing-masing 53 partikel atau 38,7 persen. Sementara fragmen tercatat sebanyak 31 partikel atau 22,6 persen.
Fiber merupakan mikroplastik berbentuk serat halus yang umumnya berasal dari tekstil sintetis, tali plastik, atau material polimer lain yang mengalami degradasi. Adapun film berasal dari plastik tipis seperti kantong plastik dan bungkus kemasan sekali pakai.
Ukuran mikroplastik yang ditemukan berkisar antara 8,1 mikrometer hingga 1.821 mikrometer. Partikel terkecil didominasi filamen, sedangkan partikel terbesar berbentuk fiber.
Selain bentuk dan ukuran, penelitian juga mengidentifikasi warna partikel mikroplastik. Warna merah menjadi yang paling dominan dengan total 30 partikel, disusul transparan, hijau, biru, cokelat, ungu, kuning, dan oranye.
Keberadaan mikroplastik di seluruh titik sampling menunjukkan partikel plastik telah tersebar luas di atmosfer sekitar kawasan pengolahan sampah. Temuan tersebut mengindikasikan adanya hubungan antara aktivitas operasional PLTSa dengan pelepasan partikulat plastik ke udara.
“Aktivitas operasional PLTSa berpotensi menjadi sumber pencemar mikroplastik atmosferik yang meningkatkan risiko terhadap lingkungan dan kesehatan manusia,” ujar Ladya.

#Risiko Kesehatan dari Partikel Tak Kasat Mata
Penelitian ini tidak hanya memetakan keberadaan mikroplastik, tetapi juga menyoroti dampaknya terhadap kesehatan manusia. Mikroplastik di udara dapat berasosiasi dengan partikel halus PM2.5 dan PM10 yang selama ini diketahui berbahaya bagi sistem pernapasan.
PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang mampu masuk hingga ke paru-paru dan aliran darah. Ketika partikel tersebut membawa mikroplastik, risiko kesehatan dinilai menjadi lebih kompleks karena plastik mengandung berbagai bahan tambahan kimia.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelDalam presentasinya, Ladya mengutip penelitian Jiang et al. (2020) yang menyebut paparan mikroplastik dapat menyebabkan stres oksidatif, inflamasi jaringan, hingga kerusakan sel. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu fungsi organ manusia dalam jangka panjang.
Kekhawatiran itu diperkuat penelitian lanjutan yang dipresentasikan Arifia Nur Fadhilah. Dalam kajiannya mengenai distribusi mikroplastik udara berdasarkan penggunaan lahan di Kecamatan Waru, Sidoarjo, Fia menemukan partikel berukuran 5,05 mikrometer berpotensi mencapai saluran pernapasan bagian bawah.
“Partikel tersebut dapat membawa pigmen, aditif, dan kontaminan lain ke dalam sistem pernapasan,” kata Fia.
Ia juga menyoroti bahwa manusia menghirup sekitar 9,5 ton udara setiap tahun. Dalam konteks perkotaan yang dipenuhi aktivitas transportasi, industri, dan degradasi plastik, udara kini menjadi medium baru penyebaran mikroplastik yang dampaknya belum sepenuhnya dipahami.
Di sisi lain, mikroplastik bukan hanya ancaman bagi manusia. Dalam penelitiannya, Fia menyebut partikel tersebut bersifat persisten dan sulit terurai di lingkungan.
“Mikroplastik dapat terus mengalami fragmentasi menjadi ukuran lebih kecil dan menyebar ke tanah, perairan, hingga atmosfer,” ujarnya.
Sejumlah studi bahkan menunjukkan mikroplastik berwarna mampu menyerap radiasi matahari lebih besar dibandingkan partikel tanpa pigmen. Kondisi itu dinilai berpotensi berkontribusi terhadap pemanasan atmosfer.

#PLTSa dan Tantangan Pengelolaan Sampah Modern
PLTSa Benowo selama ini menjadi salah satu proyek strategis pengolahan sampah di Surabaya. Fasilitas tersebut mengolah sekitar 1.500–1.600 ton sampah per hari dan menghasilkan energi listrik dari proses pembakaran sampah.
Namun penelitian mahasiswa Unesa menunjukkan teknologi pengolahan sampah modern tetap menyisakan tantangan lingkungan yang perlu diawasi secara serius, terutama terkait emisi partikulat dan mikroplastik atmosferik.
Kawasan dengan konsentrasi mikroplastik tertinggi dalam penelitian berada paling dekat dengan area aktivitas PLTSa. Temuan itu membuka pertanyaan mengenai efektivitas sistem pengendalian emisi serta pengelolaan residu pembakaran.
Jenis polimer dominan yang ditemukan adalah polyethylene atau LDPE, material yang umum digunakan pada kantong plastik, botol, dan berbagai kemasan sekali pakai.
“Dominasi polyethylene menunjukkan sumber mikroplastik kemungkinan besar berasal dari degradasi sampah plastik konsumsi sehari-hari yang masuk ke sistem pengolahan sampah,” jelas Ladya.
Para peneliti menilai pengawasan kualitas udara di sekitar fasilitas pengolahan sampah perlu diperkuat. Monitoring rutin mikroplastik atmosferik dinilai penting untuk mengetahui tingkat paparan masyarakat sekaligus mengukur efektivitas pengendalian emisi.
Selain itu, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dinilai tetap menjadi langkah paling mendasar untuk menekan pencemaran mikroplastik.
“Tanpa pengurangan dari sumbernya, pengolahan sampah hanya memindahkan bentuk pencemaran dari darat ke udara,” ujar Fia.
Penelitian dua mahasiswa Unesa ini menambah daftar temuan mengenai meluasnya pencemaran mikroplastik di Indonesia. Jika sebelumnya perhatian publik lebih banyak tertuju pada sungai dan laut, kini udara perkotaan mulai menunjukkan jejak persoalan yang sama.
Mikroplastik memang tidak terlihat secara kasat mata. Namun hasil penelitian tersebut menunjukkan partikel itu hadir di sekitar ruang hidup masyarakat dan ikut terhirup bersama udara sehari-hari.