Relawan lingkungan menemukan plastik melilit mangrove Wonorejo, memperlihatkan krisis pencemaran pesisir Surabaya yang semakin sulit dikendalikan.
Persoalan pencemaran pesisir kembali terlihat di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya. Dalam aksi penyusuran dan bersih-bersih pada Sabtu, 6 Juni 2026, sebanyak 12 relawan dari pegiat lingkungan, Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), serta mahasiswa Universitas Negeri Surabaya menemukan tumpukan sampah domestik yang menjerat vegetasi mangrove di kawasan konservasi tersebut.
Tim menemukan limbah berupa popok bekas, pakaian, sandal, styrofoam, hingga botol dan kantong plastik sekali pakai. Sebagian besar sampah tersangkut pada akar dan bakal tanaman mangrove yang tumbuh di sepanjang aliran air pesisir.
Direktur Eksekutif Ecoton, Daru Setyorini, yang langsung turun ke lokasi, mengatakan kondisi tersebut memperlihatkan tekanan serius terhadap ekosistem mangrove yang selama ini menjadi benteng alami kawasan pesisir Surabaya.
“Sampah-sampah plastik yang melilit tanaman di sini itu membuat tanamannya tidak bisa bernapas dengan baik dan dapat menyebabkan mereka mati,” ujar Daru di sela kegiatan, Sabtu pagi hingga siang itu.
Kematian vegetasi mangrove ia nilai tak bisa dilihat dari persoalan lanskap lingkungan saja. Menurut doctor, yang pernah terlibat dalam penulisan literatur “Rekayasa Ekohidrolika untuk Mengurangi Erosi Tebing Dan Meningkatkan Habitat Ikan”, hilangnya kawasan mangrove berpotensi memperburuk kualitas perairan dan mempercepat kerusakan ekosistem di hilir.
“Kawasan mangrove ini sebenarnya menjadi penyaring terakhir, sebelum beban pencemaran dari daratan masuk ke laut, “ ucap Daru.
“Ketika vegetasinya rusak akibat terlilit sampah plastik, maka kemampuan alami ekosistem untuk menahan sedimen, menyerap polutan, dan menjaga habitat biota pesisir ikut melemah. Jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya bukan hanya pada mangrove, tetapi juga kualitas perairan di hilir Sungai Wonokromo dan ekosistem laut di sekitarnya,” jelas Daru.

#Mangrove Menahan Beban Pencemaran
Sementara itu, Yanto salah satu Tim Ekspedisi Sungai Brantas melihat keberadaan mangrove Wonorejo menjadi penyangga penting terhadap beban pencemaran. Selama ini, kata Yanto, bisa diketahui datang dari hulu sungai mengalir ke hilir.
“Dengan adanya hutan mangrove ini menjadi salah satu katalisasi untuk menstabilkan air dari hulu Kali Wonokromo yang sudah tercemar,” kata Yanto.
Maka Yanto berpendapat, kondisi pesisir tidak dapat dilepaskan dari pola pengelolaan sampah di kawasan perkotaan. Sampah yang dibuang ke sungai pada akhirnya bermuara di kawasan mangrove dan terakumulasi saat air laut surut.
Di sejumlah titik, relawan harus melepaskan plastik yang melilit akar mangrove satu per satu. Sebagian plastik bahkan telah tertanam di lumpur dan bercampur dengan sedimen pesisir.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Pesisir mangrove ini, kita lihat telah menampung kiriman sampah dari hulu sungai. Plastik yang terus menumpuk dan melilit akar mangrove, seperti yang kita lihat. Perlahan merusak fungsi ekologis Kawasan, bisa juga memperburuk kualitas perairan pesisir, ” ucap Yanto.

#Ancaman Mikroplastik Mulai Terlihat
Di lain sisi, mahasiswa Biologi Unesa, Arifia Nur Fadhilah, mengaku sangat terkejut melihat kondisi mangrove Wonorejo. Banyaknya sampah yang menumpuk di area pertemuan laut dan hutan mangrove, kata dia, tentu saja memburuk kondisi lingkungan.
Selain melihat kondisi perairan itu, ia mengaku menemukan serpihan-serpihan kecil plastik yang diduga mulai terurai tak menunutup kemungkinan akan berubah menjadi ancaman mikroplastik.
“Di airnya itu ada banyak potongan-potongan plastik kecil yang terlihat seperti potongan karung bekas. Sangat memprihatinkan banyak sekali sampah yang terbawa ke sini,” ujarnya.
Sebagai generasi muda dan saat ini masih menempub belajar, Fia berharap pemerintah Kota Surabaya, tidak hanya mengandalkan aksi bersih-bersih berkala. Tetapi juga memperketat regulasi penggunaan plastik sekali pakai, serta memperbaiki pengawasan pembuangan limbah domestik ke sungai.
“Melihat kenyataan ini, mestinya pemerintah Kota Surabaya, bisa juga pemerintah di atas, provinsi (Jawa Timur), maupun pusat, segera membuat regulasi ketat soal produk plastik. Kita lihat jika dibiarkan plastik bisa mengancam lingkungan dan Kesehatan, “ ulas Fia.
Aksi penyusuran ini sekaligus memperlihatkan bahwa kawasan mangrove kini berada di garis depan krisis sampah perkotaan. Relawan menilai pendekatan penanganan lingkungan perlu bergeser, bukan semata melihat mangrove sebagai pelindung manusia dari abrasi, melainkan sebagai ekosistem yang memiliki hak untuk terbebas dari pencemaran.
Bagi para relawan, tumpukan plastik di Wonorejo tidak bisa dilihat persoalan estetika lingkungan. Sampah yang terus mengendap, menurut mereka, di kawasan pesisir ini menunjukkan masih lemahnya pengendalian konsumsi plastik dan buruknya tata kelola limbah di wilayah perkotaan Surabaya.***

Artikel ditulis oleh Yasinta Aulia BP, mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara UNESA, saat mengikuti kegiatan di mangrove Wonorejo dan telah melalui penyuntingan redaksi.