- Lebih dari 27 ton sampah diangkat dari Kali Tebu, Surabaya. Namun ancaman mikroplastik masih membayangi kehidupan perairan.
- Aktivis lingkungan menilai pencemaran plastik yang berlangsung bertahun-tahun turut mempercepat penurunan kualitas habitat berbagai spesies ikan.
- Berbagai jenis ikan yang dahulu akrab dengan kehidupan warga kini semakin sulit ditemukan di perairan Kali Tebu.
- Temuan di sungai dan kesaksian warga menunjukkan perubahan besar pada sungai yang pernah menjadi ruang hidup masyarakat.
Pembersihan besar-besaran di Kali Tebu sepanjang Mei hingga Juni 2026 berhasil mengangkat lebih dari 27 ton sampah. Temuan tersebut menjadi gambaran besarnya tekanan pencemaran yang selama ini membebani salah satu sungai di kawasan pesisir utara Surabaya.
Sebanyak 11,5 ton sampah diangkut oleh Tim MOZAIK bentukan Ecoton. Sementara 16 ton lainnya diangkat melalui operasi gabungan yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, petugas kebersihan Kecamatan Kenjeran, dan Tim MOZAIK.
Data itu menjadi latar belakang aksi kampanye bertajuk Sampah Plastikmu Racuni Iwak Kali Tebu yang digelar Jaringan Gen Z Tolak Plastik Sekali Pakai (JEJAK), Aliansi Komunitas Penyelamat Sungai (AKAMSI), River Warriors, dan Ecologi Conservation and Wetlands Observation (Ecoton).
Meski volume sampah yang berhasil dibersihkan sangat besar, para aktivis menilai persoalan sungai belum selesai. Ancaman yang lebih sulit terlihat, justru berada di dalam air dan sedimen dalam bentuk mikroplastik.
Dalam aksinya, peserta melakukan edukasi publik dan pertunjukan teatrikal. Tiga orang membungkus tubuh mereka menggunakan plastik dan mengenakan topeng ikan sebagai simbol dampak pencemaran terhadap kehidupan perairan.
Anggota AKAMSI, Jofanny Ahmad, mengatakan kebiasaan membuang sampah ke sungai masih menjadi persoalan serius. Menurutnya, pencemaran yang terus berlangsung ikut memengaruhi keberadaan berbagai spesies ikan lokal.
“Kami minta kepada bapak dan ibu yang melintas di jalan ini, sampaikan pesan kami kepada saudara-saudara di rumah, melalui rumah ibadah, sekolah, dan lingkungan sekitar. Jangan lagi membuang sampah ke sungai karena dampaknya bukan hanya kita rasakan hari ini, tetapi juga akan dirasakan oleh anak cucu kita nanti,” kata Jofanny dari atas Jembatan Kali Kedinding, Rabu, 24 Juni 2026.
Jofanny berpendapat dampak pencemaran tidak hanya terlihat dari menumpuknya sampah. Perubahan juga terlihat dari semakin berkurangnya hubungan masyarakat dengan kehidupan sungai.
Menurutnya, semakin banyak anak yang tidak lagi mengenal habitat sungai maupun ikan lokal yang dahulu mudah ditemukan. Kondisi tersebut mencerminkan perubahan lingkungan yang dirasakan langsung oleh warga sekitar.
“Dulu anak-anak tumbuh bersama sungai. Mereka mengenal ikan wader, bader, gabus, dan berbagai kehidupan yang ada di dalamnya. Sekarang banyak yang hanya melihat sungai sebagai saluran air penuh sampah dan anak-anak kehilangan pengetahuan mengenal lingkungan. Sekaligus menghadapi risiko pencemaran sungai,” ungkap Jofanny.

#Jejak Ikan Kian Menghilang
Kali Tebu menyimpan sejarah panjang sebagai bagian dari sistem Sungai Surabaya. Berbagai penelitian mengenai keanekaragaman hayati dan kesaksian warga menunjukkan kawasan ini dahulu menjadi habitat beragam ikan lokal.
Spesies yang pernah ditemukan antara lain gabus (Channa striata), wader (Rasbora argyrotaenia), bader putih (Barbonymus gonionotus), bader merah (Barbonymus balleroides), keting (Hemibagrus planiceps), rengkik (Hemibagrus nemurus), sili (Macrognathus aculeatus), belida jawa (Notopterus notopterus), bloso (Oxyeleotris marmorata), hingga jendil (Pseudolais micronemus).
Kedekatan Kali Tebu dengan kawasan tambak dan pesisir Kenjeran juga memungkinkan keberadaan ikan perairan payau seperti bandeng, mujair, dan belanak. Kehadiran berbagai spesies tersebut menunjukkan bahwa sungai pernah memiliki fungsi ekologis yang penting.
Namun kondisi itu berubah seiring meningkatnya tekanan lingkungan. Urbanisasi, limbah domestik, sedimentasi, dan masuknya sampah plastik dalam jumlah besar menyebabkan kualitas habitat terus menurun.
Peneliti lingkungan Ecoton, Alaika Rahmatullah, mengatakan hilangnya spesies ikan lokal tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan akumulasi berbagai tekanan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Alaika yang juga Manager Data dan Informasi MOZAIK, yang saat ini fokus persoalan sampah Kali Tebu, menjelaskan, “Banyak warga yang tinggal di bantaran Kali Tebu sejak era 1970-an, masih mengingat masa ketika sungai menjadi ruang bermain dan sumber pangan keluarga. Kesaksian mereka menggambarkan perubahan yang cukup drastis, “ ucap Alaika mengutip cerita warga yang ia temui.
“Dulu banyak ikan wader, bader, sama gabus. Anak-anak sering mandi di sungai dan mencari ikan pakai jaring kecil. Sekarang airnya keruh dan lebih sering terlihat sampah daripada ikan,” kata Alaika.
Kesaksian tersebut menunjukkan, perubahan kondisi sungai tidak hanya tercermin dalam data lingkungan. Perubahan itu juga terekam dalam pengalaman sehari-hari masyarakat yang hidup berdampingan dengan sungai selama puluhan tahun.
““Perubahan yang diceritakan warga memperlihatkan bagaimana degradasi lingkungan sungai berlangsung perlahan, tetapi dampaknya sangat nyata,” ujar Alaika.

#Ancaman Rantai Makanan
Di balik sampah yang terlihat mengapung di permukaan, para peneliti juga menyoal ancaman lain yang jauh lebih sulit dideteksi. Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil yang terbentuk dari pecahan sampah plastik yang terus mengalami pelapukan.
Menurut Alaika, mikroplastik dapat mencemari air maupun sedimen sungai. Partikel tersebut kemudian berpotensi masuk ke tubuh organisme perairan melalui makanan yang mereka konsumsi.
“Mikroplastik tidak hanya mencemari air dan sedimen, tetapi juga masuk ke tubuh ikan melalui makanan yang mereka konsumsi. Dalam jangka panjang kondisi ini dapat mengganggu kesehatan organisme perairan dan menurunkan kualitas ekosistem sungai,” ujarnya.
Ancaman mikroplastik menjadi perhatian karena keberadaannya sulit diamati secara langsung. Sementara sumber pencemar terus bertambah ketika sampah plastik masih dibuang ke lingkungan.
Sementara itu, Manager Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqqin, berpendapat upaya pemulihan Kali Tebu tidak cukup dilakukan melalui kegiatan pengangkatan sampah. Ia mengatakan, restorasi harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“Kami melihat pemulihan Kali Tebu tidak cukup hanya dengan mengangkat sampah dari permukaan. Restorasi sungai perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pengurangan sampah dari sumbernya, peningkatan pengelolaan limbah domestik, pengawasan pencemaran industri, rehabilitasi habitat perairan, serta edukasi masyarakat mengenai bahaya plastik sekali pakai,” jelas Amiruddin.
Selanjutnya Amiruddin menguraikan, sungai yang sehat memiliki fungsi penting sebagai penyangga ekosistem, pengendali banjir, penyimpan keanekaragaman hayati, sekaligus bagian dari sejarah dan budaya kota.
Temuan lebih dari 27 ton sampah di Kali Tebu, kata Amiruddin, memperlihatkan jika pencemaran yang terjadi merupakan persoalan serius.
“Yang perlu dipahami, kondisi ini merupakan akumulasi pencemaran yang berlangsung selama bertahun-tahun. Karena itu, pemulihan sungai tidak cukup hanya dengan membersihkan sampah yang terlihat di permukaan, tetapi juga harus menghentikan sumber pencemaran yang secara perlahan menggerus keberadaan ikan lokal dan menurunkan kualitas ekosistem perairan,” ujar Amirruddin.***