Lewati ke konten

Menembus Bau dan Tumpukan Sampah: Cerita Farida Meneliti Krisis Sungai di Kali Tebu Surabaya

| 7 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Farida meneliti tingkat pencemaran domestik Kali Tebu melalui analisis bakteri, fosfat, dan oksigen terlarut.
  • Pencemaran domestik mengancam Kali Tebu, mendorong Farida menguji kondisi air melalui tiga parameter utama.
  • Melihat langsung akumulasi sampah, Farida menguji kualitas air Kali Tebu demi memperjuangkan hak sungai.
  • Tingginya limbah rumah tangga di Kali Tebu diukur lewat indikator bakteri, fosfat, dan oksigen.
  • Riset lapangan Farida mengungkap krisis pencemaran air Kali Tebu akibat buangan limbah domestik masyarakat.

 

SUNGAI memegang peranan vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta menyokong kehidupan masyarakat di sekitarnya. Realitanya, di Kali Tebu, kawasan Kenjeran, Surabaya berbeda. Justru di sini menyajikan pemandangan yang memprihatinkan. Bau menyengat, air yang berubah warna, hingga tumpukan sampah plastik yang dihinggapi bangkai dan tikus menjadi menjadi bukti tingginya beban pencemaran domestik di perairan ini.

Sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya, Farida Febriani Tampubolon menaruh perhatian mendalam pada krisis ini. Rangkaian pengalaman bersama ECOTON—mulai dari program MOZAIK, aksi Refilin, sampai menyusuri Kali Surabaya—Farida menyaksikan langsung bagaimana limbah rumah tangga dibuang tanpa pengolahan optimal. Bagaimana juga disaksikan Farida, masyarakat hidup berdampingan dengan sungai yang kian terdegradasi.

Untuk mengukur sejauh mana pencemaran domestik telah merusak fungsi ekologis Kali Tebu, penelitian ilmiah ini berfokus pada tiga parameter indikator utama:

  • Fecal Coliform: Keberadaan bakteri ini menjadi petunjuk langsung adanya kontaminasi tinja (limbah domestik blackwater) akibat buruknya sistem sanitasi dan pembuangan limbah rumah tangga ke aliran sungai.
  • Fosfat (PO4): Merupakan senyawa anorganik yang umumnya berasal dari sisa detergen, sabun rumah tangga, dan limbah dapur (greywater). Akumulasi fosfat yang berlebihan berpotensi memicu eutrofikasi yang merusak keseimbangan perairan.
  • Dissolved Oxygen (DO): Kadar oksigen terlarut merupakan parameter kritis bagi kelangsungan hidup biota air. Penurunan tingkat DO secara drastis menandakan tingginya aktivitas penguraian beban organik yang menguras oksigen hingga memicu kondisi anoksik dan menimbulkan bau tidak sedap.

Melalui wawancara dengan TitikTerang berikut, Farida membagikan rekam jejak perjalanannya di lapangan: dari keresahan melihat tumpukan sampah dan ancaman mikroplastik, pengalaman fisik akibat air sungai yang tercemar, hingga dorongan ilmiah menguji indikator pencemaran Kali Tebu. Semua dilakukan Farida demi memperjuangkan kembali, hak-hak sungai sebagai sumber kehidupan.[*]

Farida berdialog dengan warga membahas Refilin dan bahaya sampah sachet terhadap lingkungan serta sungai di Kawasan Kali tebu Kenjeran, Surabaya. | Foto: M Iffan

 Bisa diperkenalkan diri, asal, dan aktivitas Farida sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya?

Perkenalkan nama saya Farida Febriani Tampubolon mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya asal dari Riau. Aktivitas yang saya lakukan adalah belajar mengenai hal-hal baru yang ingin saya dapatkan untuk menambah pengetahuan saya.

Apa yang membuat Farida memilih ECOTON sebagai tempat magang pada 5 Februari–5 Juni 2026?

Yang membuat saya memilih ECOTON sebagai tempat magang awalnya itu ikut-ikut aja sebenarnya, tetapi saat saya menjalaninya saya jadi mengetahui banyak hal. Yang sebelumnya saya belum tahu dan membuat saya ingin menjadi lebih tahu lagi.

Selama hampir empat bulan menjalani magang, kegiatan apa yang paling banyak menyita waktu dan energi Farida?

Selama menjalani magang, kegiatan yang paling banyak menyita waktu dan energi saya saat berpergian dari kantor menuju tempat yang lebih wah yaa, tapi itu menurut saya seru si.

Teman-teman menyebut Farida sebagai salah satu mahasiswa magang yang paling sibuk. Sebenarnya, apa saja kesibukan Farida selama berada di ECOTON?

Farida Febriani Tampubolon berkeliling kampung dengan sepeda Refilin, di Kawasan Kali Tebu Kenjeran Surabaya mengajak warga mengurangi penggunaan kemasan sachet sekali pakai. | Foto: M Iffan

Kalau untuk itu, saya merasa bahwa saya bukan mahasiswa magang yang paling sibuk. Saya merasa aktivitas saya tidak sepadat itu. Tetapi kesibukan saya selama magang di ECOTON itu kegiatan yang dilaksanakan, event event yang dilakukan di ECOTON. Saya mengikutinya karena saya kepo dengan hal itu, seperti ke mangrove dan ke Kali Tebu.

Dari berbagai kegiatan yang diikuti, pengalaman apa yang paling berkesan dan paling mengubah cara pandang Farida terhadap persoalan lingkungan?

Paling berkesan… apa ya mengubah cara pandang saya itu saat magang persoalan mengenai mikroplastik. Dan ternyata mikroplastik itu sudah ada sejak lama. Tetapi belum banyak yang menyadari itu dan masih menggap itu hal sepele.

Farida terlibat dalam program MOZAIK, khususnya menangani persoalan Kali Tebu di kawasan Kenjeran, Surabaya. Apa yang Farida temukan di lapangan?

Saya temukan di lapangan itu banyak sampah yang masuk ke dalam sungai secara bebas. Baku mutu air mengatakan tidak boleh ada sampah yang masuk ke dalam perairan. Tetapi hal itu berbeda denga apa yang ditemukan di Kali Tebu. Sewaktu malam banyak tikus yang ada di atas tumpukan sampah. Bau dari Kali Tebu yang menyengat, banyak sampah, bangkai hewan, dan air sungai yang sudah berubah warna.

Ketika berhadapan langsung dengan tumpukan sampah dan kondisi Kali Tebu, apa yang pertama kali muncul dalam pikiran Farida sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan?

Farida Febriani Tampubolon mengedukasi siswa SMAN 1 Mantup tentang bahaya mikroplastik dalam kegiatan Microplastic Journey ECOTON, Kamis (16/7/2026). | Foto: Fully Syafi

Banyak tumpukan sampah yang berada di Kali Tebu… Pikiran saya langsung tertuju bahwa perairan ini sudah tidak sehat. Bau yang menyengat keluar, warna air sungai yang sudah tidak layak dikatakan sungai, Sampah yang selalu menumpuk diperairan, dan masyarakat yang hidup berdampingan dengan sungai yang bertumpuk dengan sampah.

Farida juga terlibat dalam kegiatan Refilin pada 27 Juli–3 Agustus 2026. Apa peran Farida dalam kegiatan tersebut dan apa yang ingin dicapai melalui program Refilin?

Peran saya itu mengenalkan kepada masyarakat, di sepanjang Kali Tebu. Tentang bahaya sampah shachet, mengenalkan kepada masyarakat, salah satu upaya yang dapat dilakukan mengurangi sampah sachet adalah refil. Di mana refil ini adalah salah satu solusi yang dilaksanakan menggunakan botol. Yang bisa digunakan ulang untuk memperpanjang masa pemakaian botol. Karena sachet ini tidak ada nilai nya jika sudah berakhir di tempat sampah. Yang ingin dicapai agar masyarakat mengerti dan paham mengenai bahaya sachet.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Setelah terlibat langsung dalam MOZAIK dan Refilin, apakah pandangan Farida tentang persoalan sampah plastik dan sungai berubah? Mengapa?

Berubah. Karena masih banyak masyarakat yang tidak peduli dengan sungai. Dan berfikir sampah plastik yang dibuang ke sungai akan hilang dari padangan. Tetapi tidak akan hilang dari bumi dan akan kembali ke mereka (diri kita) sendiri.

Farida juga ikut menyusuri Kali Surabaya. Bagaimana pengalaman berada langsung di sungai dan melihat kondisi sungai dari jarak dekat?

Saat menyusuri Kali Surabaya itu ternyata berbeda jauh dengan ekspetasi. Kulit saya yang sensitif berubah menjadi ruam merah dan banyak bentol yang muncul. Ternyata Kali Surabaya tidak seaman kelihatannya.

Saat menyusuri Kali Surabaya, Farida sempat mengalami gatal-gatal. Apa yang terjadi saat itu dan bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi cara Farida melihat kondisi lingkungan sungai?

Yang terjadi saat saya naik dari sungai. Kulit saya kemerahan semua, dan beberapa saat kemudian muncul bentol bentol kecil dan besar dan rasanya panas serta gatal. Melalui pengalaman itu saya berfikir bahwa kondisi kali Surabaya sudah tercemar dan butuh perhatian yang khusus. Karena kali Surabaya menjadi baku mutu air minum.

Sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan, apa temuan atau persoalan di Kali Surabaya yang menurut Farida paling mengkhawatirkan?

Persoalan limbah yang dibuang secara langsung ke perairan tanpa ada pengolahan yang optimal.

Farida Febriani Tampubolon pegang megaphone setelah menyerukan “Stop sampah plastik sekali pakai” dalam aksi kampanye lingkungan ECOTON. | Dok. ECOTON, 22 April 2026

Farida kemudian kembali melanjutkan kegiatan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) di ECOTON pada 1 Juli–11 Agustus 2026. Mengapa memilih kembali ke ECOTON setelah masa magang selesai?

Saya memilih kembali ke ecoton karena saya tertarik untuk meneliti Kali Tebu.

Farida disebut berencana mengerjakan skripsi di ECOTON. Apa topik yang sedang dipertimbangkan dan mengapa memilih isu tersebut?

Saya berencana memilih topik mikroplastik karena saya tertarik mengenai hal itu, saya ingin tau seberapa jauh mikroplastik diperairan dan seberapa banyak.

Dari pengalaman turun ke lapangan, melakukan pemantauan sungai, berdiskusi, hingga terlibat dalam program ECOTON, apa pelajaran yang tidak Farida dapatkan hanya dari bangku kuliah?

Yang tidak saya dapatkan di bangku perkuliahan yaitu, kekompakan, kepedulian, kepekaan, mengenai mikroplastik, hal-hal yang sangat kecil dan berdampak besar.

Di tengah kesibukan kegiatan magang dan PKL, Farida dikenal sebagai sosok yang lucu dan sering membuat teman-teman gembira. Apakah humor memang menjadi cara Farida menghadapi tekanan dan kelelahan selama kegiatan lapangan?

Itu salah satu cara saya agar saya tidak brain out selama kegiatan.

Setelah semua pengalaman di ECOTON—dari Kali Tebu, MOZAIK, Refilin, hingga menyusuri Kali Surabaya—apa yang ingin Farida bawa pulang dan perjuangkan sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan?

Saya ingin memperjuangkan hak hak sungai dan mengembalikan sungai seperti seharusnya yang bisa memberikan kehidupan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *