- Sebanyak 300 santri Pondok Pesantren Jalaluddin Ar-Rumi di Jember mengikuti edukasi lingkungan bersama Ecoton yang membahas deforestasi, mikroplastik, dan pengelolaan sampah.
- Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Para santri juga mempraktikkan pembuatan eco enzyme dari limbah organik sebagai upaya mengurangi timbulan sampah.
- Melalui seminar dan pelatihan ini, pesantren mendorong lahirnya kebiasaan hidup minim sampah serta meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap krisis lingkungan.
#Deforestasi dan Mikroplastik Jadi Sorotan
Sebanyak 300 santri Pondok Pesantren Jalaluddin Ar-Rumi, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, mengikuti Seminar Edukasi Lingkungan dan Workshop Pembuatan Eco Enzyme yang digelar bersama Ecoton pada Ahad, (28/6/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman santri terhadap berbagai persoalan lingkungan sekaligus membekali mereka dengan keterampilan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Acara dibuka oleh Wakil Kepala Pondok Pesantren Jalaluddin Ar-Rumi, dr. Kholisatul Widad. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan untuk menciptakan ruang hidup yang sehat dan nyaman bagi seluruh warga pesantren.
“Membangun budaya peduli lingkungan di pesantren merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang bertanggung jawab terhadap masa depan bumi,” tutur Kholisatul dalam rilisnya, Selasa, (30/6/2026)
Sementara pada sesi seminar, Peneliti Ecoton Sofi Azilan Aini menjelaskan hubungan antara deforestasi dan pencemaran plastic. Hal ini sekarang telah menjadi tantangan lingkungan di berbagai wilayah.
Menurut Sofi, kerusakan hutan dan meningkatnya sampah plastik merupakan persoalan yang memerlukan keterlibatan semua pihak, termasuk kalangan santri. “Kalangan santri harus harus terlibat dalam hal ini (peduli lingkungan), “ ucap Sofi.

Sofi juga menambahkan ancaman mikroplastik terhadap lingkungan saat ini, sudah merambah pada kesehatan manusia. Partikel plastik yang berukuran sangat kecil itu diketahui saat ini telah ditemukan di berbagai komponen lingkungan
“jadi jejak mikroplastik kini, itu banyak ditemukan di berbagai komponen lingkungan. Kondisi saat ini perlu menjadi perhatian serius, karena partikel ini sangat berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan maupun minuman yang kita konsumsi, “ ungkap Sofi.
Materi kemudian mendapat perhatian para peserta. Nuril, salah satu santri kelas 10, mengaku baru mengetahui mikroplastik dapat ditemukan di dalam tubuh manusia.
“Saya kaget dan merasa teredukasi. Baru tahu kalau ada mikroplastik di tubuh kita. Untuk menghindarinya saya akan mengurangi plastik sekali pakai, termasuk pembalut plastik, dan menggantinya dengan pembalut kain,” ujarnya dalam sesi perpendapat.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

#Santri Praktik Membuat Eco Enzyme
Selain membahas persoalan lingkungan, Ecoton juga mengenalkan berbagai solusi pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di lingkungan pesantren. Dalam hal ini praktisi zero waste Ecoton, Tonis Afrianto, menyampaikan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Ia juga menjelaskan pengolahan sampah organik dan penerapan gaya hidup minim sampah sebagai langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap hari. Menurut Tonis, perubahan perilaku menjadi kunci dalam mengurangi beban lingkungan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan workshop pembuatan eco enzyme. Dalam sesi praktik, para santri mempelajari cara mengolah limbah organik dapur menggunakan komposisi bahan yang tepat. Bahan itu kemudian menghasilkan cairan multifungsi yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami maupun pupuk cair.

Antusiasme peserta terlihat selama pelatihan berlangsung. Seperti telihat pada diri Masruro, santri kelas 11. Dalam kesempatnya, ia mengatakan memperoleh pengetahuan baru yang dapat diterapkan langsung di lingkungan pesantren.
“Senang bisa tahu cara membuat eco enzyme dan pupuk kompos organik. Saya dan teman-teman akan memilah sampah dan membuat pupuk kompos di Pondok Pesantren Jalaluddin Ar-Rumi setelah ini,” katanya.
Melalui kolaborasi ini, Pondok Pesantren Jalaluddin Ar-Rumi dan Ecoton berharap kesadaran lingkungan tidak hanya berhenti di ruang seminar. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh para santri diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta mendorong terbentuknya budaya pesantren yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.***