- ECOTON mengedukasi 280 siswa SMAN 1 Mantup melalui MPLS dengan praktik pengamatan mikroplastik menggunakan mikroskop stereo.
- Mikroplastik ditemukan pada seluruh sampel udara, daun, dan permukaan kulit hasil pengamatan di lingkungan sekolah.
- Udara aula selama 10 menit mengandung 6 fiber dan 2 fragmen mikroplastik berdasarkan hasil pengamatan siswa.
- Permukaan kulit peserta menyimpan 9 partikel fiber, memperlihatkan mikroplastik hadir di sekitar aktivitas sehari-hari manusia.
- Sekolah dengan 6 kantin terus mengurangi plastik sekali pakai melalui edukasi dan penggunaan wadah guna ulang.


Penulis: Azmi Latifatul Artantiwi dan Saidatul Rohmah merupkaan mahasiswa Program Studi Biologi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Artikel disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (ECOTON) selama periode 15 Juli-15 Agustus 2026
Sebanyak 280 siswa SMA Negeri 1 Mantup, Kabupaten Lamongan, mengikuti edukasi mengenai bahaya mikroplastik. Acara yang digelar oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) ini sekaligus menjadi bagian dari Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Dalam kegiatan ini, siswa tidak hanya mendengarkan penyampaian materi. Tetapi juga diajak mempraktikkan langsung pengamatan mikroplastik dengan menggunakan mikroskop stereo.
Hasil pengamatan menunjukkan hal yang mengejutkan: mikroplastik ditemukan di seluruh media sampel, mulai dari udara di dalam kelas, udara di aula, daun di sekitar sekolah, hingga permukaan kulit siswa.
Temuan ini memperlihatkan jika remahan plastik itu, tidak hanya mencemari sungai dan laut, tetapi juga sudah merambah ke udara yang dihirup manusia setiap hari.

#Pengamatan Perlihatkan Mikroplastik di Sekitar Siswa
Sesi pembelajaran diawali dengan pemaparan mengenai pengertian mikroplastik, sumber pembentukannya, dampaknya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, hingga contoh keberadaannya pada produk sehari-hari, termasuk produk perawatan kulit.
Penyampaian materi berlangsung interaktif. Setelah sesi teori, setiap kelompok bergantian menggunakan mikroskop stereo guna mengamati sampel daun, udara, kulit wajah, dan kulit tangan.
Pengalaman melihat partikel mikroplastik secara langsung menjadi bagian utama dari proses pembelajaran ini. Siswa melihat langsung partikel mikroplastik menggunakan mikroskop stereo sebagai bagian utama proses pembelajaran.
- Sampel udara di dalam kelas selama 10 menit menunjukkan 1 partikel berbentuk fiber dan 3 fragmen mikroplastik.
- Sampel udara di aula selama 10 menit mengandung 6 partikel berbentuk fiber dan 2 fragmen mikroplastik.
- Pengamatan pada daun menemukan 1 fragmen dan 1 partikel berbentuk fiber mikroplastik.
- Pengamatan pada permukaan kulit menunjukkan 9 partikel berbentuk fiber, membuktikan mikroplastik dapat menempel pada tubuh manusia saat beraktivitas.
Temuan ini menjadi pengingat kuat jika pencemaran mikroplastik berada di dekat kita dan berpotensi berasal dari berbagai aktivitas manusia, termasuk penggunaan plastik sekali pakai serta pembakaran sampah plastik.
#Sekolah Perkuat Pengurangan Plastik Sekali Pakai
Kepala SMAN 1 Mantup, Mukrim, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan bersama ECOTON ini, sejalan dengan Program Sekolah Kreatif dan Inovatif yang diinisiasi oleh Gubernur Jawa Timur. Sekolah terus berupaya membangun budaya yang lebih ramah lingkungan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Program Sekolah Kreatif dan Inovatif sejalan dengan upaya kami dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah,” ujar Mukrim di tengah acara, Kamis (16/7/2026).
Mukrim menjelaskan bahwa sekolah yang dipimpinnya memiliki enam kantin yang saat ini sedang dalam proses mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai. “Salah satu upaya yang kami lakukan adalah menyediakan wadah guna ulang untuk beberapa jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi langsung di kantin,” ucapnya.
Menurut Mukrim, sosialisasi yang dilakukan ECOTON ini memperkuat langkah yang dicita-citakan sekolah karena memberikan pengetahuan sekaligus pengalaman belajar secara langsung kepada siswa.
“Kami berharap kebiasaan mengurangi sampah plastik dapat tumbuh dari lingkungan sekolah dan diterapkan oleh para siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah,” kata Mukrim.
Sebagai bentuk apresiasi, ECOTON memberikan penghargaan kepada 20 siswa yang berhasil membuat poster terbaik mengenai bahaya mikroplastik. Poster-poster tersebut dipilih berdasarkan kreativitas, isi pesan, serta kemampuan menyampaikan informasi pentingnya menjaga lingkungan kepada masyarakat.

#Pengalaman Baru Bangun Kesadaran Siswa
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif mengamati hasil setiap sampel, berdiskusi mengenai asal-usul partikel yang ditemukan, serta menyampaikan pendapat mengenai solusi mengurangi pencemaran plastik.
Mauriz, siswi kelas X SMAN 1 Mantup, mengaku praktik menggunakan mikroskop menjadi pengalaman baru yang membuatnya lebih memahami isu mikroplastik. “Aku senang banget ada kegiatan ini, karena di sekolahku sebelumnya tidak ada praktik seperti ini. Aku jadi tahu tentang mikroplastik,” katanya.
Pengalaman serupa disampaikan oleh Fiyah, siswi baru lainnya. Ia mengaku baru mengetahui bahwa pembakaran sampah plastik di pekarangan rumah dapat menjadi salah satu sumber mikroplastik di udara.
“Sampah di rumah saya biasanya dibakar di pekarangan. Aku baru tahu setelah belajar penelitian mikroplastik ini kalau ternyata salah satu sumber mikroplastik di udara berasal dari pembakaran sampah plastik. Setelah pulang sekolah nanti saya mau bilang ke orang tua kalau bakar sampah itu berbahaya, jadi tidak boleh bakar sampah lagi,” ujarnya.
Melalui kombinasi materi ilmiah, praktik pengamatan, dan diskusi interaktif, ECOTON berharap siswa tidak hanya memahami keberadaan mikroplastik di lingkungan sekitar, sekaligus juga menerapkan kebiasaan baru, menolak plastik sekali pakai serta menghentikan praktik pembakaran sampah di rumah.
Sebagai informasi, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa magang ECOTON dari Universitas Brawijaya (UB) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Program ini merupakan bagian dari Kampanye Offline PlasticEcoCycle Indonesia yang dikembangkan oleh K-Green Foundation (KGF) dengan dukungan Hyundai Motor Group dan Community Chest of Korea.***