Saya selalu percaya setiap dapur punya cerita. Ada yang ceritanya tentang resep keluarga, ada yang tentang cinta yang diracik lewat teh hangat, ada juga yang tentang sisa kulit buah dan sayur yang diam-diam menumpuk di tempat sampah. Dulu saya sama saja seperti banyak orang: habis masak, sisa bahan makanan langsung buang. Beres. Tidak pernah terpikir apa yang terjadi setelahnya. Sampai akhirnya saya kenal Eco Enzyme.
Buat yang belum pernah dengar, Eco Enzyme ini cairan serbaguna hasil fermentasi kulit buah dan sayur dengan gula merah dan air. Cairan ini bisa dipakai macam-macam: pupuk tanaman, pembersih lantai, cairan pengusir bau, bahkan pengganti cairan pembersih kimia rumah tangga. Saya menyebutnya “cairan multi talenta yang lahir dari sisa dapur.” Lucu ya, kulit jeruk yang dulu cuma rebutan semut sekarang jadi bahan andalan.
#Bukan Sekadar Fermentasi, Tapi Cara Baru Menanam Kesadaran Ramah Lingkungan
Sejak kenal Eco Enzyme, saya seperti menemukan “pintu rahasia”. Saya yang dulu sering merasa tidak berdaya terhadap krisis lingkungan, sekarang punya cara kecil yang nyata untuk berbuat sesuatu. Dari situ, lahirlah gagasan Rumah Edukasi Eco Enzyme. Sebuah ruang sederhana di rumah saya tempat orang-orang datang, belajar, mencoba, dan bercerita.
Saya selalu bilang ke teman-teman yang datang: “Di sini kita bukan sekadar bikin cairan, kita sedang belajar menanam kesadaran.” Karena pada dasarnya Eco Enzyme itu sederhana — tapi prosesnya mengajarkan kita banyak hal. Kita belajar sabar menunggu fermentasi tiga bulan, kita belajar telaten merawat, kita belajar menghargai yang selama ini kita anggap tidak berguna.
Di kelas saya, semua terasa dekat dan santai. Tidak ada kursi berderet kayak seminar resmi, tidak ada slide PowerPoint penuh angka-angka. Yang ada hanya kami, lingkaran kecil orang-orang penasaran, wadah plastik berisi kulit buah, dan bau khas fermentasi yang kadang bikin orang meringis lalu tertawa. Saya sengaja membiarkan suasana cair seperti itu. Karena saya ingin setiap orang pulang bukan cuma bawa ilmu, tapi juga bawa semangat baru.
Peserta kelas saya macam-macam. Ada ibu rumah tangga yang pengin hemat biaya pupuk dan pembersih rumah. Ada mahasiswa pecinta lingkungan yang ingin tahu alternatif limbah organik. Ada juga bapak-bapak yang awalnya cuma antar istri, tapi akhirnya ikut ngaduk bahan karena penasaran. Mereka semua ketemu di satu titik: sama-sama pengin rumahnya lebih ramah lingkungan, tapi bingung mulai dari mana.
#Belajar Menyulap Sisa Dapur Jadi Cairan Ajaib, dari Rumah Kita untuk Bumi
Saya sendiri setiap kali kelas selalu ikut turun tangan. Saya menunjukkan cara memotong kulit buah agar fermentasinya lebih sempurna, menakar gula merah, mencampur air, lalu menyimpan di wadah kedap udara. Saya juga menjawab pertanyaan peserta: “Kalau baunya asam gimana?” “Kalau keluar jamur putih gimana?” Semua saya jawab dengan bahasa sehari-hari, tanpa jargon ribet. Saya ingin Eco Enzyme terasa sebagai “teman dapur” yang akrab, bukan “proyek ilmiah” yang bikin takut.
Yang menarik, setiap kali kelas, selalu ada cerita lucu. Pernah ada peserta yang mengira Eco Enzyme bisa diminum seperti jamu karena baunya asam segar. Ada yang bawa bahan sekarung kulit nanas, bikin ruangan jadi super wangi. Ada juga yang saking semangatnya malah salah takar gula merah. Semua jadi bahan tawa. Saya selalu bilang: “Proses ini bukan cuma soal hasil, tapi soal kita belajar bareng.”
Di balik semua itu, ada filosofi yang saya pegang: rumah kita bisa jadi bagian dari penyembuh bumi. Kita enggak perlu punya lahan 2 hektare, enggak perlu punya dana CSR. Cukup mulai dari dapur kita sendiri. Dari kulit jeruk di meja makan, dari sisa sayur yang belum sempat dimasak. Setiap yang tersisa bisa lahir kembali dalam bentuk kebaikan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelSaya sering cerita ke peserta kelas: Indonesia ini menghasilkan jutaan ton sampah setiap tahun. Sebagian besar sampah organik. Bayangkan kalau setengahnya saja kita olah jadi Eco Enzyme. Betapa banyak TPA yang berkurang bebannya. Betapa banyak tanah dan air yang lebih sehat. Betapa banyak rumah yang jadi laboratorium kecil penyembuh bumi. Mungkin terdengar muluk, tapi semua perubahan besar memang dimulai dari langkah kecil.
Saya juga belajar banyak dari peserta kelas. Ada yang cerita Eco Enzyme bikin tanaman di rumahnya lebih subur. Ada yang berhasil mengganti hampir semua cairan pembersih kimia dengan Eco Enzyme buatan sendiri. Ada yang jadi inspirasi tetangganya, sampai satu RT ikut bikin. Rasanya seperti menonton benih tumbuh jadi pohon. Saya bahagia karena ternyata misi kecil ini bisa menjalar jauh.
#Belajar Sabar Bersama Fermentasi, Saling Menguatkan dalam Belajar
Proses menunggu fermentasi Eco Enzyme juga mengajarkan kita nilai sabar. Kita tidak bisa memaksa cairan jadi lebih cepat. Sama seperti bumi, dia butuh waktu untuk sembuh. Saat kita menunggu, kita belajar memperlambat ritme hidup, menghargai proses, dan memberi ruang pada alam untuk bekerja. Dalam dunia yang serba instan ini, fermentasi Eco Enzyme seperti pelajaran hidup kecil yang membumi.
Saya tahu tidak semua orang langsung bisa rutin bikin Eco Enzyme. Tapi saya percaya, begitu orang melihat hasilnya, mereka akan ketagihan. Karena selain ramah lingkungan, Eco Enzyme juga hemat. Sisa dapur yang tadinya cuma beban, sekarang jadi bahan bernilai. Cairan yang tadinya kita beli, sekarang kita buat sendiri. Ada kepuasan tersendiri di situ.
Yang paling saya syukuri, Rumah Edukasi Eco Enzyme sekarang bukan cuma tempat belajar, tapi juga tempat saling menguatkan. Kita jadi komunitas kecil yang saling berbagi tips, resep, dan cerita. Kadang saya merasa ini seperti arisan ide: setiap pertemuan selalu ada inspirasi baru.
Kalau kamu tertarik ikut, pintu rumah saya selalu terbuka. Kita akan belajar bareng, menikmati prosesnya, dan sama-sama menjadikan rumah kita bagian dari penyembuh bumi. Tidak perlu takut, tidak perlu malu, tidak perlu merasa “saya tidak punya ilmu”. Yang penting punya niat baik dan mau mencoba. Selebihnya kita belajar bareng.
Saya percaya setiap rumah punya kekuatan kecil yang bila dikumpulkan bersama bisa jadi kekuatan besar untuk bumi kita. Karena kadang, menyelamatkan bumi tidak harus dimulai dari konferensi besar atau kebijakan rumit. Bisa dimulai dari dapur. Dari kita sendiri. Dari kulit buah yang kita rawat dengan cinta.
Dan kalau suatu hari kamu mencium bau fermentasi kulit jeruk dari dapurmu sendiri, lalu tersenyum karena sadar sedang merawat bumi, percayalah — bumi juga sedang tersenyum balik ke kamu.***
Wayan Yuli Ekayani, pemilik Rumah Edukasi Eco Enzyme berkontribusi dalam artikel ini | Editor : Supriyadi