Dari ruang kuliah hingga tepian sungai tercemar, Anastasia berbagi pengalaman meneliti kualitas air, mikroplastik, dan menemukan realitas pencemaran yang jauh lebih kompleks.
Anastasia tak pernah menyangka ketertarikannya pada isu lingkungan akan membawanya menyusuri tepian sungai yang dipenuhi sampah, mengoperasikan alat uji kualitas air, hingga meneliti mikroplastik yang nyaris tak terlihat oleh mata. Mahasiswa perempuan masuk usia 20 tahun asal Medan, Sumatera Utara, itu kini menempuh semester enam Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya. Sejak awal, ia bercita-cita berkarier di bidang Health, Safety, and Environment (HSE), terutama pada aspek perlindungan lingkungan.
Ketertarikannya terhadap isu perairan tumbuh setelah mengunjungi kawasan industri di Sei Mangkei, Sumatera Utara. Saat itu, ia melihat vegetasi yang berkurang dan tanah yang tampak lebih kering dibandingkan wilayah sekitarnya. Pengalaman itu memunculkan pertanyaan tentang dampak aktivitas industri terhadap lingkungan. Rasa ingin tahu itulah yang kemudian mengantarkannya memilih Manajemen Sumber Daya Perairan sebagai bidang studi.
Kesempatan belajar di luar ruang kelas datang ketika Anastasia mengikuti Program Magang Berdampak di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON), lembaga yang bergerak dalam konservasi lahan basah dan perlindungan sungai.
Ia menjalani magang pada 5 Februari–5 Juni 2026, kemudian melanjutkan Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada 1 Juli–11 Agustus 2026. Selama hampir enam bulan, ia terlibat dalam pengujian kualitas air, analisis mikroplastik, edukasi lingkungan, hingga pemantauan kondisi sungai di berbagai lokasi.
Pengalaman tersebut juga menjadi bekal dalam penyusunan penelitian mengenai kualitas air sungai, termasuk “Analisis Status Mutu Air Kali Tebu Menggunakan Metode Indeks Pencemaran” serta “Analisis Kualitas Air Kali Surabaya di Sekitar Outlet Limbah Industri Kertas Berdasarkan Parameter Fisika-Kimia” yang disusun bersama Farida Febriani Tampubolon, teman seangkatan.
Bagi Anastasia, pengalaman terjun langsung ke lapangan mengubah cara pandangnya terhadap persoalan pencemaran sungai. Apa yang selama ini dipelajari melalui teori ternyata jauh lebih kompleks ketika dihadapkan pada kondisi nyata.
Dalam wawancara bersama TitikTerang berikut, ia menceritakan perjalanan akademiknya, pengalaman selama magang di ECOTON, hingga pandangannya mengenai tantangan pengelolaan sungai di Indonesia.[*]

Bisa memperkenalkan diri terlebih dahulu? Berasal dari daerah mana? Saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi mana? Universitas Brawijaya. Mengambil program studi apa dan saat ini berada di semester berapa?
Nama saya Tripani Anastasia Togatorop, Usia 20 Tahun. Medan, Sumatera Utara. Manajemen Sumberdaya Perairan, Semester 6 di Universitas Brawijaya.
Mengapa memilih jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan?
Memiliki ketertarikan pada bidang Health, Safety, and Environment, ingin mempelajari pengelolaan lingkungan dan kualitas perairan, mendalami analisis kualitas air, pencemaran lingkungan, serta pengelolaan limbah. Pengetahuan tersebut selaras dengan bidang Health, Safety, and Environment (HSE), khususnya pada aspek Environment, sehingga mendorong saya untuk berkarier di bidang tersebut.
Apakah sejak awal memang tertarik pada isu lingkungan dan perairan, atau ada pengalaman tertentu yang memengaruhi pilihan tersebut?
Ya, awalnya memang tertarik dengan lingkungan karna memang lingkungan menjadi salah satu isu global yang paling dibahas dibeberapa tahun terakhir, khususnya pada lingkungan perairan. Untuk pengalaman ada, jadi awalnya saya pernah mengunjungi beberapa perusahaan kawasan industri di Sei Mangkei Sumatera Utara.
Jadi dari situ saya melihat bahwa pada kawasan industri dan di sekitarannya tanah itu kering, vegetasi berkurang banyak sekali. Dan saya menyimpulkan bahwa sepertinya terdapat perubahan sifat tanah yang mungkin terjadi akibat limbah industri.
Ini sebenarnya fatal jika terus terjadi, karena apabila vegetasi berkurang maka tanah lebih cepat kehilangan air melalui penguapan dan lebih rentan menjadi kering. Pengolahan limbah tidak tepat dapat mengubah struktur tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air menurun, dan pengaspalan/beton jalan dapat mengakibatkan air hujan sulit meresap ke dalam tanah sehingga pengisian kembali cadangan air tanah berkurang.
Mungkin itu yang terlintas pada saat itu di pikiran saya.

Selama kuliah, mata kuliah atau penelitian apa yang paling berkesan?
Mata kuliah yang paling berkesan bagi saya adalah Pencemaran Perairan. Karena saya belajar mengenai sumber pencemaran, dampaknya terhadap lingkungan, serta metode pemantauan kualitas air.
Melalui mata kuliah tersebut saya memahami pentingnya pengelolaan limbah, kepatuhan terhadap baku mutu lingkungan, dan upaya pencegahan pencemaran. Ilmu tersebut sangat relevan dengan bidang Health, Safety, and Environment (HSE), khususnya pada aspek pengelolaan lingkungan.
Bagaimana awalnya bisa bergabung sebagai mahasiswa magang di ECOTON?
Jadi saat itu postingan Ecoton terkait air hujan di Malang mengandung mikroplastik trending, dan saya sempat mengunjungi profil Ecoton yang menarik bergerak di bidang lingkungan sungai khususnya dan mikroplastik. Dan kebetulan Ecoton merupakan mitra dari fakultas saya sendiri, saat semester 5 ada program MANGANG BERDAMPAK yang membolehkan mahasiswa untuk praktik langsung melalui magang MAGANG BERDAMPAK. Dari kesempatan itulah saya memilih Ecoton untuk mendapatkan pengalaman langsung.
Sudah berapa lama menjalani program magang di ECOTON?
Lumayan lama, mulai dari MAGANG BERDAMPAK 4 bulan dari 05 februari- 05 juni 2026, dan berkesempatan melanjutkan PKL selama 1 bulan mulai 01 Juli-11 Agustus.
Apa tugas dan tanggung jawab yang paling sering dilakukan selama magang?
Sebenarnya banyak sekali, tapi kalau yg paling sering pengujian kualitas air sungai apakah sesuai baku mutu atau tidak.
Apa hal baru yang paling banyak dipelajari selama berada di ECOTON?
Selama di ECOTON, saya banyak belajar tentang pengujian kualitas air, baik di lapangan maupun di laboratorium. Saya juga diberi kesempatan untuk mengoperasikan berbagai alat secara langsung sehingga kemampuan teknis saya semakin meningkat. Selain itu, saya mempelajari analisis dan identifikasi mikroplastik pada sampel air, kulit, serta peralatan rumah tangga.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Awalnya saya cukup terkejut mengetahui bahwa mikroplastik dapat ditemukan di banyak media. Dan memiliki dampak yang serius terhadap lingkungan maupun kesehatan. Tidak hanya itu, saya juga terlibat dalam kegiatan edukasi ke sekolah-sekolah dan masyarakat.
Saya sangat menikmati kesempatan untuk menyampaikan materi mengenai mikroplastik dan kualitas air kepada siswa SD, SMP, maupun kelompok masyarakat. Selain itu, saya mengikuti seminar, diskusi ilmiah, kunjungan lapangan, serta kegiatan advokasi lingkungan.
Jadi pengalaman itu membuat saya tidak hanya berkembang secara teknis, tetapi juga meningkatkan kemampuan komunikasi, kerja sama, dan kepedulian terhadap isu lingkungan.
Selama terlibat di Kali Tebu, seperti apa kesan pertama yang dirasakan?
Kesan pertama saya cukup prihatin. Saya melihat banyak timbunan sampah di badan sungai dan kondisi air yang keruh serta berbau. Dari situ saya menyadari bahwa pencemaran sungai masih menjadi masalah yang serius dan membutuhkan penanganan bersama.
Apa saja kegiatan yang dilakukan di Kali Tebu?
Saya melakukan pengambilan sampel air, pengukuran kualitas air secara langsung di lapangan, dokumentasi kondisi sungai, identifikasi timbunan sampah, serta membantu analisis sampel di laboratorium.
Temuan apa yang paling membuat Anda terkejut selama berada di lapangan?
Yang paling membuat saya terkejut adalah banyaknya timbunan sampah di sungai serta hasil pengujian yang menunjukkan beberapa parameter kualitas air telah melewati baku mutu. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi sungai memang memerlukan perhatian yang serius.
Bagaimana kondisi sungai yang Anda lihat dibandingkan dengan yang selama ini dipelajari di bangku kuliah?
Selama kuliah saya mempelajari pencemaran sungai melalui teori dan jurnal. Namun, ketika melihat langsung di lapangan, saya menyadari bahwa kondisi sebenarnya jauh lebih kompleks karena melibatkan faktor lingkungan, aktivitas masyarakat, dan pengelolaan limbah.
Adakah pengalaman yang paling berkesan atau tidak terlupakan selama melakukan pemantauan di Kali Tebu?
Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika melakukan pengambilan sampel dan melihat secara langsung kondisi sungai yang dipenuhi sampah. Pengalaman tersebut membuat saya semakin sadar bahwa menjaga kualitas lingkungan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.

Apa tantangan terbesar saat bekerja di lapangan?
Tantangan terbesar adalah. hemm… bekerja di bawah cuaca yang tidak menentu, medan yang cukup sulit karena banyak timbunan sampah, serta tetap memastikan proses pengambilan sampel dilakukan sesuai prosedur agar hasil pengujian tetap akurat.
Setelah menjalani magang, apakah pandangan Anda terhadap persoalan pencemaran sungai berubah?
Ya. Saya menjadi lebih sadar bahwa pencemaran sungai bukan hanya masalah sampah. Tetapi juga berkaitan dengan limbah, pengawasan, dan kesadaran masyarakat. Penanganannya membutuhkan kolaborasi dari semua pihak.
Menurut Anda, apa yang paling mendesak dilakukan untuk memperbaiki kondisi sungai di Indonesia?
Menurut saya, yang paling mendesak adalah meningkatkan pengawasan (pemerintah) terhadap sumber pencemar, memperbaiki pengelolaan limbah, serta memperkuat edukasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.
Apa harapan Anda setelah menyelesaikan magang di ECOTON?
Saya berharap ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dapat saya terapkan di dunia kerja, khususnya di bidang Health, Safety, and Environment (HSE), serta dapat berkontribusi dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan.
Apakah pengalaman ini memengaruhi rencana karier atau cita-cita Anda ke depan?
Ya, pengalaman ini semakin memantapkan saya untuk berkarier di bidang HSE, khususnya pada aspek lingkungan. Saya ingin terlibat dalam memastikan kegiatan industri berjalan sesuai standar keselamatan dan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Pesan apa yang ingin disampaikan kepada mahasiswa lain agar lebih peduli terhadap sungai dan lingkungan?
Jangan hanya mempelajari lingkungan dari teori. Cobalah turun langsung ke lapangan karena kita akan melihat kondisi yang sebenarnya. Dari sana kita akan lebih memahami pentingnya menjaga lingkungan dan menyadari bahwa perubahan kecil yang kita lakukan dapat memberikan dampak yang besar.***