- Gempa magnitudo 5,7 mengguncang NTT Sabtu pagi, episenter berada 56 kilometer timur laut Ruteng Manggarai.
- BMKG mencatat gempa magnitudo 5,7 di NTT dengan kedalaman 10 kilometer pada Sabtu pagi.
- Guncangan gempa magnitudo 5,7 tercatat pukul 05.27 WIB, berpusat sekitar 56 kilometer dari Ruteng.
- Gempa dangkal magnitudo 5,7 mengguncang wilayah Manggarai NTT, BMKG menyebut kedalaman mencapai 10 kilometer.
- Gempa magnitudo 5,7 mengguncang NTT, data awal BMKG masih dapat berubah seiring kelengkapan informasi.
MUHAMMADIYAH Disaster Management Center (MDMC) bersama Lazismu menyiapkan respons kemanusiaan setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi.
MDMC Jawa Timur menyiapkan dua relawan dan satu personel media untuk bergabung dengan tim Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam melakukan asesmen di wilayah terdampak. Selain itu, satu tim medis dari Jawa Timur disiapkan untuk mendukung Emergency Medical Team (EMT) Pimpinan Pusat.
Ketua MDMC Jawa Timur Muhammad Rofi’i mengatakan pengiriman personel tersebut merupakan bagian dari koordinasi respons awal bersama Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
“Untuk Jawa Timur, kami menyiapkan dua relawan dan satu personel media untuk mendampingi tim Pimpinan Pusat dalam melakukan asesmen. Kami juga menyiapkan satu tim medis untuk mendampingi Emergency Medical Team (EMT) Pimpinan Pusat,” kata Rofi’i, dikutip dari pwmu.co, Sabtu (15/8/2026).
Menurut dia, asesmen menjadi tahap penting dalam penanganan bencana karena bantuan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.
“Respons bencana harus berbasis kebutuhan di lapangan. Kita tidak ingin bantuan datang sekadar banyak, tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan penyintas. Karena itu, asesmen menjadi langkah awal yang sangat penting,” ujarnya.
Gempa terjadi pada pukul 04.58.23 WIB. Berdasarkan informasi yang menjadi dasar respons MDMC, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut memiliki kedalaman 15 kilometer dengan episenter di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT.
Gempa juga memicu peringatan tsunami untuk sejumlah wilayah di NTT. Situasi tersebut membuat pemantauan kondisi lapangan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat menjadi bagian penting dalam respons awal.
Salah satu lokasi evakuasi dan posko sementara berada di SMK Muhammadiyah Manggarai Timur. Dari lokasi tersebut, kebutuhan masyarakat terdampak mulai dipetakan untuk mendukung penanganan darurat.

#Shelter dan kebutuhan dasar menjadi prioritas
Di Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, kebutuhan tempat tinggal sementara menjadi salah satu prioritas dalam tanggap darurat.
Kebutuhan shelter meliputi tenda keluarga atau tenda peleton, terpal, tikar, selimut, sarung, hingga matras atau kasur lipat.
Untuk kebutuhan pangan, masyarakat membutuhkan beras, mi instan, makanan kaleng atau makanan siap saji, air minum, biskuit, roti, makanan tinggi kalori, susu bayi, makanan pendamping ASI (MPASI), minyak goreng, gula, serta perlengkapan dapur lainnya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Kebutuhan sanitasi juga menjadi perhatian, antara lain sabun mandi, sampo, sikat dan pasta gigi, deterjen, pembalut, popok bayi dan lansia, tisu, serta akses air bersih untuk mandi dan kebutuhan sanitasi.
Sementara untuk sektor kesehatan, kebutuhan awal mencakup perban, kasa, plester, antiseptik, obat-obatan umum, dan masker medis.
Gangguan penerangan dan komunikasi di lokasi pengungsian juga diantisipasi dengan penyediaan lampu darurat, senter, genset, kabel rol, stopkontak, serta powerbank.
“Dalam kondisi darurat, hal-hal yang terlihat sederhana justru sangat menentukan. Air bersih, makanan, penerangan, tempat tidur, perlengkapan bayi, hingga sarana komunikasi adalah kebutuhan dasar yang harus dipastikan tersedia,” kata Rofi’i.
Selain pengerahan relawan dan tenaga medis, Lazismu Jawa Timur disiapkan untuk mendukung kebutuhan makanan siap saji bagi masyarakat terdampak.
Rofi’i menegaskan penanganan gempa NTT membutuhkan koordinasi lintas unsur, mulai dari MDMC, Lazismu, pimpinan Muhammadiyah, relawan, tenaga medis hingga mitra kemanusiaan.
“Ini bukan hanya soal mengirim bantuan. Yang lebih penting adalah memastikan seluruh jaringan Muhammadiyah bergerak dalam satu koordinasi, sehingga energi kemanusiaan yang kita miliki benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, relawan tidak hanya bertugas menyalurkan bantuan. Mereka juga berperan mengumpulkan informasi mengenai kondisi penyintas dan kebutuhan di lapangan sebagai dasar menentukan langkah berikutnya.
“Kecepatan itu penting, tetapi kemanusiaan membutuhkan lebih dari sekadar cepat. Kita harus hadir dengan data, koordinasi, tenaga, dan kepedulian. Itulah yang sedang kami siapkan,” tegas Rofi’i.***