Lewati ke konten

Aksi Muda untuk Kali Surabaya: Meluruskan Fakta, Melawan Limbah, Menjaga Masa Depan

| 6 menit baca |Pelajar Mbois | 29 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Seberapa penting Sungai Brantas? Dari air baku hingga pertanian Jawa Timur, Arlyn Nazwa mengulas peran vitalnya bagi kita.
  • Mengenal Kali Surabaya lebih dekat bersama Fardan Aryo: pelurus mitos geografi, ancaman limbah, hingga aksi nyata tebar benih.
  • Bukan cuma tugas pemerintah! Pelajar MA Raden Paku dan SMAN 1 Driyorejo ajak kita bergerak merawat Kali Surabaya.
  • Tebar 15.000 benih ikan endemik: intip keseruan dan aksi kolaborasi anak muda menjaga kelestarian ekosistem Kali Surabaya.
  • Dari sejarah Bendungan Brantas hingga ancaman limbah industri, simak refleksi kritis dua pelajar Driyorejo dan Wringinanom demi sungai.

SUNGAI Brantas dan anak alirannya, Kali Surabaya, bukan cuma aliran air yang membelah kawasan Jawa Timur. Sungai ini adalah tulang punggung kehidupan yang menyuplai air bersih, menopang pertanian, serta menjadi habitat bagi beragam fauna air lokal. Sayangnya, ancaman limbah industri dan tumpukan sampah plastik kini membayangi kelestariannya.

Melihat kondisi tersebut, para pelajar yang berada di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) tidak tinggal diam. Melalui dua tulisannya, Arlyn Nazwa Cahyani (MA Raden Paku Wringinanom) dan Fardan Aryo Wibowo (SMAN 1 Driyorejo) membagikan catatannya, selama mengikuti kegiatan Kali Surabaya Festival 2026, yang digelar di Taman Suaka Ikan, 21-25 September 2026 .

Mulai dari mengulas sejarah dan peran vital Sungai Brantas, meluruskan pemahaman geografis Kali Surabaya, hingga membagikan keseruan aksi nyata pelepasan ribuan benih ikan endemik bersama komunitas lingkungan. Karya ini menjadi ajakan terbuka bagi kita semua untuk lebih peduli dan terlibat aktif menjaga kelestarian sungai demi masa depan bersama.[]

 #Seberapa Penting Sungai Brantas Buat Kita?

Arlyn Nazwa Cahyani
Kelas: XI IPA | MA Raden Paku Wringinanom

KALAU ditanya seberapa penting Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, jawabannya: penting banget! Buat kita yang tinggal di Jawa Timur, khususnya daerah Wringinanom yang dilintasi alirannya, yang kemudian disebut Kali Surabaya,  tuh bukan hanya bentangan air yang kita lihat. Ini adalah sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo, sekaligus alasan kenapa Jawa Timur bisa jadi lumbung pangan nasional.

BACA JUGA:  DAS Brantas Masih Disembur Limbah, Prigi Arisandi: Pertobatan Ekologi Cuma Slogan

Berawal dari sumbernya di Arboretum Sumber Brantas (Kota Batu), sungai ini mengalir memutar melewati Malang, Kediri, Mojokerto, sampai akhirnya terbelah jadi Kali Surabaya ke Surabaya dan Kali Porong ke Sidoarjo. Pengelolaan airnya sendiri berada di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Kalau kita baca-baca mencakup sampai 19 kabupaten/kota.

Sejak rencana pembangunan tahun 1960-an untuk mengatasi banjir Gunung Kelud dan kekeringan, bendungan-bendungan megah kayak Karangkates (Ir. Sutami), Selorejo, dan Wlingi dibangun untuk menyokong kehidupan kita sampai hari ini.

Sebagai bagian dari aliran yang sering kita sebut Kali Surabaya, fungsi sungai ini tuh vital banget:

  • Sumber Air Bersih: Menjadi pasokan utama air minum jutaan warga yang diolah PDAM.
  • Pengendali Banjir: Sungai yang bersih memperlancar aliran air dan mencegah genangan pas musim hujan.
  • Rumah Ekosistem: Menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan lokal dan keanekaragaman hayati.
  • Penopang Ekonomi: Mulai dari nelayan tradisional sampai potensi wisata air bergantung di sini.

Melihat banyaknya manfaat itu, menjaga Kali Surabaya jelas bukan cuma tugas petugas BBWS atau pemerintah aja, tapi tanggung jawab kita bersama. Menurut artikel “Ruwatan Kali, Agar Kebersihan Kali Surabaya Terus Terjaga” di suarasurabaya.net, selain langkah pemantauan kapasitas pencemaran dan patroli air oleh pihak berwenang, kita sebagai warga dan pelajar juga bisa ikut bertindak melalui hal-hal sederhana:

  1. Jangan Buang Sampah ke Sungai: Biasakan memilah sampah dari rumah biar enggak hanyut ke saluran air.
  2. Olahraga Limbah Cair dengan Bener: Industri maupun pemukiman wajib mengolah limbah sebelum dibuang ke sungai.
  3. Jaga Bantaran Sungai: Hindari mendirikan bangunan di sempadan sungai biar alirannya enggak tersumbat.
  4. Lindungi Biota Air: Stop tangkap ikan pakai setrum listrik atau bahan kimia/potasium.
  5. Aktif Kerja Bakti: Ikut gotong royong membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar sungai.
BACA JUGA:  Simbol Guna Ulang Global Diluncurkan, Sistem 'Reverse Logistics' Indonesia Masih Nihil

Yuk, mulai dari sekarang kita jaga bareng-bareng. Kalau sungainya bersih dan sehat, manfaatnya juga bakal balik ke kita sendiri!***

AKSI BELA SUNGAI: Sejumlah siswa SMA pamer poster buatan sendiri yang isinya kritik tajam soal pencemaran lingkungan, mulai dari “INDONESIA GELAP SAMPAH PLASTIK MELUAP” sampai pesan lokal “WAYAHE BESUK SUNGAI BRANTAS”. Lewat poster-poster kreatif ini, anak-anak muda pengen nyuarain keresahan mereka soal limbah industri dan sampah plastik yang bikin ekosistem sungai makin kritis. Saatnya kita yang muda ikut ambil bagian dan enggak cuma diam ngeliat sungai kita dirusak! | Foto: Supriyadi

#Mengenal Lebih Dekat tentang Kali Surabaya

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Fardan Aryo Wibowo
Kelas XI | SMAN 1 Driyorejo

BANYAK orang yang sering keliru membedakan antara Kali Surabaya, Kali Mas, sama Sungai Brantas. Padahal, ketiganya punya lokasi dan bentangan air yang beda. Kalau Kali Surabaya, alirannya membentang dari Mlirip di Mojokerto sampai ke Surabaya. Nah, pas sampai di Surabaya, alirannya terbelah jadi dua arah:

  • Ke arah utara jadi Kali Mas: Aliran ini membelah tengah Kota Surabaya, melewati kawasan Gubeng, Jembatan Merah, sampai bermuara di Pelabuhan Tanjung Perak (Selat Madura).
  • Ke arah timur jadi Kali Jagir (Kali Wonokromo): Aliran kanal buatan ini mengalir melewati kawasan Jagir, ruko-ruko Panjang Jiwo, sampai bermuara di pesisir mangrove Wonorejo, Rungkut.

Sepanjang bentangan alirannya yang cukup panjang dari Mojokerto sampai Surabaya, memiliki panjang 42 kilometer. Sungai ini dimanfaatkan buat mengairi sawah, kebutuhan industri, sampai mendukung aktivitas harian warga. Bahkan ada yang menjadikan sungai ini sebagai sumber mata pencaharian, seperti membuka jasa perahu penyeberangan (nambang) hingga mencari bahan pangan. Flora dan faunanya juga beragam banget, mulai dari berbagai tanaman di tepi sungai sampai keanekaragaman ikan lokal.

Tapi akhir-akhir ini, Kali Surabaya lagi menghadapi masalah serius, yaitu pencemaran air. Penyebab utamanya mulai dari pengelolaan limbah industri yang ugal-ugalan sampai kebiasaan kecil yang sering tak disadari: membuang sampah ke sungai. Akibatnya, keberadaan flora dan fauna di sini terus berkurang. Ikan-ikan lokal khas kayak papar, jendil, dan rengik makin sulit ditemui dan terancam habis.

BACA JUGA:  Mahasiswa Susun Kajian Fish Sanctuary, Sherly Ingatkan Bata Putih Risiko Ganggu Kualitas Air

Kabar baiknya, masyarakat sekitar enggak tinggal diam. Banyak pihak yang bergerak buat memulihkan ekosistem dan keanekaragaman hayati sungai ini. Salah satunya lewat aksi pemulihan biota air dengan menebar sekitar 15.000 benih ikan endemik—seperti ikan tombro, jendil, dan baung.

Gerakan ini merupakan hasil kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari warga lokal, ECOTON Foundation, Petrokimia Gresik melalui program Petrotirta, sampai keterlibatan anak-anak muda dari SMAN 1 Driyorejo, MA Raden Paku, SMKN 1 Driyorejo, serta sekolah-sekolah lainnya.

“Kukira bakal membosankan, tapi setelah ikut program dan kegiatan yang ada, ternyata seru dan asik,” ujar Zhaky Fharel, siswa dari MA Raden Paku, teman kita saat mengikuti tebar benih, Jumat, 11 September 2026.

Kegiatan seperti ini enggak cuma berdampak positif buat memulihkan kondisi Kali Surabaya, tapi juga memberi manfaat besar buat kita para pelajar yang terlibat. Selain bisa ambil bagian dalam aksi nyata menjaga lingkungan, kita juga dapat ilmu baru dan menambah relasi. Yuk, saatnya kita ikut ambil peran merawat sungai kita!***

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan bagian dari kolaborasi antara Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) dan PT Petrokimia Gresik (Persero) melalui Program Petro Tirta.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *