- Album LARA(NGAN) resmi meluncur menjelang peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.
- Karya musik ini merespons keresahan atas isu sosial, politik, dan ekologi Nusantara.
- Komposer Rani Jambak menyisipkan rekaman suara aksi demonstrasi ke dalam karya album.
- Aksi protes seniman dilakukan lewat medium eksperimentasi bunyi dan peluncuran album musik.
- Peneliti musik independen ini memadukan isu lingkungan dengan penelitian arsip etnomusikologi.
MOMENTUM peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Indonesia terasa berbeda di berbagai penjuru wilayah. Di Aceh, masyarakat mengingatkan persoalan implementasi perjanjian damai Helsinki yang dinilai belum tuntas. Sementara di Jakarta, sehari setelah peringatan kemerdekaan, mahasiswa UI dan elemen sipil menggelar aksi #MerebutKemerdekaan untuk menuntut keadilan sosial. Di tengah gelombang protes tersebut, komposer Rani Jambak memilih jalan perlawanan artistik melalui karya musik eksperimental.
Rani merilis album bertajuk LARA(NGAN) melalui label nirlaba Yes No Wave Music pada 10 Agustus 2026. Album ini diproduksi dengan gabungan emosi lirih dan amarah atas kondisi politik serta lingkungan. “Musisi, selain bisa ikut demonstrasi, juga bisa melahirkan karya-karya tentang perlawanan,” kata Rani saat menjelaskan latar belakang karya terbarunya. Rani sebelumnya juga terlibat langsung dalam aksi “Liburan Tetap Melawan” di Bundaran UGM bersama komunitas Ibu Berisik pada 3 Juli lalu.
#Konstruksi Makna dan Eksplorasi Komposisi Bunyi
Judul LARA(NGAN) mempertemukan dua kata kunci dalam kosmologi Nusantara, yaitu larangan dan lara. Larangan memaknai batas yang menjaga hubungan manusia dengan alam, adat, dan dimensi spiritual. Pelanggaran terhadap batas tersebut memicu munculnya lara berupa kerusakan tanah dan penderitaan manusia. Rasa gelisah itu diwujudkan dengan memasukkan rekaman lapangan aksi demonstrasi ke dalam album agar pendengar menangkap pesan kritik secara intuitif.
Struktur album LARA(NGAN) terdiri atas tujuh komposisi yang disusun membentuk alur eskalasi emosi secara bertahap. Komposisi pertama, Pedogenesis, mengkritik keserakahan manusia dalam mengeksploitasi kekayaan alam Sumatera demi mengejar keuntungan materiil. “Tanah yang menyuburkan tanaman dan melahirkan keanekaragaman hayati jauh lebih penting daripada emas. Kita bernapas dengan oksigen, bukan emas,” tegas Rani.
Selanjutnya, komposisi Mikroseisme mengambil metafora getaran kecil bumi yang hanya terdeteksi oleh alat seismograf. Komposisi ini menggambarkan suara rakyat kecil yang gagal didengar oleh penguasa akibat pengabaian sistematis. Alur emosi berlanjut pada Regang, Saseso, dan Abih Raso, yang menggambarkan keputusasaan serta rasa sakit bersama akibat hilangnya empati. Album ini kemudian ditutup oleh Kun dan Utopia yang membawa bayangan pemulihan bumi dan perdamaian.
#Pengembangan Karier dan Penyelidikan Arsip Kolonial
Rani dikenal sebagai komposer, produser, field recordist, perancang instrumen, dan vokalis berdarah Minangkabau lahir Medan. Ia konsisten menjadikan bunyi sebagai instrumen membaca kebudayaan serta fenomena sosial masyarakat. Karyanya seperti Kincia Aia mengolah kincir air tradisional menjadi instrumen bersensor, sedangkan Pamedangan mempertemukan sulam tradisional dengan komposisi audio. Inovasi ini mengantarkan Rani meraih penghargaan internasional The Oram Awards 2022 di Inggris.
Eksplorasi isu ekologis Rani pernah dibawakan ke tingkat internasional melalui ajang Sounds from Sumatra in Melbourne pada Desember 2025. Saat itu, Rani membawa pesan duka atas bencana ekologi dan kerusakan alam Sumatera ke panggung dunia. Kini, ia memperdalam praktik tersebut melalui studi doktoral Sound Heritage dalam program Re:Sound kerja sama UGM dan Universiteit van Amsterdam.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

Mulai akhir Agustus 2026, Rani akan menetap di Amsterdam selama setahun untuk meneliti arsip Jaap Kunst. Penelitian terhadap rekaman etnomusikolog Belanda periode 1919–1934 ini berfokus pada isu dekolonisasi dan repatriasi pengetahuan. Rani mempertanyakan kembali dominasi narasi sejarah kolonial yang mengabaikan kearifan lokal. Ia menilai pola peminggiran suara masyarakat adat pada masa lalu masih terus berulang dalam bentuk baru hingga sekarang.
#Sesi Apresiasi dan Manifestasi Demonstrasi Audio
Sebagai bentuk penyebaran gagasan, Rani menggelar listening session intim di Emma, sebuah bar kecil di Medan pada 14 Agustus. Di hadapan penikmat musik, ia membeberkan konsep utama di balik tujuh komposisi lagu. Ia mempertanyakan jargon “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” yang dinilai tidak dirasakan manfaatnya secara adil oleh masyarakat di berbagai daerah.
Keputusan merilis album sebelum 17 Agustus diambil karena rasa prihatin melihat kondisi perayaan kemerdekaan tahun ini. Rani menilai kesadaran kolektif untuk berjuang harus terus dijaga dan diperingatkan melalui berbagai medium. Album LARA(NGAN) hadir bukan untuk menggantikan aksi massa di jalanan, melainkan sebagai bentuk kontribusi seniman dalam merawat ingatan publik.
Melalui rilis daring yang dapat diakses luas, album LARA(NGAN) memosisikan diri sebagai bentuk demonstrasi yang direkam. Karya ini menjadi arsip protes yang dapat diputar, didengar, dan diresapi kembali secara terus-menerus oleh masyarakat. Bunyi dijadikan alat perjuangan yang tidak akan usai meski massa aksi telah membubarkan diri dari jalanan.***