Lewati ke konten

Kopi Ekselsa Wonosalam Jombang, Oase Khas dari Gunung Anjarmara

| 4 menit baca |Ide | 10 dibaca

JOMBANG – Kalau kamu pernah main ke Wonosalam, Jombang, biasanya yang jadi oleh-oleh utama adalah durian montong super legit. Tapi belakangan, ada bintang baru yang pelan-pelan mencuri perhatian: kopi Ekselsa. Kopi ini lahir dari tanah pegunungan Anjarmara, dengan aroma yang lebih lembut daripada Robusta, tapi juga lebih “nendang” daripada Arabika. Cocok buat mereka yang nggak mau ribet milih, tapi pengin tetap gaya kalau nongkrong sambil bilang, “Aku penikmat kopi Ekselsa, bukan kopi sachet.”

#Ekselsa: Kopi yang Jarang Disebut, tapi Bikin Kangen

Sebenarnya, nama Ekselsa (kadang ditulis Excelsa) masih asing di telinga banyak orang. Padahal, ini salah satu varian kopi dari keluarga Liberika. Rasanya unik: ada hint buah kering, ada asam-asam segar, tapi tetap punya body yang kuat. Kalau diminum sore-sore di Wonosalam, ditemani kabut tipis dari Anjarmara, rasanya kayak ikut casting film indie bertema romansa pedesaan.

Wonosalam sendiri punya kondisi alam yang pas buat Ekselsa. Ketinggiannya 800–1.000 mdpl, tanahnya subur, udaranya sejuk. Tanaman kopi di sini tumbuh sambil mendengar kicauan burung dan suara serangga hutan—lebih damai daripada tanaman kota yang tiap hari dihantam asap knalpot.

#Oase Baru bagi Petani

Buat petani, Ekselsa ini seperti oase. Sebelum kopi ini populer, mereka lebih mengandalkan cengkeh, kakao, atau durian. Tapi harga komoditas sering jatuh bangun kayak sinetron stripping. Nah, Ekselsa hadir sebagai harapan baru. Walau produksinya tidak sebanyak Robusta, harganya lebih stabil.

Seorang petani pernah bilang, “Panen Ekselsa itu kayak jodoh. Lama datangnya, tapi kalau sudah dapat, hasilnya manis.” Kalimat ini lebih romantis daripada kata-kata di iklan parfum. Intinya, Ekselsa bikin petani punya alasan tersenyum, meski senyumnya kadang masih sambil mikirin pupuk yang mahal.

Soal luas tanam, Ekselsa memang belum sebanyak Robusta atau Arabika. Di Wonosalam, areal kopi Ekselsa diperkirakan baru puluhan hektare, tersebar di lereng-lereng Anjarmara dan beberapa dusun penghasil kopi. Tapi, jumlah itu terus bertambah. Setiap tahun ada saja petani yang mulai menanam Ekselsa karena melihat harga jualnya lebih bersahabat dan pasarnya mulai tumbuh. Jadi, bisa dibilang Ekselsa ini bukan sekadar tanaman, tapi juga tren baru di kalangan petani muda Wonosalam.

#Cita Rasa yang Susah Dilupakan

Kalau soal rasa, Ekselsa punya kepribadian sendiri. Nggak terlalu pahit, nggak terlalu asam, tapi tetap punya karakter. Ada aroma fruity yang khas, semacam rasa jambu biji bercampur mangga matang. Kadang, ada juga yang bilang rasanya kayak wine tipis-tipis. Intinya, Ekselsa ini cocok buat mereka yang bosan dengan Arabika yang terlalu wangi, atau Robusta yang kadang kelewat kasar.

Di beberapa kafe di Jombang, Ekselsa sudah mulai jadi menu favorit. Biasanya disajikan dengan metode manual brew, biar rasa aslinya keluar. Barista suka bilang, “Ekselsa itu kopi yang bikin penasaran. Sekali coba, pasti pengin lagi.” Kalimat itu sebenarnya promosi, tapi ada benarnya juga.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Dari Lereng ke Gelas

Perjalanan Ekselsa dari kebun ke gelas bukan hal yang instan. Panennya lama, proses pascapanennya ribet. Biji harus dipetik merah, dijemur dengan sabar, lalu diproses dengan metode khusus biar rasanya tetap konsisten. Tapi semua itu sebanding dengan hasil akhirnya.

Di Wonosalam, banyak kelompok tani yang mulai belajar bareng soal cara mengolah Ekselsa. Ada yang bikin produk roasted bean, ada juga yang sudah berani kirim ke luar kota. Bahkan, beberapa komunitas kopi di Jawa Timur sudah melirik Ekselsa Wonosalam sebagai produk khas daerah, sejajar dengan kopi Ijen, Malang, atau Bondowoso.

#Ekselsa, Oase yang Terus Berkembang

Ekselsa mungkin belum setenar Arabika Toraja atau Gayo. Tapi ia punya cerita sendiri. Ia tumbuh dari tanah yang subur, dipelihara petani yang sabar, dan perlahan-lahan jadi simbol baru Wonosalam. Kalau durian jadi ikon musiman, maka kopi Ekselsa bisa jadi ikon sepanjang tahun.

Kopi ini adalah bukti bahwa Wonosalam nggak cuma punya panorama pegunungan, tapi juga cita rasa yang bisa dibanggakan. Jadi, kalau suatu hari kamu jalan-jalan ke Gunung Anjarmara, jangan lupa mampir dan cicipi secangkir Ekselsa. Siapa tahu, kamu bakal jatuh cinta pada oase kecil dari Jombang ini.***

 

Penulis: Supriyadi | Editor: Supriyadi

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *