Lewati ke konten

Penggunaan Biokoagulan Biji Kelor, Kekeruhan Air di Desa Gucialit Lumajang Turun hingga 1,07 NTU

| 3 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Inovasi biokoagulan biji kelor berhasil menurunkan tingkat kekeruhan air di Gucialit hingga 1,07 NTU.
  • Tim mahasiswa Universitas Jember mengenalkan teknologi Bioclare kepada puluhan anggota TP PKK Desa Gucialit.
  • Penerapan serbuk biji kelor membantu mengikat partikel lumpur pemicu kekeruhan air saat musim penghujan.
  • Hasil pengujian laboratorium mencatat kualitas air olahan memenuhi standar baku mutu pada minggu ketiga.
  • Program PKM-PM Bioclare berencana membentuk Pokja Air Bersih guna menjaga keberlanjutan pasokan air warga.

Tim PKM-PM BIOCLARE Universitas Jember 2026 beranggotakan 6 orang dengan rincian

  1. Febriani Marsha Dwi H. dari prodi Penyuluhan Pertanian Fakultas Pertanian sebagai ketua TIM PKM-PM BIOCLARE
  2. Vika Anjani dari prodi Penyuluhan Pertanian Fakultas Pertanian sebagai anggota TIM PKM-PM BIOCLARE
  3. Anisa Dewi Kusumaningrum dari prodi Penyuluhan Pertanian Fakultas Pertanian sebagai anggota TIM PKM-PM BIOCLARE
  4. Indah Dwi Nur Aulia dari prodi Penyuluhan Pertanian Fakultas Pertanian sebagai anggota TIM PKM-PM BIOCLARE
  5. Evelin Feronita dari prodi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik sebagai anggota TIM PKM-PM BIOCLARE
  6. Diah Puspaningrum S.P., M.Si. Dosen Prodi Penyuluhan Pertanian Fakultas Pertanian sebagai Dosen Pembimbing PKM-PM BIOCLARE

LUMPUR dan sedimen kerap memperburuk kualitas air Desa Gucialit, Lumajang saat musim penghujan tiba. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Universitas Jember mengenalkan inovasi pemanfaatan serbuk biji kelor. “Pemanfaatan biji kelor sebagai biokoagulan alami menunjukkan hasil positif menjernihkan air,” ujar tim PKM-PM Bioclare, Sabtum (5/9/2026).

Tim peneliti menggandeng 20 anggota TP PKK Desa Gucialit dalam pelatihan pembuatan biokoagulan. Warga diajarkan mengolah air keruh melalui proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi, hingga filtrasi. “Peserta dilibatkan langsung dalam praktik pembuatan serbuk dan penerapan alat Bioclare,” kata penyelenggara program.

Inovasi tersebut memberikan solusi nyata bagi masyarakat yang kerap kesulitan memperoleh air bersih. Tatik, warga setempat, mengaku tidak lagi khawatir menggunakan air langsung dari sumber desa. “Setelah menerapkan inovasi ini, air menjadi jauh lebih bersih saat musim hujan,” tutur Tatik.

BACA JUGA:  Gempa M 7,7 Guncang Flores, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami untuk NTT, Sulsel, dan NTB
Tim BIOCLARE membandingkan hasil pengolahan air sebelum dan sesudah pemberian biokoagulan di rumah warga setempat. | Foto: Dok

#Penurunan Kekeruhan Air secara Bertahap

Pengujian laboratorium menunjukkan penurunan angka kekeruhan air yang konsisten setiap minggunya. Nilai kekeruhan yang awalnya 3,5 NTU berangsur turun menjadi 3,1 NTU pada minggu kedua. “Hasil pengujian terus membaik secara bertahap sejak pemantauan minggu pertama dilakukan,” jelas tim penguji.

Kualitas air terus meningkat hingga mencapai angka 1,33 NTU pada pemantauan minggu ketiga. Memasuki minggu keempat, tingkat kekeruhan air olahan berhasil menyentuh angka terendah 1,07 NTU. “Hasil minggu ketiga dan keempat telah memenuhi baku mutu 3 NTU,” ungkap Tatik.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Efektivitas pemurnian air ini dipengaruhi oleh dosis biokoagulan serta durasi pengadukan bahan. Tim melakukan pemantauan langsung ke 70 persen rumah anggota PKK yang terlibat kegiatan. “Kami memantau penerapan biokoagulan sekaligus menyampaikan hasil pengujian laboratorium kepada warga,” kata tim peneliti.

Pemahaman warga mengenai pengolahan air bersih juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Rata-rata nilai pemahaman peserta melonjak tajam dari angka 61,5 menjadi 98,5 poin. “Seluruh anggota TP PKK mengalami peningkatan nilai pengetahuan setelah mengikuti sosialisasi,” tegas perwakilan tim.

Tim BIOCLARE melakukan monitoring sekaligus mengambil sampel air untuk mengevaluasi kualitas air setelah pengolahan tersebut. | Foto: Dok

#Langkah Keberlanjutan Program Air Bersih

Meskipun kekeruhan menurun, pengujian laboratorium saat ini masih berfokus pada satu parameter teknis. Tim menegaskan bahwa pengujian tersebut belum mencakup seluruh syarat standar kualitas air minum. “Pengujian belum dapat digunakan untuk menyatakan air memenuhi seluruh syarat air minum,” ujar peneliti.

Keberlanjutan inovasi ini akan diperkuat melalui kolaborasi dengan lembaga kemasyarakatan di tingkat desa. Rencana pembentukan Pokja Air Bersih mulai dirancang di bawah naungan TP PKK. “Program selanjutnya diarahkan pada penguatan kelembagaan mitra demi menjaga keberlanjutan teknologi,” pungkas tim Bioclare.***

BACA JUGA:  Cegah Nasib Seperti Sungai di Jawa, Pemuda Bulukumba Diminta Ambil Peran Jaga Balantieng

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *