- BRKS Banyuwangi mengobservasi dugaan pencemaran Pelabuhan Muncar sejak 31 Agustus 2026.
- Bau menyengat dan pengelolaan limbah cold storage menjadi fokus observasi awal BRKS Banyuwangi.
- Penelitian terdahulu menemukan pencemaran sungai serta beban limbah industri tinggi di Muncar.
- BRKS akan meneliti kualitas lingkungan untuk memastikan kondisi pencemaran terkini kawasan pelabuhan.
- Observasi BRKS mencakup dugaan pembuangan limbah cold storage yang perlu diverifikasi melalui penelitian.
PERSOALAN pencemaran lingkungan di Muncar kembali menjadi perhatian. Building Resilience Kindness Society (BRKS) Banyuwangi sejak 31 Agustus 2026 melakukan observasi lapangan. Fokusnya mencakup bau dan pengelolaan limbah cold storage.
Direktur Program BRKS Banyuwangi, Eka Rimawati, mengatakan observasi masih berlangsung. Timnya mengumpulkan informasi mengenai kondisi lingkungan sekitar pelabuhan. “Sejak 31 Agustus kami masih melakukan observasi, bersama tim hingga hari ini,” kata Eka saat saat memberikan keterangannya, Jumat, (4/9/2026).
Menurut Eka, bau menjadi salah satu persoalan yang diamati. Tim juga mencermati dugaan pembuangan limbah dari cold storage. “Kami melihat kondisi di lapangan, termasuk persoalan bau,” ujarnya.
Eka menegaskan BRKS belum menarik kesimpulan mengenai sumber pencemaran. Dugaan tersebut masih membutuhkan pemeriksaan lebih mendalam. “Pengelolaannya perlu dilihat lebih jauh,” kata Eka.
BRKS telah mengagendakan penelitian dalam waktu dekat untuk memastikan kondisi. Penelitian akan menggunakan pengambilan data dan pemeriksaan terukur. Eka menyebut penelitian diperlukan agar persoalan dapat diketahui secara objektif.
“Dalam waktu dekat sudah kami agendakan penelitian,” ujar Eka. Penelitian tersebut akan melihat persoalan bau di kawasan pelabuhan. Pengelolaan serta pembuangan limbah cold storage juga diperiksa.
Hasil penelitian nantinya akan dibandingkan dengan ketentuan lingkungan berlaku. Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi kualitas lingkungan terkini. “Kami ingin melihat kondisi yang terjadi sekarang,” kata Eka.

#Penelitian Lama Menunjukkan Persoalan Limbah
Persoalan lingkungan Muncar sebelumnya telah diteliti sejumlah akademisi. Salah satunya penelitian Cahyani Indah Wijayanti dan Bambang Hariyanto. Penelitian berjudul “Analisis Tingkat Pencemaran Sungai Akibat Limbah Industri Ikan di Muncar Kabupaten Banyuwangi.”
Penelitian itu memuat survei dan wawancara warga pada 30 Maret 2021. Warga ketika itu melaporkan Sungai Kalimati berbau menyengat. Penelitian juga mencatat kematian ikan serta amfibi di sungai tersebut.
Penelitian tersebut menguji beberapa parameter kualitas air Sungai Kalimati. Parameter yang diperiksa meliputi pH, TSS, BOD, dan COD. Peneliti menggunakan metode deskriptif kuantitatif untuk menganalisis kondisi tersebut.
Kajian lain dilakukan Shella Adella dan Zulis Erwanto. Penelitian berjudul “Kajian Beban Pencemaran Limbah Cair pada Saluran Drainase Pabrik Pengalengan Ikan di Kecamatan Muncar.” Penelitian tersebut dipublikasikan dalam SENTRINOV VII pada 2021.
Kajian itu menyebut limbah cair industri pengolahan ikan mencapai 14.266 meter kubik. Angka tersebut dihitung sebagai potensi limbah cair harian seluruh industri. Penelitian menyebut kondisi itu berisiko terhadap pencemaran lingkungan.
Penelitian tersebut juga menemukan beban pencemaran aktual melampaui beban maksimum. Parameter yang diuji mencakup pH, TSS, BOD5, COD, minyak, dan lemak. Peneliti merekomendasikan pengembangan teknologi pengolahan limbah cair.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Kajian lain menggunakan simulasi WASP terhadap sebaran BOD. Penelitian tersebut dilakukan pada saluran drainase sepanjang 550 meter. Hasil simulasi menunjukkan beban BOD mencapai 10,175–76,256 kilogram perhari.

#Mikroplastik Juga Ditemukan di PPP Muncar
Persoalan lingkungan Muncar juga berkaitan dengan mikroplastik. Penelitian Haginda Galoh Pertiwi dilakukan pada 2024. Tesis tersebut berjudul “Evaluasi Kontaminasi Mikroplastik pada Air, Zooplankton, dan Ikan di PPP Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur.”
Penelitian menemukan mikroplastik pada air, zooplankton, dan ikan. Kawasan PPP Muncar disebut memiliki aktivitas industri cukup tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko pencemaran mikroplastik kawasan pesisir.
Penelitian juga mengidentifikasi jenis polimer pada berbagai sampel. Air ditemukan mengandung LDPE, sedangkan zooplankton mengandung HDPE. Pada ikan, penelitian juga menemukan polimer HDPE.
Hasil penelitian menempatkan bahaya mikroplastik pada level III. Kategori tersebut masuk risiko tinggi berdasarkan Polymer Hazard Index. Namun, indeks PLI dan PERI menunjukkan kategori risiko minor.
Temuan penelitian lama menjadi konteks bagi observasi BRKS saat ini. Namun, hasil penelitian terdahulu tidak otomatis menggambarkan kondisi 2026. Eka mengatakan BRKS tetap membutuhkan data lapangan terbaru.
“Penelitian sebelumnya menjadi rujukan,” kata Eka Rimawati. “Tetapi kami ingin melihat kondisi yang terjadi sekarang,” lanjutnya. Menurutnya, penelitian diperlukan untuk memperjelas persoalan lingkungan Muncar.
BRKS selanjutnya akan mendokumentasikan titik-titik yang menjadi perhatian. Pengamatan akan diarahkan pada sumber bau dan saluran pembuangan. Jika diperlukan, sampel lingkungan akan diperiksa melalui analisis laboratorium.
Eka mengatakan hasil penelitian akan menjadi dasar rekomendasi. BRKS berharap pengelolaan limbah industri dapat berjalan sesuai ketentuan. “Persoalannya bisa diketahui secara lebih jelas,” ujar Eka.
Dengan aktivitas perikanan yang padat, kualitas lingkungan menjadi perhatian penting. Kondisi pelabuhan berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat pesisir. Karena itu, BRKS menilai pemeriksaan berbasis data diperlukan untuk memastikan kondisi lingkungan Muncar.***