- Praktisi Zero Waste Ecoton menegaskan material penyusun popok sekali pakai didominasi plastik sintetis.
- Klaim pengolahan popok bekas menjadi pupuk organik dinilai berisiko tanpa prosedur dekontaminasi ketat.
- Sampah produk higienis global kini menumpuk hingga 200 juta ton setiap tahunnya.
- Tim Ecoton menemukan popok mencemari 37 persen aliran sungai utama di Jawa Timur.
- Peneliti UCL merumuskan tiga strategi utama untuk menekan penimbunan limbah popok dunia.
GAGASAN mengubah limbah popok sekali pakai menjadi pupuk organik menuai keberatan dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton). Praktisi Zero Waste Ecoton, Tonis Afrianto, mempertanyakan dasar penggolongan tersebut mengingat sebagian besar material penyusun popok merupakan bahan sintetis.
“Bahan penyusun popok itu 90 persen adalah plastik,” kata Tonis, Kamis (27/8/2026). Karena itu, ia menyarankan agar produk tersebut lebih tepat dinamai “popok plastik”.
Tonis menjelaskan bahwa urin memang memiliki unsur organik yang dapat dimanfaatkan. Namun, komponen tersebut berada di dalam produk yang didominasi material sintetis, sehingga popok tidak bisa disamakan dengan bahan organik untuk kompos.
Ia juga menolak anggapan bahwa popok dapat digunakan sebagai media tanam. Menurutnya, kesuburan tanaman tidak serta-merta membuktikan keamanan material popok. “Kalau ada orang beranggapan popok bisa dijadikan media tanam, sebenarnya saya tidak setuju,” ujarnya.
#Popok dan Beban Sampah Sungai
Ecoton telah lama memantau persoalan popok sekali pakai. Sejak 2017, lembaga tersebut melakukan penelitian terhadap limbah popok sekali pakai di sepanjang Kali Surabaya, meliputi kawasan Karang Pilang, Gunung Sari, Jagir, hingga Kayun. Dalam salah satu aksi evakuasi sampah selama tiga hari, tim berhasil mengumpulkan sekitar 200 kilogram popok.
Temuan Ecoton menunjukkan popok menyumbang 37 persen dari total timbulan sampah sungai. Angka ini menempatkan popok sebagai pencemar rumah tangga terbanyak kedua setelah sampah plastik yang berada di posisi pertama dengan persentase 43 persen.
Ecoton mencatat produksi popok sekali pakai di Indonesia mencapai sekitar enam miliar unit per tahun, yang semakin memperbesar tantangan pengelolaannya.

Popok yang dibuang ke perairan berpotensi membawa material plastik dan bahan berbahaya ke sungai. Peneliti senior Ecoton, Riska Darmawanti, , sebelumnya menyoroti risiko kandungan kimia seperti dioksin dan ftalat pada popok bayi.
“Selain meningkatkan pencemaran bakteri Escherichia coli, material plastik yang terlepas dan terfragmentasi berpotensi masuk ke dalam rantai makanan,” ujar Riska, sebagaimana dikutip Mongabay, 14 Juli 2017.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
#Klaim Pupuk Perlu Diuji
Perdebatan mengenai pengolahan popok ini mengemuka, seiring dengan meningkatnya perhatian global. Tim Big Toilet Project dari University College London (UCL) memetakan persoalan ini dalam kajian yang diterbitkan di jurnal Nature Sustainability (2026).
Penelitian tersebut memperkirakan akumulasi sampah produk higienis—termasuk popok, produk inkontinensia, dan pembalut wanita—mencapai 160–200 juta ton. UCL memperkirakan lebih dari 300.000 popok dibuang setiap menit, di mana sebagian besar berakhir di TPA, dibakar, atau terbuang ke lingkungan karena minimnya fasilitas persampahan.
Untuk mengatasi persoalan ini, tim UCL menawarkan tiga pendekatan:
- Perubahan Perilaku: Melatih toilet training pada anak lebih dini.
- Daur Ulang Material: Mengembangkan teknologi daur ulang untuk memulihkan material penyusun popok.
- Inovasi Produk: Merancang produk kompostabel yang dapat terurai secara alami setelah digunakan.
Temuan ini menegaskan bahwa tidak semua komponen popok dapat diperlakukan seperti sampah organik. Klaim pengolahan popok menjadi pupuk memerlukan pembuktian ketat, terutama mengenai keamanan residu kimia, material sintetis, dan risiko mikroplastik.

#Risiko bagi Ekosistem dan Kesehatan
Ecoton mengingatkan bahwa dampak pencemaran popok tidak berhenti pada bau yang mengganggu masyarakat. Partikel mikroplastik dari popok yang terurai berpotensi tertelan oleh organisme perairan. Hal ini membahayakan fungsi strategis Kali Surabaya sebagai sumber air baku dan habitat berbagai spesies ikan konsumsi.
Penyediaan fasilitas pembuangan khusus saja dinilai belum menyelesaikan masalah tanpa adanya upaya pengurangan sampah dari sumbernya. Tonis menekankan kembali bahwa keberadaan unsur organik dari urin tidak mengubah fakta bahwa struktur utama popok adalah plastik.
“Oleh karena itu, pengolahan limbah popok harus memperhitungkan seluruh komponen produk secara utuh agar tidak sekadar memindahkan masalah ke tanah atau tanaman,” tegas Tonis.***