- Iran sediakan fasilitas perpustakaan megah di pusat perbelanjaan untuk tingkatkan budaya membaca warga.
- Pendiri YouthLab Indonesia paparkan pengamatan langsung mengenai pengelolaan museum dan ruang publik Iran.
- Masyarakat Iran terbiasa memanfaatkan waktu sore hari dengan membaca serta berpuisi di taman.
- Unggahan video tersebut memicu tanggapan kritis netizen mengenai ketimpangan sarana literasi di Indonesia.
- Publik mendesak pemerintah Indonesia memperkuat kemauan politik untuk membangun sumber daya manusia berkualitas.
PEMERINTAH Iran dinilai sukses membangun ruang publik yang memprioritaskan pengembangan diri masyarakat melalui fasilitas edukasi. Pendiri YouthLab Indonesia Muhammad Faisal membagikan pengamatannya, terkait pengelolaan museum serta perpustakaan di negara tersebut. Ia menyebut, museum sejarah di sana dibangun menggunakan standar internasional yang sangat mewah. Pemerintah Iran, menaruh perhatian besar pada penataan sarana kebudayaan.
Fasilitas membaca dibangun langsung di tengah pusat perbelanjaan terbesar. Pengelola mall menyediakan perpustakaan megah di area utama bangunan. Langkah ini menurut Faisal, sangat efektif mendekatkan akses literasi ke tengah aktivitas ekonomi warga. Pengunjung dapat belanja sekaligus memanfaatkan sarana belajar yang nyaman.
Faisal menegaskan pentingnya prioritas pembangunan fasilitas publik oleh negara. “Yang kalau ditanya pemerintah harus apa? Ya harus membesarkan bukan hanya tempat hiburan bagi anak muda, tapi tempat-tempat di mana anak muda bisa mengembangkan diri,” tuturnya dalam posdcas yang diunggah akun instgram @jimmyoentoro, 26 Agustus 2026. Integrasi museum dan perpustakaan ini, lanjutnya, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di area publik.
Masyarakat lokal juga memanfaatkan taman kota untuk kegiatan produktif setiap sore. Warga berkumpul bersama keluarga sejak pukul tiga sore untuk piknik. Mereka memanfaatkan waktu luang tersebut untuk membaca buku dan berpuisi. Tradisi berpuisi menjadi bagian erat dari kehidupan sosial masyarakat Iran.
Faisal menilai sarana publik di Iran memiliki nilai penting yang relevan untuk diadopsi. “Dan itu kondisi yang saya rasa sangat butuh kita ciptakan. Ruang publik di mana keluarga akhirnya bisa beraktifitas lagi,” tegasnya. Keberadaan ruang terbuka semacam ini menjadi kunci pendukung aktivitas keluarga secara positif.

#Respon Publik dan Apresiasi Budaya Literasi
Unggahan perbincangan tersebut memicu beragam tanggapan hangat dari para warganet di media social itu. Akun @alfaaa.05 menulis, “Tapi dari dulu Iran emang bangsa dengan iq tertinggi di dunia.” Sementara itu akun @awanskunk berkomentar, “Masyarakatnya tetap punya tradisi belajar, membaca, berdiskusi, dan menghargai ilmu.” Publik mengagumi konsistensi bangsa tersebut dalam merawat tradisi keilmuan.
Warganet menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam memfasilitasi potensi masyarakat secara berkelanjutan. Akun @ida_kum_kum berpendapat, “Masya Allah, itulah pentingnya kesadaran dari tingkat pemerintah smp keluarga utk memmncerdaskan warga ya.” Kebijakan publik yang berorientasi pada manusia dianggap sebagai kunci utama pembangunan. Kemauan politik pemerintah menjadi faktor penentu kemajuan suatu bangsa.
Sebagian netizen berharap konsep pembangunan ruang publik tersebut dapat diterapkan di Indonesia. Akun @sincutter menulis, “Yogyakarta sebagai kota metropolitan dan kota pelajar sepertinya bisa menerapkan konsep ini.” Harapan ini menunjukkan kerinduan masyarakat akan hadirnya kota yang ramah literasi. Inovasi tata ruang dianggap perlu meniru keberhasilan negara lain.
Inisiatif lokal juga mulai disuarakan oleh beberapa pengguna media sosial lainnya. Akun @iswadinupin menyampaikan studinya dengan memanggil pejabat daerah Padang untuk mewujudkan konsep serupa. Ia berharap pemerintah daerah tergerak membangun fasilitas edukasi yang memadai. Dukungan pemerintah daerah sangat diperlukan untuk merealisasikan gagasan tersebut.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Kesadaran akan pentingnya perpustakaan mulai tumbuh di tengah percakapan masyarakat digital. Warganet menilai bahwa investasi pada ilmu pengetahuan tidak akan pernah sia-sia. Negara yang menghargai sejarah dan buku akan memiliki generasi penerus yang tangguh. Hal inilah yang membuat Iran tetap diperhitungkan di kancah global.

#Kritik Keras Terhadap Kebijakan Pendidikan Nasional
Diskusi publik ini berlanjut pada perbandingan kondisi sarana literasi di Indonesia saat ini. Akun @sa_nu menulis, “Gak usah terlalu muluk bicara budget deh, ada political will atau muncul dalam visi aja engga ada.” Tanggapan kritis ini mencerminkan kekecewaan publik terhadap arah kebijakan pemerintah. Pembangunan manusia dianggap belum menjadi prioritas utama.
Fasilitas toko buku di pusat perbelanjaan Indonesia sering kali dinilai kurang strategis. Akun @waris_ya_ mengkritik, “Di Indonesia, Gramedia paling ada di ujung mall, bahkan ada di lantai 3.” Posisi toko buku yang terpojok menggambarkan rendahnya apresiasi terhadap akses membaca. Hal tersebut menjadi catatan penting bagi tata kelola ruang publik nasional.
Sejumlah pihak menilai Indonesia perlu memperkuat komitmen pada sektor pendidikan dasar. Akun @jumana_hakimuddin berkomentar, “Entah kapan Indonesia dapat pemimpin yg mencintai rakyat dan negaranya.” Evaluasi mendalam ini diharapkan mampu mendorong perbaikan sarana membaca di seluruh daerah. Rakyat merindukan hadirnya fasilitas publik yang mencerdaskan.
Netizen juga membandingkan prioritas anggaran negara yang dinilai kurang tepat sasaran. Akun @heriyadifebriansyah_03 menyindir, “sedangkan di indonesia, anggaran pendidikan di potong buat MBG.” Kritik ini menegaskan keinginan masyarakat agar sektor pendidikan tetap memperoleh porsi utama. Pemerintah diminta tidak mengabaikan kebutuhan intelektual warga negara.
Perbandingan ini memberikan pelajaran berharga bagi arah pembangunan nasional ke depan. Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas literasi dan karakter manusianya. Indonesia harus segera membenahi fasilitas publik agar mampu mencetak generasi yang kritis. Kesadaran bersama antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci perubahan tersebut.***