- PJT I menaikkan debit Kali Surabaya menjadi 25 meter kubik perdetik setelah busa putih muncul.
- Pemulihan kualitas air dilakukan melalui penggelontoran, pemantauan lima titik, dan pengaturan aliran.
- PDAM Surya Sembada menambah aerasi serta disinfektan menghadapi kualitas air baku yang menurun.
- Sejumlah pelanggan Surabaya masih menerima air keruh dengan endapan cokelat di bak mandi.
- PJT I menduga penurunan kualitas air berkaitan dengan pemadaman kebakaran gudang kawasan Driyorejo.
PERUM Jasa Tirta I (PJT I) meningkatkan debit Kali Surabaya menjadi 25 m³/detik. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul busa putih di permukaan sungai. Debit sebelumnya tercatat sekitar 20 m³/detik sejak Sabtu malam.
Kenaikan debit dimulai Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 21.00 WIB. Pengaturan tersebut ditujukan membantu penggelontoran sekaligus mempercepat pemulihan kualitas air. PJT I juga mengatur tambahan pasokan air dari hulu.
Kepala Sub Divisi Pengelolaan SDA WS Brantas 3 PJT I, Agung Wicaksono, mengatakan langkah operasional langsung dilakukan. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi air sepanjang aliran Kali Surabaya.
“Debit dari Mlirip ditingkatkan menjadi 25 m³/detik untuk membantu penggelontoran,” ujar Agung dalam keterangan tertulisnya, Senin (7/9/2026). Tim juga mengambil sampel kualitas air pada lima titik pemantauan.
Kelima titik tersebut meliputi Hulu Kali Tengah dan Muara Kali Tengah. Pemantauan berikutnya dilakukan di intake Karangpilang, Gunungsari, serta intake Ngagel. Pengambilan sampel dilakukan untuk mengetahui kondisi kualitas air.
PJT I juga menutup sementara Pintu Air Wonokromo untuk pengendalian aliran. Langkah tersebut dilakukan agar air terdampak tidak masuk Kali Mas. Aliran kemudian diarahkan melalui Kali Wonokromo selama penanganan berlangsung.
Agung menyebut pengaturan tata air dilakukan secara intensif dan berkelanjutan. Koordinasi dengan pemangku kepentingan juga terus dilakukan selama proses pemulihan. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keberlangsungan pemanfaatan air baku masyarakat.

#Debit Dinaikkan untuk Membantu Penggelontoran
PJT I menyebut penurunan kualitas air diduga berkaitan dengan pemadaman kebakaran. Kebakaran tersebut terjadi di salah satu gudang bahan baku Driyorejo. Peristiwa kebakaran berlangsung pada Jumat (4/9/2026).
Dalam proses pemadaman, petugas diketahui menggunakan foam atau bahan pemadam berbusa. Lokasi kebakaran berada di sekitar aliran Kali Tengah. Aliran tersebut kemudian bermuara menuju Kali Surabaya.
“PJT I terus melakukan pemantauan kondisi lapangan sekaligus pengaturan tata air,” kata Agung. Pemantauan dilakukan untuk memastikan perkembangan kualitas air setelah kejadian.
PJT I masih melakukan pengambilan sampel guna memastikan keterkaitan tersebut. Hasil pemantauan akan menjadi dasar evaluasi pengelolaan aliran. Pemeriksaan juga diperlukan untuk menentukan perkembangan kondisi kualitas air.
Selain penggelontoran, pasokan air dari hulu turut diatur melalui Waduk Sutami. Pengaturan tersebut dilakukan untuk menjaga kecukupan debit selama proses pemulihan. PJT I menyatakan langkah tersebut mendukung pemulihan kualitas Kali Surabaya.
Kondisi Kali Surabaya menjadi perhatian karena dimanfaatkan sebagai sumber air baku. Aliran sungai tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan air masyarakat Surabaya. Karena itu, perubahan kualitas air berdampak terhadap pengolahan air baku.

#PDAM Tambah Aerasi dan Disinfektan
Manajer Tata Usaha dan Humas PDAM Surya Sembada Surabaya, Louis Andilun Gatu, mengatakan penanganan juga dilakukan. PDAM menerapkan treatment khusus terhadap air baku yang masuk. Bahan kimia tambahan diberikan untuk membantu mengendalikan kondisi mikrobiologis.
“Treatment-nya dengan menambahkan unit aerasi di air baku,” ujar Louis. Aerasi dilakukan untuk meningkatkan kandungan oksigen pada air baku.
Menurut Andilun, PDAM juga menambahkan bahan disinfektan selama proses pengolahan. Bahan tersebut berupa kaporit dan klorin dalam pengolahan air. Penambahan dilakukan sebagai bagian dari penanganan kondisi air.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Kami tambah disinfektan, kaporit sama klorin,” kata Louis. Ia menyebut kondisi air menuju pelanggan mulai berangsur membaik.
Meski demikian, sejumlah pelanggan masih melaporkan air keruh di rumah. Keluhan tersebut muncul setelah perubahan kualitas air Kali Surabaya. Sebagian pelanggan juga menemukan endapan berwarna cokelat pada bak mandi.
Emil (48), warga Menanggal, Gayungan, mengatakan air rumahnya masih keruh. Kondisi tersebut berlangsung sejak Ahad hingga Senin (7/9/2021). Air tampak kekuningan, tetapi tidak menimbulkan bau maupun busa.
“Airnya keruh agak kekuningan, dari kemarin sampai sekarang juga masih,” kata Emil, saat dihubungi, Senin. Ia mengaku tetap menggunakan air tersebut karena membutuhkan untuk mandi.
Emil kemudian memasang kain pada keran untuk menyaring kotoran. Cara tersebut hanya mampu mengurangi tingkat kekeruhan air yang keluar. Kondisi air tetap membuatnya tidak nyaman digunakan sehari-hari.
“Sejauh ini tidak ada reaksi alergi seperti gatal-gatal,” ujar Emil. Namun, warna air membuatnya merasa tidak nyaman ketika digunakan.

#Warga Masih Keluhkan Air Keruh dan Endapan
Keluhan serupa disampaikan Vian (45), warga Jagir Sidoresmo, Wonokromo. Menurutnya, air Senin sudah tidak berbusa dan tidak berbau. Namun, air masih sangat keruh dan meninggalkan endapan cokelat.
“Di bak mandi mengendap butiran tanah warna cokelat,” kata Vian. Ia mengatakan kondisi tersebut berbeda dibandingkan kualitas air sebelumnya.
Vian juga mengaku tidak nyaman menggunakan air untuk mandi dan menyikat gigi. Ia telah melaporkan kondisi tersebut kepada pihak PDAM sejak Ahad. Namun, hingga Senin, kondisi air rumahnya masih keruh.
“Kata pihak PAM memang sedang ada penanganan,” ujar Vian. Ia berharap persoalan tersebut segera selesai agar air kembali normal.
Selama tiga hari, Vian menggunakan air galon untuk menyikat gigi. Air galon juga digunakan untuk mencuci pakaian dan buah. Untuk mandi, ia masih menggunakan air PDAM karena keterbatasan pilihan.
Sementara itu, PJT I memastikan pemantauan kualitas air terus berlangsung. Pengaturan debit juga akan dilakukan sesuai perkembangan kondisi lapangan. Koordinasi dengan pihak terkait menjadi bagian penanganan lanjutan.
Masyarakat juga diimbau melaporkan apabila kondisi air masih keruh. Laporan pelanggan diperlukan untuk membantu pemantauan distribusi air. PDAM menyatakan penanganan dilakukan hingga kondisi pelayanan kembali membaik.***