- Koordinator Petro-Tirta Amalia Fibrianty mengajak generasi muda menjaga kelestarian ekosistem Kali Surabaya dari ancaman pencemaran limbah dan sampah.
- Kondisi Kali Surabaya kini dinilai makin mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan masa lalu yang airnya masih bersih dan asri.
- Hasil pengujian sampel air oleh siswa Adiwiyata SMA Driyorejo mengonfirmasi adanya indikasi penurunan kualitas air di sungai tersebut.
- Ikan lokal berfungsi sebagai indikator biologis alami untuk menyeimbangkan rantai makanan serta mencegah fenomena ledakan populasi alga.
- Program Petro Tirta menginisiasi pembudidayaan benih ikan endemik secara mandiri guna mendukung restorasi ekosistem perairan secara berkelanjutan.
PROGRAM Petro Tirta mengajak generasi muda terlibat menjaga ekosistem Kali Surabaya dari pencemaran. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan tebar ikan bersama berbagai pemangku kepentingan.
Koordinator Petro Tirta Amalia Fibrianty mengatakan kondisi Kali Surabaya perlu mendapat perhatian bersama. Menurutnya, perubahan kualitas sungai semakin terlihat dibandingkan kondisi masa lalu.
Kegiatan tersebut berlangsung di Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jumat (11/9/2026). Acara melibatkan Perum Jasa Tirta I, BBWS Brantas, Ecoton, warga, dan komunitas pelajar.
#Pelajar Temukan Perubahan Kualitas Air
Amalia mengajak pelajar menceritakan pengalaman mereka berinteraksi dengan Kali Surabaya. Ia ingin mengetahui sejauh mana generasi muda mengenali perubahan kondisi sungai.
“Nah, yang anak-anak, ada pengalaman enggak dengan Kali Surabaya?” tanya Amalia. “Ayo, yang tinggalnya dekat Kali Surabaya siapa?”
“Abhi,” jawab sejumlah siswa yang berada di hadapannya.
“Siapa, Abhi?” tanya Amalia kembali.
“Rumahnya sini,” jawab siswa tersebut.
“Iya, pengalamannya apa?” lanjut Amalia.
“Ngambil sampel…” ujar Abhi.
“Oh, ngambil sampel ya, terus gimana hasilnya?” kata Amalia.
“Masih bersih, kalau yang baru-baru ini sudah mulai tercemar,” jawab Abhi.
Abhi merupakan siswa SMA Driyorejo yang tergabung dalam komunitas Adiwiyata. Bersama komunitasnya, ia melakukan pengujian sampel air secara berkala.
Hasil pengujian tersebut menunjukkan adanya indikasi perubahan kualitas air sungai. Temuan siswa itu menjadi bagian dari keterlibatan pelajar dalam pemantauan lingkungan.
Amalia mengatakan generasi muda perlu memahami kondisi sungai melalui pengalaman langsung. Menurutnya, pengetahuan tersebut penting untuk mendorong tindakan pemulihan lingkungan.
Ia juga mengingatkan perubahan Kali Surabaya dibandingkan masa lalu. Dahulu, warga masih menggunakan sungai untuk mandi dan memancing.
Sungai juga menjadi ruang berkumpul masyarakat di sejumlah kawasan. Kondisi tersebut berubah seiring meningkatnya tekanan pencemaran sampah dan limbah.
#Ikan Menjadi Indikator Kesehatan Sungai
Dalam kegiatan tersebut, Amalia menjelaskan fungsi ikan bagi ekosistem perairan. Keberadaan ikan dapat menjadi indikator biologis kondisi kesehatan sungai.
Ikan juga berperan menjaga keseimbangan rantai makanan di perairan. Perannya membantu mengendalikan organisme dan alga agar tidak berkembang berlebihan.
Karena itu, kematian ikan secara massal perlu menjadi perhatian. Peristiwa tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan pada kondisi perairan.
“Fenomena kematian ikan ini bukan hal baru,” ujar Amalia. Ia menyebut penelitian Ecoton mencatat kejadian serupa pada 2025 dan periode sebelumnya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Menurut Amalia, catatan tersebut bahkan menunjukkan kejadian sejak era 1970-an. Kondisi itu memperlihatkan persoalan kualitas sungai memiliki sejarah panjang.
Ia mengingatkan masyarakat tidak mengonsumsi ikan yang ditemukan mati. Ikan tersebut berpotensi terpapar bahan pencemar yang membahayakan kesehatan.

Kali Surabaya memiliki fungsi penting sebagai sumber bahan baku air minum. Karena itu, kualitas perairannya berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat.
Upaya pemulihan kemudian diarahkan pada penguatan populasi ikan lokal. Warga Peduli Lingkungan atau Wadulink bersama Ecoton mendorong restorasi spesies asli.
Program tersebut mencakup pemuliaan dan pembudidayaan ikan lokal. Jenis yang menjadi perhatian antara lain bader, keting, dan wader.
#Petro Tirta Kembangkan Benih Ikan Lokal
Program Petro Tirta mengembangkan pembudidayaan ikan lokal secara mandiri dan berkelanjutan. Program tersebut ditujukan untuk menjawab persoalan keterbatasan benih ikan asli.
Ketersediaan benih menjadi faktor penting dalam program restorasi ekosistem perairan. Pembudidayaan lokal diharapkan mampu menjaga stok ikan untuk pelepasan berikutnya.
Program ini juga menghubungkan konservasi sungai dengan pendidikan lingkungan. Pelajar dilibatkan agar memahami pentingnya menjaga ekosistem melalui kegiatan langsung.
Rangkaian kegiatan di Wringinanom turut melibatkan ratusan pelajar. Siswa sekolah dasar mengikuti perlombaan menggambar bertema lingkungan.
Sementara itu, pelajar SMA mengikuti lomba pembuatan konten video TikTok. Materi kegiatan diarahkan untuk memperkuat kepedulian terhadap kondisi sungai.
Amalia menilai keterlibatan generasi muda perlu dilakukan secara berkelanjutan. Edukasi lingkungan tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran di ruang kelas.
Pengalaman mengambil sampel air menjadi salah satu bentuk pembelajaran langsung. Pelajar dapat melihat perubahan kualitas sungai berdasarkan kondisi yang mereka temukan.
Melalui Petro Tirta, upaya konservasi juga diarahkan pada ketersediaan ikan lokal. Pembudidayaan menjadi bagian penting untuk mendukung keberlanjutan restorasi sungai.
Amalia kemudian menutup sesi edukasi dengan pantun tentang pelestarian Kali Surabaya. Pesan tersebut menjadi penegasan pentingnya keterlibatan generasi muda.
Menurutnya, menjaga sungai membutuhkan kerja bersama berbagai pihak. Pemerintah, pengelola sungai, komunitas, masyarakat, dan pelajar memiliki peran masing-masing.
Upaya pemulihan juga perlu berjalan bersama pengendalian sumber pencemaran. Keberadaan ikan akan sulit dipertahankan apabila kualitas habitat terus mengalami penurunan.
Karena itu, penebaran ikan perlu diikuti pemantauan kualitas air secara berkala. Langkah tersebut penting untuk mengukur keberhasilan pemulihan ekosistem Kali Surabaya.
Keterlibatan pelajar dalam pemantauan menjadi bagian dari pengawasan berbasis masyarakat. Data lapangan dapat membantu memperlihatkan perubahan kondisi sungai secara berkala.
Petro Tirta berharap kegiatan tersebut membangun kepedulian generasi muda. Kali Surabaya diharapkan tetap mampu mendukung kehidupan masyarakat dan keanekaragaman hayati.***