Lewati ke konten

PJT I dan BBWS Brantas, Gandeng ECOTON Tebar Puluhan Ribu Ikan Endemik di Kali Surabaya

| 6 menit baca |Ekologis | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Fio Atmadja
  • PJT I dan BBWS Brantas menebar 13.900 benih ikan endemik untuk memulihkan ekosistem dan keanekaragaman hayati Kali Surabaya.
  • Penebaran benih mencakup 9.000 nilem, 3.000 wader, 500 gabus, 500 bethik, 400 sepat, 400 muraganting, serta 100 sengkaring.
  • Restorasi ekosistem sungai dilakukan karena Kali Surabaya menyuplai 98 persen bahan baku air minum PDAM untuk masyarakat.
  • Aliran Kali Surabaya sepanjang 41 kilometer membentang dari Mlirip hingga Jagir sebagai penopang kehidupan warga tiga wilayah.
  • Kegiatan konservasi dan edukasi lingkungan perairan ini melibatkan ratusan pelajar dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

PERUM Jasa Tirta I dan BBWS Brantas menegaskan peran sentralnya mengelola perairan. Langkah ini diwujudkan melalui pelepasan puluhan ribu bibit ikan di Kali Surabaya. Aksi lingkungan ini dipusatkan di wilayah Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik.

Kegiatan pelepasan benih ikan menjadi langkah konkret pemulihan keanekaragaman hayati perairan. Langkah ini sekaligus mengawal kualitas air dari dampak pencemaran aktivitas manusia. Pasokan air baku harus dipastikan tetap aman bagi seluruh masyarakat.

Dalam aksi restocking ini, petugas menebar berbagai jenis benih ikan endemik. Bibit tersebut mencakup wader 3.000 ekor dan nilem 9.000 ekor. Petugas juga menyebar gabus 500 ekor serta bethik 500 ekor.

Penyebaran benih dilengkapi sepat 400 ekor dan muraganting 400 ekor. Jenis ikan sengkaring turut dilepas sebanyak 100 ekor ke sungai. Seluruh benih ikan endemik diharapkan sanggup tumbuh dan berkembang biak.

Dalam menjalankan tugas mengelola perairan darat, pengelola sungai menggandeng Ecoton. Keterlibatan aktif tampak dari warga desa dan berbagai kelompok masyarakat. Para pelajar sekolah turut hadir menyemarakkan kegiatan pelepasan benih ikan

Staf Teknis Perum Jasa Tirta I (PJT I) Bayu Sasmita menyampaikan pentingnya menjaga kualitas air sungai. | Foto: Supriyadi

#Restorasi Keanekaragaman Hayati Air

Fokus utama aksi restocking adalah mengembalikan populasi ikan lokal non-invasif. Keberadaan habitat aslinya di perairan sungai kini sudah mulai tergerus. Berdasarkan rekomendasi dinas teknis terkait, petugas menebar berbagai spesies endemik.

BACA JUGA:  Ambisi WtE di Tengah Sinyal Merah: Solusi Instan atau Proyek Berisiko?

Bibit yang ditebar mencakup jenis tawes, tombro, gabus, hingga wader. Spesies lain yang dilepas mencakup ikan bader serta ikan keting. Pemilihan spesies lokal sangat krusial guna mencegah ancaman spesies invasif.

Spesies invasif berpotensi merusak keseimbangan rantai makanan alami ekosistem sungai. Staf Teknis PJT I, Bayu Sasmita, menjelaskan mandat utama instansinya. Pelaksanaan acara kolaboratif sejalan dengan tugas PJT I bersama BBWS Brantas.

Selain bertanggung jawab memantau kualitas air, pengelola wajib menjaga kontinuitas pasokan. Mereka harus menjamin ketersediaan kuantitas air baku di badan sungai.

“Pelepasan bibit ikan menjadi salah satu sarana evaluasi kondisi perairan,” kata Bayu pada Jumat (11/9/2026). “Apabila bibit ikan endemik sanggup bertahan hidup, manfaatnya kembali ke warga.”

Bayu menambahkan bahwa agenda pelestarian terwujud berkat kolaborasi lintas instansi. Sektor publik turut memberikan dukungan penuh pada aksi pelepasan benih ikan.

“Pelaksanaan acara merupakan kerja sama PJT I bersama BBWS Brantas,” ujar Bayu. “Kami menggandeng Ecoton didukung berbagai instansi serta pelaku industri sekitar.”

Perwakilan Bagian Hukum BBWS Brantas, Yudhia Abrianto, menegaskan dukungan penuh lembaganya. Langkah ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air.

Yudhia berharap aksi kolektif tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Agenda pelepasliaran benih dan pengawasan sempadan sungai harus dipertahankan secara berkelanjutan.

“Ini indikasi awal untuk berikutnya menjadi agenda rutin setiap tahun,” tegas Yudhia. “Kami selalu mendukung motivasi pergerakan teman-teman Ecoton dan adik-adik.”

Infografis penebaran 13.900 bibit ikan lokal untuk menjaga keanekaragaman hayati Kali Surabaya. | Desain: AI

#Indikator Alami Kesehatan Perairan

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menekankan fungsi penting keberadaan populasi ikan sungai. Populasi ikan berfungsi sebagai bioindikator atau indikator biologis utama perairan. Keberadaan ikan menandakan apakah suatu perairan dalam kondisi sehat atau tercemar.

Dalam struktur rantai makanan, ikan mengonsumsi plankton serta berbagai jenis mikroorganisme. Kehadiran ikan secara seimbang mencegah terjadinya fenomena ledakan populasi alga. Ledakan alga atau algal blooming dapat merusak kualitas air sungai.

BACA JUGA:  Menanti Fajar di Sungai Brantas: Menggugat Nurani Negara di Balik Putusan Inkracht

Fenomena kematian ikan secara massal pernah melanda perairan pintu air Jagir. Kejadian tersebut menjadi sinyal kuat adanya pencemaran serius yang melanggar mutu.

“Ikan adalah cermin kesehatan sungai,” tegas Prigi saat memaparkan kondisi perairan. “Apabila terjadi kematian ikan massal, menandakan ada yang salah dengan air.”

Prigi mengingatkan kembali peran vital Kali Surabaya sepanjang 41 kilometer. Sungai ini membentang melintasi wilayah Mlirip hingga kawasan pintu air Jagir.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Aliran sungai merupakan penopang utama kehidupan masyarakat tiga wilayah,” ucap Prigi. “Sekitar 98 persen bahan baku air minum PDAM disuplai langsung.”

Pengelola sungai bersama Ecoton mendesak seluruh pemilik industri manufaktur sekitar. Para pemilik industri wajib mengolah limbah cair secara ketat sebelum dibuang.

“Kami dari Ecoton sangat senang sekali dan merasa bangga sekali,” ungkap Prigi. “Kita di sini bersama-sama berusaha untuk menyelamatkan sungai kita bersama.”

Prigi menegaskan bahwa keberadaan sungai sangat penting bagi seluruh kehidupan manusia. Manfaat air sungai tidak hanya dirasakan oleh warga Kota Surabaya semata.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada tim Pak Bayu dan Pak Yudhia,” tambah Prigi. Apresiasi disampaikan atas sinergi PJT I dan BBWS Brantas.

Siswa turut terlibat dalam penebaran bibit ikan lokal ke Kali Surabaya. | Foto: Supriyadi

#Edukasi Generasi Muda Perairan

Koordinator Program Petro-Tirta, Amalia Fibrianty, menekankan pentingnya menjaga kelestarian perairan. Pesan ini disampaikannya dalam kegiatan edukasi lingkungan bersama warga dan pelajar. Kali Surabaya melintasi wilayah Driyorejo sehingga penting untuk dijaga bersama.

Amalia menyoroti perubahan kondisi Kali Surabaya jika dibandingkan masa lalu. Dulu, warga kerap memanfaatkan sungai untuk mandi, memancing, hingga berkumpul. Air sungai saat itu masih sangat bersih dan layak untuk digunakan.

BACA JUGA:  Aktivis Lingkungan Korea Selatan Soroti Asap Tahu Tropodo

Saat ini, kualitas air sungai dinilai makin mengkhawatirkan akibat pencemaran. Sampah dan limbah menjadi penyebab utama penurunan kualitas air perairan tersebut.

Perubahan kualitas air dikonfirmasi oleh anggota komunitas Adiwiyata SMA Driyorejo, Abhi. Abhi rutin melakukan pengujian sampel air di sepanjang aliran sungai. Dari pengujian berkala, terindikasi penurunan kualitas air yang mengganggu ekosistem.

Dalam pemaparannya, Amalia menjelaskan peranan kunci ikan sebagai indikator kesehatan. Ikan menyeimbangkan rantai makanan guna mencegah terjadinya ledakan populasi alga.

Kematian ikan massal di pintu air Jagir menjadi alarm keras perairan. Mengonsumsi ikan yang mati akibat pencemaran sangat berbahaya bagi kesehatan.

“Fenomena kematian ikan ini bukan merupakan hal baru,” ujar Amalia. “Penelitian Ecoton mencatat kejadian serupa pernah terjadi sejak era 1970-an.”

Kali Surabaya merupakan sumber bahan baku utama air minum PDAM warga. Wadulink menginisiasi program restorasi ikan lokal melalui kegiatan pemuliaan spesies asli. Pembudidayaan berfokus pada jenis ikan bader, ikan keting, serta wader.

PJT I dan BBWS Brantas bersama Ecoton mendorong program Petro Tirta. Program kolaborasi ini berfokus pada pembudidayaan benih ikan lokal mandiri. Langkah ini menjaga ketersediaan stok bibit ikan endemik masa mendatang.

Pembudidayaan lokal menjadi solusi strategis mengatasi kelangkaan benih ikan asli. Selain fokus pemulihan ekosistem, rangkaian acara diisi kegiatan edukasi generasi muda. Panitia menggelar perlombaan kreatif yang melibatkan ratusan pelajar wilayah Wringinanom.

Siswa tingkat Sekolah Dasar se-Kecamatan Wringinanom mengikuti lomba menggambar tema lingkungan. Pelajar tingkat SMA mengikuti lomba pembuatan konten video pendek platform TikTok.

Kegiatan edukatif dirancang agar generasi muda semakin mencintai lingkungan sungai. Keterlibatan anak sejak dini menjadi investasi sosial masa depan perairan.

Melalui pendekatan edukasi dan aksi nyata, kelestarian Kali Surabaya diharapkan terjaga. Kesadaran masyarakat yang meningkat menjadi benteng utama melindungi sumber air.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *