Aktivis lingkungan Korea Selatan meninjau sentra tahu Tropodo, menyoroti pembakaran sampah plastik yang masih mengancam udara.
Enam aktivis lingkungan asal Korea Selatan yang tergabung dalam International Pollutants Elimination Network (IPEN) mengunjungi sentra produksi tahu di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. Kunjungan itu dilakukan untuk melihat langsung praktik penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar dalam proses produksi tahu oleh sebagian pelaku usaha tahu rumahan.
Rombongan terdiri atas Jina Kwag, Yeram Sing, Hyun Hee Park, Hyo Min Kim, Jina Lee, dan Myonghee Jung. Mereka meninjau area produksi tahu, tungku pembakaran, serta lingkungan permukiman yang selama bertahun-tahun berada dalam sorotan kelompok pegiat lingkungan.
Dari sela rumah produksi itu, asap tipis terlihat keluar dari cerobong. Aroma menyengat dari pembakaran bahan bakar campuran kayu dan limbah plastik masih tercium di sejumlah titik. Kondisi ini memperlihatkan persoalan lama yang belum sepenuhnya terselesaikan di salah satu sentra tahu terbesar di Sidoarjo.
Myonghee Jung mengatakan kedatangannya bertujuan memahami secara langsung situasi lingkungan di Tropodo. Menurut dia, informasi soal pembakaran sampah plastik yang dipakai sebagai bahan bakar telah lama menjadi perhatian jejaring pegiat lingkungan internasional.
“Saya menemukan bahwa di sini mereka menggunakan plastik untuk membuat tahu. Ini lingkungan yang berbahaya. Saya ingin mengetahui dan melihat langsung situasi ini,” kata Myonghee Jung saat meninjau lokasi, Rabu, (20/5/2026).
Pengalaman itu, kata Myonghee, menunjukkan perbedaan cukup tajam antara kondisi pengelolaan lingkungan di Indonesia dan Korea Selatan. Meski begitu, perbandingan tidak mudah dilakukan karena latar sosial, ekonomi, serta pola produksi industri rumah tangga berbeda.

“Saya pikir situasi di Indonesia dan Korea sangat berbeda. Saya tidak bisa langsung membandingkan. Tapi praktik di kawasan perumahan ini sangat menarik, dan saya berharap kondisi ini bisa berubah,” ujarnya.
Dusun Klagen dikenal sebagai sentra produksi tahu rumahan yang menopang ekonomi warga setempat. Kawasan ini berulang kali menjadi perhatian aktivis lingkungan akibat pembakaran limbah plastik yang diduga menghasilkan emisi berbahaya.
Sorotan dari warga Korea Selatan memperlihatkan, isu lingkungan di Tropodo tidak lagi dipandang sebagai persoalan lokal semata. Praktik pembakaran plastik di area industri rumah tangga telah masuk dalam perhatian jaringan internasional yang fokus pada polutan berbahaya dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
#Desakan Solusi dan Pengawasan Pemerintah

Direktur Ecoton, Daru Setyorini, yang menyertai mereka mengatakan praktik penggunaan sampah plastik masih ditemukan pada sejumlah industri tahu skala kecil, termasuk di Tropodo ini.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelMenurut Daru, dari pemantauan di lokasi, sebagian pengusaha memakai campuran kayu dan plastik untuk menjaga biaya produksi tetap rendah. Tapi di wilayah lain, penggunaan limbah plastik bahkan disebut masih berlangsung lebih besar.
“Ternyata di kabupaten ini, Sidoarjo, masih memakai sampah plastik. Tadi ada yang menggunakan campuran kayu dan plastik. Itu tetap menimbulkan dampak lingkungan berbahaya,” kata Daru.
Daru menilai pengawasan pemerintah perlu dilakukan secara konsisten. Penggunaan plastik sebagai bahan bakar, menurut dia, tidak bisa dibiarkan berlanjut tanpa kontrol dan kebijakan yang tegas.
“Pemerintah harus mengendalikan atau mengawasi. Tidak bisa membiarkan praktik seperti ini terus berlangsung,” ujar Daru.

Menurut Daru, penanganan persoalan ini tidak cukup hanya lewat inspeksi atau teguran. Pelaku usaha tahu kecil membutuhkan alternatif bahan bakar yang terjangkau agar tidak kembali memakai limbah plastik.
“Sering kali orang datang, melihat, lalu pergi tanpa memberi solusi kepada pengusaha tahu. Seharusnya ada alternatif bahan bakar yang bisa dijangkau. Kalau plastik dilarang, penggantinya juga harus sebanding dari sisi harga,” kata Daru.
Jejak persoalan lingkungan di Tropodo sebenarnya telah lama tercatat. Pada Desember 2019, IPEN, NEXUS3, ARNIKA, dan ECOTON melakukan riset di Desa Tropodo. Penelitian itu menemukan kandungan dioksin sebesar 200 pg TEQ g-1 lemak pada sampel telur ayam kampung yang diambil dari kawasan tersebut. Angka itu disebut 93 kali lebih tinggi dibanding batas aman yang berlaku di Indonesia.
Temuan tersebut memperkuat kekhawatiran soal dampak pembakaran sampah plastik terhadap rantai lingkungan dan kesehatan warga. Dioksin dikenal sebagai senyawa berbahaya yang dapat bertahan lama di lingkungan serta berpotensi masuk melalui udara, tanah, dan pangan.
ECOTON juga mencatat persoalan sampah impor masih berkaitan dengan rantai limbah plastik di Indonesia. Mengutip data UN Comtrade 2022, Australia menempati posisi pertama pengirim kertas bekas ke Indonesia sekitar 618.878 ton. Amerika Serikat berada di urutan berikutnya dengan 505.508 ton, disusul Belanda, Inggris, dan Italia.
Di Tropodo, asap dari tungku tahu kembali memperlihatkan benturan lama: kebutuhan energi murah bagi industri rumah tangga, lemahnya pengawasan, serta ancaman kesehatan lingkungan yang terus membayangi warga. Kunjungan para aktivis Korea Selatan menambah tekanan moral bahwa persoalan ini terus dipantau dunia luar.***