- Sensus sembilan titik Kali Surabaya menemukan tujuh jenis ikan lokal, sementara nelayan menyebut tangkapan tahun ini lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
- Petro-Tirta Ecoton bersama Petrokimia Gresik menemukan tujuh jenis ikan lokal saat menyusuri sembilan titik Kali Surabaya bersama nelayan.
- Tujuh jenis ikan lokal ditemukan dalam sensus Kali Surabaya, termasuk rengkik, bader, palung, keting, jendil, dan montho.
- Hasil sensus menunjukkan ikan lokal masih ditemukan di Kali Surabaya, dengan nelayan mencatat peningkatan jumlah tangkapan tahun ini.
- Keterlibatan nelayan membantu sensus mencatat keberadaan tujuh jenis ikan lokal sekaligus memantau perubahan ekosistem Kali Surabaya tahun ini.
TIM Budidaya Ikan Petro-Tirta Ecoton bersama Petrokimia Gresik menemukan tujuh jenis ikan lokal. Temuan itu diperoleh melalui sensus di sembilan titik Kali Surabaya, dari Perning hingga Sumberame.
Sensus dilakukan dengan menyusuri aliran sungai dan menangkap ikan menggunakan jaring. Kegiatan tersebut melibatkan Komunitas Nelayan Sekar Mulyo, Dusun Paras, Desa Turi, Jombang.

Tujuh jenis ikan yang ditemukan terdiri atas rengkik, jendil, bader merah, bader putih, palung, keting, serta montho atau nilem.
Salah satu anggota Komunitas Nelayan Sekar Mulyo, Paringono, menyebut hasilnya menggembirakan. Ia mengatakan jumlah ikan tahun ini cenderung meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Sekali tebar jaring ada 12 ikan terjaring. Tahun ini lebih banyak ikan yang didapat dan ada semua jenis. Tahun ini lebih banyak ikan rengkik yang kita dapat,” kata Paringono.
#Tujuh Jenis Ikan Ditemukan
Jenis ikan yang ditemukan menunjukkan masih adanya ikan lokal di sungai. Temuan tersebut kemudian didata sebagai bagian dokumentasi keanekaragaman ikan Kali Surabaya.
Rengkik atau Hemibagrus nemurus menjadi salah satu ikan yang ditemukan. Jenis lainnya ialah jendil, bader merah, dan bader putih.
Bader merah memiliki nama ilmiah Barbonymus balleroides. Sementara bader putih dikenal dengan nama Barbonymus gonionotus.
Tim juga menemukan palung (Hampala macrolepidota) dan keting (Mystus nigriceps). Satu jenis lainnya ialah montho atau nilem (Oxyeleotris marmorata).

Identifikasi tersebut menjadi bagian penting dalam pencatatan ikan lokal. Data lapangan dapat digunakan untuk memantau keberadaan ikan dari waktu ke waktu.
#Sensus Melihat Kehidupan Dalam Sungai
Koordinator Program Petro-Tirta, Amalia Fibrianty, mengatakan sensus memiliki tujuan ekologis. Menurutnya, kondisi sungai perlu dilihat melalui kehidupan biota perairan.
“Sensus ikan ini penting karena kita tidak hanya melihat kondisi sungai dari kualitas airnya, tetapi juga dari kehidupan yang ada di dalamnya,” ujar Amalia.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelIa menyebut keberadaan ikan lokal dapat memberikan gambaran fungsi habitat. Keberagaman ikan juga menjadi bagian penting dalam melihat perubahan ekosistem sungai.

“Keberadaan dan keberagaman ikan lokal menjadi salah satu tanda bahwa Kali Surabaya masih memiliki fungsi sebagai habitat bagi biota perairan,” katanya.
Amalia menegaskan ikan lokal perlu dijaga agar tetap bertahan. Perlindungan tersebut membutuhkan perhatian berbagai pihak yang berkepentingan.
#Pengetahuan Nelayan Melengkapi Data
Keterlibatan nelayan menjadi bagian dari metode pengamatan lapangan tersebut. Mereka memiliki pengalaman langsung mengenai perubahan populasi ikan sungai.

“Nelayan adalah masyarakat yang paling dekat dan berinteraksi langsung dengan sungai,” kata Amalia.
Menurutnya, pengetahuan nelayan dapat melengkapi hasil pengamatan ilmiah. Informasi tersebut mencakup jenis ikan dan perubahan yang terjadi.
“Pengetahuan mereka tentang jenis ikan dan perubahan yang terjadi di sungai sangat penting untuk melengkapi data ilmiah,” ujarnya.
Sensus ini diharapkan menjadi kegiatan pemantauan yang dilakukan berkelanjutan. Hasilnya dapat membantu mendokumentasikan kondisi ikan lokal Kali Surabaya.
“Harapannya, sensus ini tidak berhenti sebagai kegiatan pendataan, tetapi menjadi langkah bersama untuk melindungi ikan lokal dan menjaga Kali Surabaya,” kata Amalia.***